Senin, April 20, 2026

Sajak-Sajak Indah Rufaidah Rasyid

Agustus 2022
Oleh: Redaksi

Merajut Asa Menepis Pilu

 

Jangan pernah pasrah dan jemu

Panjatkan doa memohon restu

Sinsingkan lengan baju ke bahu

Tetap dan sabar Tuhan penentu

Mengharap kait rajutkan baju

Untuk menutup kisah yang pilu

Menuju esok yang tidak semu

Walau rintangan datang menderu.

Tabuhkan gendrang bangkit asamu

Pertanda deru angin bahagia

Walau tlah senja dimakan waktu

Buka belenggu tanda perkasa.

Boleh mengenang masa yang lalu.

Tak boleh pilu sepanjang masa.

Karena kita orang berilmu

Mari menuju menggapai asa

Suara hati

Tatkala senja mulai menepi

Suasana hati gundah gulana

Seakan semua tiada berarti

Meski terpatri bagai lentera

Ternyata perjalanan bukan sampai di sini

Dermaga menanti nun jauh di sana.

Berharap resah di dalam hati

Kiranya llahi maha kuasa.

Genderang petang tinggalkan pagi

Naluri hati cemara senja

Semangat datang di relung hati

Bukan alibi tetapi nyata.

 

Belenggu Hati

 

Mulai pagi hujan tak henti

Seakan-akan kita bersemedi

Dalam paguyuban naluri hati

Melintasi perjalanan di dalam sepi

Sesekali cakrawala memang terbuka

Namun tak terkolaborasi

Karena suasana hati yang tak berdaya

Untuk keluar dari tirani besi.

Andai aku mampu meraih asa

Akan kurajut berjuta mimpi

Meskipun waktuku tinggal sedupa

Tak pernah pasrah tuk menghadapinya.

 

Paya Cicem

 

Suasana alam di Paya cicem

Negeri sandusen pancaran warna

Tak banyak yang tahu rentang sejarah

Pang Nanggroe geledah marsose perkasa

Seorang panglima dalam sejarah

Bersimbah darah tikam Belanda

Menikam macan negeri bedebah

Hingga berlimpah hasil negara.

Sebait puisi bukti sejarah

Jaga marwah pusaka bangsa

Jangan kebiri bukti telah sah

Bagai ijazah Pase mulia.

Berjejer terpatri bukti sejarah

Makam penjajah Belanda di sana.

Di Panton labu kota sejarah

Walau diubah sejarah nyata.

 

Tentang Penulis. Dra.Rufaidah Rasyid, S.Ag, M.Si, kerap dipanggil dengan sebutan Aida, telah memulai aktivitas menulis sejak masih di SMA. Sayangnya belum sempat dibukukan. Sehingga karya-karya seperti puisi dan essaynya belum terdokumentasi dengan baik.

Selain menulis, Aida juga pernah menjadi penyiar RRI Banda Aceh, lebih kurang selama 13 tahun. Aida juga sering tampil sebagai pemantun lokal, maupun nasional, aktif sebagai Master of Cerimony dengan kolaborasi beberapa bahasa ,sekaligus sering menjuarai baca puisi di berbagai event.

Aida bahkan menjadi dosen publik speaking di beberapa Universitas, penulis pantun, juga pernah  jadi moderator Dunia Melayu,  Dunia Islam dan moderator berbagai event di Aceh dan Malaysia

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist