Opini · Potret Online

Belajar Kejujuran di Sekolah?

Penulis  Tabrani Yunis
Maret 8, 2025
9 menit baca 364
Belajar Kejujuran di Sekolah? - 6EE80D17 C241 43E5 9200 16150F06B3ED | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiIlustrasi oleh AI

Pertama, terjadinya krisis integritas di lingkungan sekolah. Krisis ini biasanya disebabkan oleh seringnya terjadi praktik ketidakjujuran atau kecurangan yang dianggap kecil dan sepele, seperti dalam pelaksanaan evaluasi atau ujian. Mencotek adalah kebiasaan yang dianggap sepele atau kecil dan terjadi secara berulang-ulang setiap tahun, Ketika musim ujian tiba. Selain karena tindak contek, juga sering dipraktikan oleh pihak-pihak yang ingin mencari keuntungan dengan membocorkan soal, atau karena alasan manusiawi membantu siswa saat ujian. 

Bukan hanya itu, selama ini juga semakin membudaya kegiatan-kegitan yang bernuansa manipulative dalam membangun citra sekolah. Caranya adalah dengan kegiatan-kegiatan lomba yang dijadikan sebagai ukuran prestasi sekolah. Dalam kegiatan ini sering terjadi manipulasi nilai, adanya upaya pihak sekolah memanipulasi nilai untuk meningkatkan prestasi sekolah yang tidak mencerminkan kemampuan sesungguhnya. Apalagi selama ini, model pencintraan sekolah lewat berbagai lomba yang pemenangnya bisa dimanipulasi.

Ke dua, terkait penggunaan dana di sekolah. Banyak sekali kasus yang menjadi komoditas berita di media tentang kasus manipulasi atau ketidakjujuran dalam mengelola anggaran atau dana di lingkungan sekolah, seperti kasus-kasus dana BOS, biaya masuk sekolah setiap musim penerimaan siswa baru, uang les dan donasi-donasi resmi dan tidak resmi lainnya.Jadi Ketika sekolah tidak dikelola dengan jujur, banyak kasus penyelewengan, termasuk melayani siswa masuk lewat jalur khusus, atau diterima lewat pintu belakang ataukarena takut dengan atasan, sehingga menerima siswa masuk lewat jalur khusus dengan maksud tertentu. Bila sekolah saja dikelola dengan tidak jujur, maka pertanyaannya kejujuran apa yang bisa ditanamkan kepada peserta didik?

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...