Dengarkan Artikel
Kebangkrutan ini akan membuat aspirasi dan hajat hidup rakyat Aceh bahkan untuk tingkat paling dasar sekalipun akan sulit terpenuhi. Ini beresiko dan akan menjadi beban yang berpontesi melahirkan kekecewaan, ketidakpercayaan, berakumulasi menjadi frustasi, protes, dan turbulensi sosial sampai memicu ketegangan dan gesekan veritkal-horizontal.
Kedua, road to chaos (menuju kakacauan). Turbulensi dan frustrasi sosial yang tak tertahankan akibat beban dan tekanan hidup imbas wanprestasi pembangunan berpotensi meledak menjadi amarah sosial. Amarah ini bisa ditumpahkan dalam berbagai bentuk ekpresi destruktif. Dengan karakter dan tipikal orangnya yang sangat militan, tentu Aceh adalah contoh Istimewa jika dilihat dalam hal sejauh mana kemungkinan ini terjadi.
Ketiga puncaknya yang paling buruk, road to collapse (menunju kehancuran). Sangat mungkin sistem akan jatuh dan mengalami gagal fungsi, membawa Aceh ke jurang instabilitas berkepanjangan sebagaimana pernah terjadi.
Kita sangat tidak berharap kisah kelam ini berulang. Cukup sudah. Karena itu tidak ada pilihan lain selain diperlukan upaya dan komitmen sungguh-sungguh terutama pada tingkat kepemimpinan politik di Aceh untuk mencegah skenario buruk ini terjadi.
Strateginya tentu tidak bisa lagi dengan cara-cara biasa, yang memang telah terbukti gagal. Strategi dan formula baru dan berbeda dalam rangka perbaikan dan pembenahan tata kelola pembangunan Aceh ke depan sudah harus diterapkan. Langkah ini penting dilakukan oleh pemimpin Aceh untuk menjadi antitesa dari kesia-siaan dan kegagalan pembangunan Aceh yang selama ini terjadi.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





