Dengarkan Artikel
Trend Negatif
Pembangunan Aceh secara umum mengalami problem yang cukup akut akibat kelindan antara berbagai faktor politis dan teknis, membuat pembangunan di daerah ini terkhusus bidang ekonomi mandeg dan minus prestasi.
Tata kelola pembangunan Aceh selama ini hanya sebatas menonjol pada tingkat manajemen pengendalian proyek/kegiatan, tapi masih sangat lemah dalam visi, diplomasi, dan manajemen pengembangan program, padahal Aceh memiliki segala potensi, sumberdaya, momentum, dan peluang.
Akibatnya terjadi gap yang cukup besar dalam capaian pembangunan Aceh, antara realisasi anggaran dengan hasil dan dampak pembangunan, antara input-output dengan outcome-impact pembangunan.
📚 Artikel Terkait
Inilah sesungguhnya punca dari anomali terbesar pembangunan Aceh selama ini : anggaran pembangunannya besar, tapi terus berkutat sebagai daerah termiskin.
Aceh kini berada di titik genting. Di satu sisi beban pembangunan semakin berat, sementara di sisi lain kapasitas fiskalnya malah semakin menurun. Mirisnya trend ini sudah membentuk pola. Artinya tidak lagi insidentil, acak, dan parsial, tetapi telah menjadi kegagalan yang terpola, meluas, sistemik, dan berketerusan.
Jika tidak ada langkah konkret mengamputasi pola negatif ini, sekadar mengingatkan, maka ada tiga kemungkinan terburuk yang akan dihadapi Aceh, cepat atau lambat : Pertama, road to bankrupt (menuju kebangkrutan) yang pada tingkat tertentu memang sudah terjadi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





