Dengarkan Artikel
Tak tahan, Zulaikha segera menangis dengan menabrak bahu si pria tua. Tak pelak, hal itu membuat kekagetan penghuni kamar. Dila bangkit dan berteriak menyebut namanya.
“Zulaikha?” Si pria tua mengulang dengan mata nanar tak percaya.
Zulaikha berlari ke lantai atas. Ia buka pintu tanpa sebuah kepedulian. Tak dinyana angin hebat dari badai bercampur guntur segera menghantamnya. Deru hujan berdesing seumpama peluru terjun tajam menyakitkan wajah. Tubuh Zulaikha hampir terbang karena itu. Masih dalam tangis dan kalut, tangannya mengunci pada satu lengkungan besi pembatas. Dalam ketersentakan wujud, nuraninya berkecamuk dan mungkin melebihi topan yang menerjangnya malam ini.
“Zulaikha, putriku. Tunggu!!!!” teriak pria tua yang ikut memburu.
“Berhenti di sana, Pak. Berhenti!!! Atau Zulaikha terjun!”
Si pria tua yang tak lain adalah ayah kandung Zulaikha mengikuti dengan kekhawatiran mendalam.
“Baik, Zulaikha. Baik. Bapak turuti kamu, jangan nekad Nak.”
“Mengapa harus Zulaikha, Pak. Mengapa sengsara ini tak berujung” teriaknya yang lebih terdengar seperti erangan.
Dila dan sahabat yang lain bahkan Bunda Ajeng juga muncul. Semua membujuk agar Zulaikha tenang dan mau bicara baik-baik.
Badai masih mengamuk hebat. Dila dan Mirna kian cemas menatap bongkahan kargo yang bergeser ke kiri dan ke kanan dipermainkan angin dan gelombang.
“Bapak macam apa yang menghilang dan meninggalkan putrinya tanpa keingintahuan apakah ia mati atau tidak. Zulaikha ringkih Pak!!!”
📚 Artikel Terkait
“Maafkan, Bapak Zulaikha” getar pria itu bersimpuh memohon ampun.
“Cukup, Zulaikha. Semua bisa kita musyawarahkan. Segera ke sini, jangan nekat begitu!!!” teriak Bunda Ajeng. Di tengah mediasi yang alot tersebut tiba-tiba..
Doooaarrr!!
Sebuah ledakan besar terjadi pada ruang palka. Getar hebat segera menjalar seperti gempa. Semua terdorong dan hampir terlempar ke laut. Sirine berbunyi tanda keadaan genting dan waspada.
Malam itu perkasa samudera aromakan kematian yang selimuti seluruh penghuni kapal. Angin berkecamuk menguarkan murka ke langit yang berkabut. Debur gelombang terjang dan hantami seluruh badan kapal. Kargo kian abnormal yang berujung luruh dan satu persatu jatuh tenggelam ke dasar laut. Para ABK semua keluar dengan roman kecemasan.
Ayah Zulaikha segera berlari ke putrinya yang terduduk dan shok.
“Bapak ada untukmu, Nak. Tenanglah. Bencilah engkau setelah ini. Tapi sekarang kau harus selamat. Kuantar kau dan sahabatmu ke sekoci.”
Zulaikha yang bingung dengan suasana jiwanya antara marah, takut, dan senang karena puluhan tahun ia tak merasakan pelukan seorang ayah lantas hanya bisa terus menangis. Sang ayah mengerti itu.
Dengan dipapah dalam sapuan hujan dan guntur, Zulaikha dan rombongan langsung diarahkan mendekati sekoci.
Dari ujung dinding kapal, Nahkoda melalui pengeras suara segera mengumumkan untuk dilaksanakan evakuasi.
“Minta bos untuk jemput pake heli saja!” sergah Bunda Ajeng.
“Tak mungkin. Topan hebat begini tak akan ada heli yang berani datang!” timpal ayah Zulaikha.
“Bapak, Zulaikha mau pulang. Zulaikha takut. Ayo kita pulang.”
Ayah Zulaikha erat peluk sang putri. Enggan baginya membiarkan Zulaikha berlarut menggigil karena dingin malam dan ketakutan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





