Kedermawanan Melebihi Angin Berembus

Dalam kitabnya Syarh Nawawi ‘ala Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang di maksud dengan “Nabi lebih dermawan daripada angin yang berembus” adalah dalam hal kecepatan dan menyeluruhnya kedermawanan beliau ﷺ, sehingga menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk berjuang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadan–dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Untuk bisa sampai tingkatan “kedermawan melebihi embusan angin” ini sangat tidak mudah, karena para dermawan kelompok ini selalu memberikan bantuan tanpa syarat, tanpa terms & conditions. Cara pandang mereka yang selalu berprasangka baik kepada orang lain. Seperti dicontohkan Nabi ﷺ.
Begitu muncul setitik keraguan atau sekelebat syakwasangka terhadap motif orang yang meminta bantuan, maka status “kedermawan melebihi angin berembus” tak akan bisa dicapai mereka yang berderma.
2/
Pada Januari 2009, Universitas Notre Dame meluncurkan Science of Generosity Project dengan dana hibah USD5 juta dari Yayasan John Templeton. Kedermawanan didefinisikan sebagai “keutamaan dalam memberikan hal-hal baik kepada orang lain secara cuma-cuma dan berlimpah ( the virtue of giving good things to others freely and abundantly). Hal-hal baik itu bisa berupa materi (uang, makanan, kendaraan, dst) atau non-materi (memberikan perhatian dan dukungan moral, empati dan simpati, memberikan waktu untuk mendengarkan, dst).
Riset itu menemukan bukti bahwa kedermawanan memiliki efek positif bukan hanya terhadap penerima, melainkan juga terhadap pemberi derma dalam bentuk kesehatan psikologis (peningkatan harga diri, vitalitas dan kualitas hidup yang lebih baik), kesehatan fisik (kebugaran tubuh membaik dan menurunkannya risiko meninggal dunia lebih cepat), hubungan sosial (kebahagiaan dan rasa damai). Jika pemberi dan penerima derma berada dalam satu lingkungan kerja atau kantor yang sama, efek positifnya terlihat pada berkurangnya kelelahan kerja ( job burnt out) secara signifikan.
Sementara dari perspektif umum teori kedermawanan ( theory of generosity) terdapat postulat bahwa sikap derma meningkatkan kadar bahagia bagi yang melakukannya. Ingin bahagia? Berdermalah. Ingin lebih bahagia? Lebih sering berderma. Sesederhana itu.
3/
Pada satu hari melalui kisah yang diriwayatkan Abu Dzar al-Ghifari r.a., beberapa orang miskin curhat kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang betapa enaknya menjadi orang-orang kaya. “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya membawa pahala yang banyak, mereka salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (yang tak kami punya).”




















