Dengarkan Artikel
Dahulu, Jamila begitu aktif di sekolah. Mendapat peringkat dua di SD selama enam tahun berturut-turut, juga berhasil meraih juara pertama di SMP dan mendapat nilai paling banyak seluruh angkatan. Saat SMA, nilai Jamila jadi turun ke lima besar karena saingannya sudah lebih berat. Tetapi, justru itu yang disayangkan.
Perempuan itu tidak bisa melanjutkan kuliah karena ekonomi, mau mengurus beasiswa pun ibunya menolak dengan alasan, “Beasiswa tidak penuh. Katakan saja ditanggung pemerintah, lalu bagaimana tempat tinggal mu? Kendaraan mu? Makan sehari-hari mu? Pakaian mu? Ibu tak punya uang sepeserpun, harus mengurus dua adik mu yang belum selesai sekolah.”
Tak salah, tak bisa disalahkan. Benar perkataan ibunya dan Jamila akhirnya menyerah untuk berkuliah. Akbar tahu itu lebih dari siapapun.
“Akan ada kesempatan kok, Jamila,” gumam pria itu pelan. Tak bisa ditangkap oleh telinga Jamila sedikitpun karena perempuan itu sedang asik tersenyum menatap tiga anak kecil lari-larian mengejar balon yang dibawa lari oleh orang bercostum badut di seberang.
Saat mereka duduk di bangku taman kota, Akbar menatap langit dengan mata yang terlihat lebih sayu dari biasanya. Ia tersenyum, tapi di balik senyum itu ada rahasia yang menyesakkan. Napasnya terasa berat, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya.
“Sayang…” Akbar meremas jemari Jamila, berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya. “Aku janji, aku bakal jadi suami yang lebih baik buat kamu.”
Jamila tersenyum, tak menyadari mata suaminya yang sedikit berkaca-kaca.
Di saku jas mahal yang ia sewa, sebuah amplop putih terlipat rapi. Isinya adalah hasil pemeriksaan terakhir dari dokter—kanker paru-paru stadium empat.
Dan waktu yang tersisa… semakin menipis.
Anugerah Tuhan tak pernah salah alamat.
Atau, malah musibah?
Ting … ting … ting ….
Bunyi lonceng terdengar tiga kali di telinga kanan Jamila kala menatap tubuh yang terbaring di samping ibu mertuanya yang kini menangis. Akbar ditutup dengan kain batik, terlihat kepala dan hidung yang sudah disumpal kapas.
📚 Artikel Terkait
Lima hari yang lalu, ketika hari ulangtahunnya, Akbar tampak sehat, tersenyum, tertawa, dan memberikan hadiah hangat untuk Jamila yang tak pernah bisa wanita itu lupakan seumur hidup.
Namun, hari ini, sosok penuh cinta itu telah tiada, tak bernyawa karena Jamila baru tahu bahwa suaminya didiagnosa kanker paru stadium empat.
Setiap batuk yang tertahan, setiap nyeri yang disembunyikan, Akbar jalani dengan senyuman yang dipaksakan. Ia tak ingin Jamila tahu, tak ingin melihat mata istrinya basah oleh air mata kesedihan. Biarlah waktu yang berbicara, biarlah cinta mereka berjalan seperti biasa—tanpa beban, tanpa duka yang lebih awal datang.
“Nak, suami mu menitipkan ini.”
Jamila memegang amplop itu dengan tangan gemetar. Namanya tertulis rapi di bagian depan dengan tulisan tangan yang begitu ia kenal—tulisan Akbar. Napasnya tersengal, dadanya sesak. Ia menelan ludah, mencoba menahan gelombang perasaan yang tiba-tiba menyerangnya.
Perlahan, ia membuka surat itu. Kata-kata Akbar mengalir di atas kertas, penuh kasih, penuh harapan. Tapi yang paling menghantamnya adalah kenyataan bahwa ini adalah surat perpisahan. Akbar telah pergi. Selamanya.
Matanya mulai panas, dan sebelum ia sempat membaca lebih jauh, air mata sudah jatuh, membasahi huruf-huruf yang Akbar tinggalkan untuknya. Akbar menyuruhnya untuk mengejar impiannya. Memintanya untuk tidak melupakan Arya, putra mereka. Dan yang paling menyakitkan, Akbar meminta maaf—seakan kepergiannya adalah sesuatu yang bisa ia kendalikan.
Jamila menggigit bibirnya, menahan isakan yang hampir pecah. Tubuhnya melemah, lututnya terasa goyah. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Tapi lebih dari segalanya, ia ingin Akbar kembali.
Namun ia tahu, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan. Jadi ia mendekap surat itu ke dadanya, membiarkan tangisnya pecah dalam keheningan malam. Surat terakhir dari Akbar bukan hanya perpisahan, tetapi juga amanah—dan Jamila harus menemukan kekuatan untuk menjalankannya.
Untuk Jamila, perempuan yang selalu kucintai.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah tidak lagi di dunia ini. Aku menulisnya dengan hati yang berat, bukan karena aku takut mati, tapi karena aku takut meninggalkanmu dalam kesedihan. Aku tahu betapa kuatnya dirimu, tapi aku juga tahu betapa hatimu rapuh dalam mencintai.
Jamila, aku ingin kau bahagia. Aku ingin kau melanjutkan hidupmu tanpa menoleh ke belakang dengan penyesalan. Cita-citamu, impian yang selalu kau ceritakan padaku—kejarlah. Jangan biarkan apa pun menghentikanmu, termasuk rasa kehilangan ini. Aku selalu percaya bahwa kau ditakdirkan untuk sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang indah.
Dan tentang Arya… Aku menitipkannya padamu. Jangan pernah merasa sendiri, karena dia adalah bagian dari kita berdua. Ia butuh ibunya, seperti aku dulu selalu membutuhkan kehangatanmu. Didiklah dia dengan cinta, dengan keberanian. Jangan biarkan kepergianku membuatnya kehilangan cahaya.
Aku juga ingin meminta maaf, Jamila. Maaf karena aku tidak bisa menepati janji untuk selalu ada di sisimu. Maaf karena aku meninggalkanmu dengan luka. Jika aku bisa memilih, aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Tapi Tuhan punya rencana lain.
Jadi, jika kau merindukanku, jangan habiskan waktumu dalam kesedihan. Lihatlah Arya, dan kau akan menemukan aku di matanya. Lanjutkan hidup, Jamila. Untukmu, untuk Arya, dan untuk cinta yang tidak akan pernah mati.
Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya.
– Akbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





