Dengarkan Artikel
Genzi terus melakukan aksinya sampai kemudian terdengar suara tembakan, dan dia pun spontan berhenti serta melirik ke belakang. Ia terkejut saat melihat sudah ada empat laki-laki berpakaian serba hitam. Mereka semua memegang pistol, dan salah satu yang berkumis mengarahkan senjatanya tepat ke kepala Genzi.
“Sudah cukup.” kata pria berkumis itu.
Genzi menatap pria itu dan membalas, “aku mengenalmu.”
“Baguslah. Jadi aku tak perlu memperkenalkan diri lagi.”
“Kau memang polisi atau apa pun itu aku tidak peduli. Jika kau ingin menangkapku, biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan wanita ini dulu. Aku harus memberinya pelajaran.”
“Kau tau…?” ucap si pria berkumis yang juga dikenal sebagai polisi, “sejujurnya, aku tidak tertarik menangkapmu — tapi membunuhmu.”
Ucapan pria itu membuat Genzi berdiri menghadapnya. Kedua mata lelaki itu menyorot sosok bersenjata tersebut dengan penuh gejolak amarah.
“Apa maumu?” tanya Genzi.
Pria berkumis itu lantas menurunkan bidikan pistolnya. Ia memgumbar senyuman tipis dan menjawab, “bebaskan perempuan itu, lalu aku akan membunuhmu.”
“Kenapa aku harus membebaskannya? Kau tau apa yang sudah dilakukan oleh wanita ini?”
“Tentu saja. Dia sudah menyebar berita tentang perselingkuhan istrimu.”
“Jika kau tau, lalu kenapa masih menyuruhku membebaskannya?”
“Karna dia istriku.” jawab si pria berkumis.
📚 Artikel Terkait
Genzi semakin geram mendengar ucapan pria itu. Seandainya dia punya senjata, ia pasti sudah menembak orang tersebut.
“Jadi, kau datang ke sini untuk menyelamatkan istrimu? Lantas bagaimana dengan istriku yang sudah tewas?” tanya Genzi.
“Itu urusanmu. Yang jelas, jika kau masih menyentuh istriku, tak ada ampunan bagimu. Aku tetap membunuhmu tapi dengan cara yang lebih sadis.”
Percekcokan mulut antara Genzi dan pria berkumis berlarut panjang. Keduanya saling melempar makian dan tak ada tanda-tanda berhenti. Genzi sendiri semakin panas saja karena istrinya diolok-olok sebagai perempuan murahan yang mencuri suami orang lain.
Ketika situasinya semakin tidak terkontrol, pria berkumis menembaki lengan kanan Genzi.
Doorrr
Genzi spontan mengerang sembari memegangi lengannya yang mulai merembesi darah.
“Lepaskan istriku!” ujar pria berkumis.
Bukannya menuruti permintaan si pria berkumis, Genzi malah menarik istri orang itu dan mencekik lehernya dari belakang. Dia sama sekali tidak peduli terhadap lengannya yang sudah terluka.
“Aku akan melepaskan istrimu — tapi setelah aku membunuhnya.” kata Genzi.
Genzi lantas mencekik leher Azkiya dengan lebih brutal. Hal tersebut si pria berkumis semakin berang. Dia mencoba membidik kepala Genzi namun agak kesusahan karena terhalang oleh tubuh istrinya.
“Kukatakan sekali lagi… lepaskan istriku!” teriak ptia berkumis.
Kini, keributan seakan-akan memecah keheningan di gedung tua itu. Baik Genzi dan pria berkumis saling berbalas makian. Di tengah situasi nan mendebarkan, seketika dua rekan pria berkumis menjerit-jerit. Kejadian itu membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua yang sudah tergeletak dengan kaki yang berdarah-darah.
Di sisi lain, Genzi mencoba menyorot kedua rekan pria berkumis itu di mana dia melihat ada sebuah benda berbentuk bintang yang tertancap di masing-masing kaki mereka. Benda tersebut tak lain adalah shuriken — senjata yang biasanya dipakai oleh Ninja.
Sekarang, keadaannya menjadi senyap. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara, tidak terkecuali Genzi dan pria berkumis. Mereka semua bingung apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tadi — dan juga siapa yang melempar shuriken itu.
Selang beberapa detik setelahnya, kini giliran pria berkumis — sebuah shuriken terbang tajam dari langit-langit gedung dan menancap mulus ke pahanya. Serangan itu langsung membuat orang tersebut tersungkur.
Melihat pria berkumis tumbang, satu bawahannya yang tersisa menghamburkan peluru. Ia menembak ke segala arah agar sosok yang menyerang tadi tewas. Namun sayangnya, kaki laki-laki itu juga terkena shuriken.
Kini, keempat pria berpakaian serba hitam sudah terluka, masing-masing di kaki mereka. Sekarang hanya tersisa Genzi saja; dia hanya berdiri tertegun melihat musuhnya tergeletak tidak berdaya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





