POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 17, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Genzi terus melakukan aksinya sampai kemudian terdengar suara tembakan, dan dia pun spontan berhenti serta melirik ke belakang. Ia terkejut saat melihat sudah ada empat laki-laki berpakaian serba hitam. Mereka semua memegang pistol, dan salah satu yang berkumis mengarahkan senjatanya tepat ke kepala Genzi.

“Sudah cukup.” kata pria berkumis itu.

Genzi menatap pria itu dan membalas, “aku mengenalmu.”

“Baguslah. Jadi aku tak perlu memperkenalkan diri lagi.”

“Kau memang polisi atau apa pun itu aku tidak peduli. Jika kau ingin menangkapku, biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan wanita ini dulu. Aku harus memberinya pelajaran.”

“Kau tau…?” ucap si pria berkumis yang juga dikenal sebagai polisi, “sejujurnya, aku tidak tertarik menangkapmu — tapi membunuhmu.”

Ucapan pria itu membuat Genzi berdiri menghadapnya. Kedua mata lelaki itu menyorot sosok bersenjata tersebut dengan penuh gejolak amarah.

“Apa maumu?” tanya Genzi.

Pria berkumis itu lantas menurunkan bidikan pistolnya. Ia memgumbar senyuman tipis dan menjawab, “bebaskan perempuan itu, lalu aku akan membunuhmu.”

“Kenapa aku harus membebaskannya? Kau tau apa yang sudah dilakukan oleh wanita ini?”

“Tentu saja. Dia sudah menyebar berita tentang perselingkuhan istrimu.”

“Jika kau tau, lalu kenapa masih menyuruhku membebaskannya?”

“Karna dia istriku.” jawab si pria berkumis.

📚 Artikel Terkait

Retaknya Janji di Atas Cinta

KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri

Puisi-Puisi Rindu 

İbuku  yang Tangguh

Genzi semakin geram mendengar ucapan pria itu. Seandainya dia punya senjata, ia pasti sudah menembak orang tersebut.

“Jadi, kau datang ke sini untuk menyelamatkan istrimu? Lantas bagaimana dengan istriku yang sudah tewas?” tanya Genzi.

“Itu urusanmu. Yang jelas, jika kau masih menyentuh istriku, tak ada ampunan bagimu. Aku tetap membunuhmu tapi dengan cara yang lebih sadis.”

Percekcokan mulut antara Genzi dan pria berkumis berlarut panjang. Keduanya saling melempar makian dan tak ada tanda-tanda berhenti. Genzi sendiri semakin panas saja karena istrinya diolok-olok sebagai perempuan murahan yang mencuri suami orang lain.

Ketika situasinya semakin tidak terkontrol, pria berkumis menembaki lengan kanan Genzi.

Doorrr

Genzi spontan mengerang sembari memegangi lengannya yang mulai merembesi darah.

“Lepaskan istriku!” ujar pria berkumis.

Bukannya menuruti permintaan si pria berkumis, Genzi malah menarik istri orang itu dan mencekik lehernya dari belakang. Dia sama sekali tidak peduli terhadap lengannya yang sudah terluka.

“Aku akan melepaskan istrimu — tapi setelah aku membunuhnya.” kata Genzi.

Genzi lantas mencekik leher Azkiya dengan lebih brutal. Hal tersebut si pria berkumis semakin berang. Dia mencoba membidik kepala Genzi namun agak kesusahan karena terhalang oleh tubuh istrinya.

“Kukatakan sekali lagi… lepaskan istriku!” teriak ptia berkumis.

Kini, keributan seakan-akan memecah keheningan di gedung tua itu. Baik Genzi dan pria berkumis saling berbalas makian. Di tengah situasi nan mendebarkan, seketika dua rekan pria berkumis menjerit-jerit. Kejadian itu membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua yang sudah tergeletak dengan kaki yang berdarah-darah.

Di sisi lain, Genzi mencoba menyorot kedua rekan pria berkumis itu di mana dia melihat ada sebuah benda berbentuk bintang yang tertancap di masing-masing kaki mereka. Benda tersebut tak lain adalah shuriken — senjata yang biasanya dipakai oleh Ninja. 

Sekarang, keadaannya menjadi senyap. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara, tidak terkecuali Genzi dan pria berkumis. Mereka semua bingung apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tadi — dan juga siapa yang melempar shuriken itu.

Selang beberapa detik setelahnya, kini giliran pria berkumis — sebuah shuriken terbang tajam dari langit-langit gedung dan menancap mulus ke pahanya. Serangan itu langsung membuat orang tersebut tersungkur.

Melihat pria berkumis tumbang, satu bawahannya yang tersisa menghamburkan peluru. Ia menembak ke segala arah agar sosok yang menyerang tadi tewas. Namun sayangnya, kaki laki-laki itu juga terkena shuriken.

Kini, keempat pria berpakaian serba hitam sudah terluka, masing-masing di kaki mereka. Sekarang hanya tersisa Genzi saja; dia hanya berdiri tertegun melihat musuhnya tergeletak tidak berdaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Calon Pewaris

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00