• Latest
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Februari 17, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Reza Fahlevi by Reza Fahlevi
Februari 17, 2025
in Novel
Reading Time: 10 mins read
0
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Ilustrasi

585
SHARES
3.2k
VIEWS

1Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Oleh Reza Pahlevi

Di tengah derasnya hujan, Genzi memacu mobil di kecepatan tinggi. Di momen tengah malam begini, ia seolah-olah begitu leluasa mengemudi. Hampir sepanjang jalan tak ada kendaraan lain yang lewat.

Kedua mata Genzi tetap fokus menatap jalan — sesekali dia juga melirik kaca spion tengah dan juga kiri serta kanan. Gelagat lelaki ini dalam kewaspadaan tinggi.

“Ke mana… kau membawaku?” tanya seorang wanita. Suaranya terdengar lemah dan tidak berdaya.

Ya, Genzi tidak sendirian. Dia membawa seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun dari kadiamannya. Saat ini, wanita yang dikenal sebagai Azkiya itu berada di bagian belakang mobil. Dia terbaring lemah di kursi dengan lumuran darah di sekujur wajah dan sebagian pakaiannya.

“Apa kau… ingin… membunuhku?” tanya sang wanita lagi.

Genzi menanggapi perempuan itu dengan senyuman sinis dan menjawab, “membunuhmu tak ada artinya bagiku. Lebih baik aku menyiksamu terlebih dahulu — dengan begitu kau bisa memahami bagaimana penderitaanku selama ini setelah kau membunuh istriku.” katanya.

Azkiya spontan berteriak. “Aku tidak membunuh istrimu!”

“Memang… kematian istriku bukan langsung dari tanganmu. Tapi, kau orang yang sudah membuat istriku tewas melalui orang lain. Kau menuduhnya berselingkuh, dan semua itu berujung pada kematian istriku.”

“A… aku tidak menuduh — istrimu memang berselingkuh. Aku melihatnya langsung — ”

“Diam…!” teriak Genzi. Ia cukup berang mendengar ujaran Azkiya. Dan, kekesalannya itu membuat dirinya secara tak sadar memacukan kendaraan lebih tajam dari sebelumnya.

Sekitar dua puluh menit berselang, Genzi menepikan mobilnya di depan sebuah gedung yang gelap dan kusam. Bangunannya yang berlantai tiga itu terlihat sudah lumayan rusak. Wajar saja sebab sudah sangat lama tidak dipakai.

Di dalam mobil, Genzi melirik ke sekitar untuk memastikan keadaannya. Saat ia mengira situasinya aman, lantas lelaki ini membawa masuk mobilnya ke pekarangan belakang gedung, kemudian keluar dari dalam dengan membawa serta Azkiya.

Ketika sedang menggotong sang wanita berjalan yang sudah berdarah-darah itu, terlihat ada sebuah belati yang menancap di paha kirinya. Sepertinya, Genzi melukai Azkiya menggunakan senjata tajam tersebut.

Tiba di lantai dua, Genzi membaringkan Azkiya di atas sebuah meja. Tempat yang mereka datangi ini dipenuhi dengan meja, kursi serta rak-rak buku yang tertata kacau. Pemandangan itu menandakan bahwa gedung tua yang kusam ini dulunya adalah sebuah perpustakaan.

“Jangan. Tolong jangan.” ujar Azkiya. Kedua tangan wanita itu spontan menggenggam erat pakaiannya.

“Hanya pria bodoh yang mau melakukannya…” balas Genzi. Dia paham gelagat Azkiya yang menggenggam erat pakaiannya. Wanita itu takut Genzi berniat memerkosainya.

“Aku tidak melampiaskan dendam dengan cara menodai kesucianmu. Tapi, ada hal yang lebih penting untuk membuatmu paham bahwa semua perlakuanmu terhadapku — juga keterlibatanmu di balik tewasnya istriku —semua sudah meninggalkan luka batin di hatiku.

Karna itu, kau harus tau apa yang sedang kurasakan saat ini. Mungkin, aku tidak bisa melukai hatimu seperti yang kau lakukan — maka satu-satunya cara adalah menyiksamu sampai kau benar-benar merasa bersalah dan memohon ampun padaku — memohon seperti budak.”

Genzi lantas melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk sekujur tubuh Azkiya. Ia terus melakukannya dan sama sekali tidak peduli terhadap wanita itu yang berteriak serta juga menangis histeris. Tidak hanya itu, Genzi juga sesekali mencekik leher sang perempuan, menjambak rambutnya bahkan juga mengantukkan kepala wanita tersebut ke permukaan meja.

Page 1 of 4
12...4Next
Share234SendTweet146Share
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Next Post
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - Cerpen Calon Pewaris dengan latar belakang Kalimantan | Novel | Potret Online

Calon Pewaris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com