• Latest
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Februari 17, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Reza Fahlevi by Reza Fahlevi
Februari 17, 2025
in Novel
Reading Time: 10 mins read
0
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Ilustrasi

585
SHARES
3.2k
VIEWS

Genzi terus melakukan aksinya sampai kemudian terdengar suara tembakan, dan dia pun spontan berhenti serta melirik ke belakang. Ia terkejut saat melihat sudah ada empat laki-laki berpakaian serba hitam. Mereka semua memegang pistol, dan salah satu yang berkumis mengarahkan senjatanya tepat ke kepala Genzi.

“Sudah cukup.” kata pria berkumis itu.

Genzi menatap pria itu dan membalas, “aku mengenalmu.”

“Baguslah. Jadi aku tak perlu memperkenalkan diri lagi.”

“Kau memang polisi atau apa pun itu aku tidak peduli. Jika kau ingin menangkapku, biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan wanita ini dulu. Aku harus memberinya pelajaran.”

“Kau tau…?” ucap si pria berkumis yang juga dikenal sebagai polisi, “sejujurnya, aku tidak tertarik menangkapmu — tapi membunuhmu.”

Ucapan pria itu membuat Genzi berdiri menghadapnya. Kedua mata lelaki itu menyorot sosok bersenjata tersebut dengan penuh gejolak amarah.

“Apa maumu?” tanya Genzi.

Pria berkumis itu lantas menurunkan bidikan pistolnya. Ia memgumbar senyuman tipis dan menjawab, “bebaskan perempuan itu, lalu aku akan membunuhmu.”

“Kenapa aku harus membebaskannya? Kau tau apa yang sudah dilakukan oleh wanita ini?”

“Tentu saja. Dia sudah menyebar berita tentang perselingkuhan istrimu.”

“Jika kau tau, lalu kenapa masih menyuruhku membebaskannya?”

“Karna dia istriku.” jawab si pria berkumis.

Genzi semakin geram mendengar ucapan pria itu. Seandainya dia punya senjata, ia pasti sudah menembak orang tersebut.

“Jadi, kau datang ke sini untuk menyelamatkan istrimu? Lantas bagaimana dengan istriku yang sudah tewas?” tanya Genzi.

“Itu urusanmu. Yang jelas, jika kau masih menyentuh istriku, tak ada ampunan bagimu. Aku tetap membunuhmu tapi dengan cara yang lebih sadis.”

Percekcokan mulut antara Genzi dan pria berkumis berlarut panjang. Keduanya saling melempar makian dan tak ada tanda-tanda berhenti. Genzi sendiri semakin panas saja karena istrinya diolok-olok sebagai perempuan murahan yang mencuri suami orang lain.

Ketika situasinya semakin tidak terkontrol, pria berkumis menembaki lengan kanan Genzi.

Doorrr

Genzi spontan mengerang sembari memegangi lengannya yang mulai merembesi darah.

“Lepaskan istriku!” ujar pria berkumis.

Bukannya menuruti permintaan si pria berkumis, Genzi malah menarik istri orang itu dan mencekik lehernya dari belakang. Dia sama sekali tidak peduli terhadap lengannya yang sudah terluka.

“Aku akan melepaskan istrimu — tapi setelah aku membunuhnya.” kata Genzi.

Genzi lantas mencekik leher Azkiya dengan lebih brutal. Hal tersebut si pria berkumis semakin berang. Dia mencoba membidik kepala Genzi namun agak kesusahan karena terhalang oleh tubuh istrinya.

“Kukatakan sekali lagi… lepaskan istriku!” teriak ptia berkumis.

Kini, keributan seakan-akan memecah keheningan di gedung tua itu. Baik Genzi dan pria berkumis saling berbalas makian. Di tengah situasi nan mendebarkan, seketika dua rekan pria berkumis menjerit-jerit. Kejadian itu membuat semua mata tertuju kepada mereka berdua yang sudah tergeletak dengan kaki yang berdarah-darah.

Di sisi lain, Genzi mencoba menyorot kedua rekan pria berkumis itu di mana dia melihat ada sebuah benda berbentuk bintang yang tertancap di masing-masing kaki mereka. Benda tersebut tak lain adalah shuriken — senjata yang biasanya dipakai oleh Ninja. 

Sekarang, keadaannya menjadi senyap. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara, tidak terkecuali Genzi dan pria berkumis. Mereka semua bingung apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orang tadi — dan juga siapa yang melempar shuriken itu.

Selang beberapa detik setelahnya, kini giliran pria berkumis — sebuah shuriken terbang tajam dari langit-langit gedung dan menancap mulus ke pahanya. Serangan itu langsung membuat orang tersebut tersungkur.

Melihat pria berkumis tumbang, satu bawahannya yang tersisa menghamburkan peluru. Ia menembak ke segala arah agar sosok yang menyerang tadi tewas. Namun sayangnya, kaki laki-laki itu juga terkena shuriken.

Kini, keempat pria berpakaian serba hitam sudah terluka, masing-masing di kaki mereka. Sekarang hanya tersisa Genzi saja; dia hanya berdiri tertegun melihat musuhnya tergeletak tidak berdaya.

Page 2 of 4
Prev1234Next
Share234SendTweet146Share
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Next Post
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - Cerpen Calon Pewaris dengan latar belakang Kalimantan | Novel | Potret Online

Calon Pewaris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com