• Latest
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Februari 17, 2025
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG_9514 | Novel | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pertarungan di Sebuah Gedung Tua

Salah satu kisah dari Detektif Jimmy

Reza Fahlevi by Reza Fahlevi
Februari 17, 2025
in Novel
Reading Time: 10 mins read
0
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - IMG 20250217 WA0005 | Novel | Potret Online

Ilustrasi

585
SHARES
3.2k
VIEWS

Tak lama kemudian, dari langit-langit, turunlah seorang laki-laki berjaket hitam. Dia mendarat tepat di belakang Genzi tanpa mengeluarkan sedikit pun suara. Dan, di waktu yang sama, laki-laki ini mencekik Genzi.

“Si… siapa… kau?” tanya Genzi. Cekikannya di leher Azkiya seketika terlepas begitu saja.

“Sudah cukup balas dendamnya.” ujar laki-laki berjaket hitam. Sebenarnya, dia adalah Detektif Jimmy.

Dengan cekikan Genzi yang sudah terlepas dari leher Azkiya, Jimmy yang kini mencekik lelaki itu lantas menarik paksa tubuhnya dan menghantamkannya ke tembok. Genzi pun terbentur lumayan keras, membuatnya langsung terkapar kesakitan.

Dari menyerang Genzi, kini Detektif Jimmy berjalan perlahan-lahan ke pria berkumis yang juga masih tergeletak dengan lumuran darah. Begitu sang detektif tiba, ia menarik pakaian pria itu untuk memaksanya berdiri. Pria berkumis spontan terbelalak melihat wajah Jimmy.

“A… apa kau detektif itu?” tanya sang pria berkumis dengan gemetaran.

Jimmy sendiri tidak menggubris pertanyaan tersebut. Dia malah mengatakan hal sebaliknya. “Seorang polisi seharusnya mengayomi masyarakat — bukan malah menebar ancaman.” balasnya dengan suara berat.

Sikap sang detektif yang berbicara seperti itu mengubah situasi di gedung itu menjadi lebih mencekam. Apalagi sorot matanya cukup tajam, bagaikan harimau yang ingin menerkam mangsa.

“A… aku —” Omongan pria berkumis seketika terputus karena Jimmy mencekik lehernya.

Tidak hanya itu, hanya dengan satu tangan, Jimmy cukup mudah mengangkat tubuh orang itu hingga kedua kakinya sama sekali tidak lagi menyentuh lantai.

“Aku sudah menyelidiki kasus yang menyeret wanita bernama Azkiya dan juga istrimu. Berita tentang Azkiya yang berselingkuh memang benar — dia berselingkuh dengan rekan polisimu juga. Lalu kau menyuruh istrimu untuk membeberkan semua ini kepada istri rekanmu itu, Julia. Lantas, Julia yang sudah berapi-api tanpa ragu membunuh Azkiya dengan racun.” jelas Detektif Jimmy dengan suara yang lebih berat dari sebelumnya. Meskipun berat, suaranya terdengar cukup nyaring.

Sang pria berkumis semakin ketakutan karena ternyata Jimmy sudah mengetahui semuanya.

“Namun, kau tau hanya membunuh Azikya saja tidak cukup sebab suaminya orang yang keras kepala. Dan, terbukti pada malam ini bagaimana istrimu babak belur di tangan lelaki itu. Kau pun datang untuk membunuhnya juga, tapi aksimu sudah cukup sampai di sini. Lagipula, kau termasuk salah satu polisi nakal — dan kita bertemu di saat yang tepat.” kata Jimmy lagi sembari meninju dada pria berkumis dengan sangat keras, sampai-sampai terdengar suara seperti retakan. Dan, aksi tersebut membuat sang pria berkumis menyemburkan darah yang cukup banyak dari mulutnya.

Selesai berurusan dengan pria berkumis, Jimmy pun melepaskan cekikannya dan membiarkan orang itu terkapar tak berdaya. Kini, dia menoleh ke belakang, tepat ke arah Genzi yang sedang terduduk bersanda di tembok. Ia terlihat cukup lemas.

“Sebentar lagi, polisi akan segera tiba ke sini — mereka polisi yang berbeda dari pria itu. Walaupun kau sudah membuat babak belur Azkiya, mungkin kau akan dibebaskan — semua tergantung dari penjelasanmu nanti. Lagipula, aku sudah memberimu sedikit pelajaaran karna sudah berniat untuk membunuh wanita itu. Jadi, bisa saja polisi tidak lagi menghukummu. Nanti, saat mereka datang, aku ingin kau menemui seseorang yang bernama Kapten Tiyo.

Dia tau lebih banyak tentang kematian istrimu daripada dirimu sendiri. Dan, begitu dia membeberkannya padamu, kuharap kau mengangkat berita kasus ini di halaman depan koran, lengkap dengan para tersangkanya dan bagaimana mereka tertangkap.” tutur Jimmy.

Dalam keadaan lemah, Genzi masih sempat terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa sosok pria berjaket hitam itu mengetahui identitasnya.

“Kau… sepertinya tau… kalau aku ini… seorang wartawan.” sahut Genzi dengan terbata-bata.

Sementara itu, Jimmy tidak menyahut apa-apa. Dia hanya mengangkat tubuh Azkiya yang berlumuran darah kemudian berjalan menuruni tangga dan keluar dari dalam gedung tua itu. Ketika detektif tersebut sudah pergi, barulah para polisi tiba. Mereka langsung mengamankan semua orang yang ada. 

Page 3 of 4
Prev1234Next
Share234SendTweet146Share
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Next Post
Pertarungan di Sebuah Gedung Tua - Cerpen Calon Pewaris dengan latar belakang Kalimantan | Novel | Potret Online

Calon Pewaris

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com