Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Negeri ini tengah bersiap memasuki babak baru, era efisiensi total. Pemangkasan anggaran Rp 306,69 triliun telah diumumkan dengan gagah berani. Langkah ini diambil demi kestabilan ekonomi, demi masa depan yang lebih cerah. Cerah bagi siapa? Itu pertanyaan yang masih mengambang di udara, menunggu nasibnya dijawab oleh realitas.
Di kantor-kantor pemerintahan, tinta pena mulai dihemat. Kertas-kertas dokumen kini mungkin harus ditulis bolak-balik. Para pegawai negeri mungkin mulai belajar menulis dengan jurus tangan kosong, mengasah keterampilan bertelepati dengan atasan. Tidak ada lagi perjalanan dinas mewah, tidak ada lagi seminar dengan makanan prasmanan yang menggoda. Mungkin ke depan, rapat akan digelar dalam senyap, dengan masing-masing peserta berkomunikasi lewat tatapan penuh arti.
Tapi jangan khawatir, dana bansos tetap aman. Itu semacam penghiburan bagi mereka yang bersiap menanggalkan status pekerja dan memasuki dunia baru, dunia tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan, tapi untuk sementara dengan bantuan sosial.
Di sudut kota, para buruh konstruksi mulai melirik kalender. Proyek infrastruktur banyak yang dibekukan, alat-alat berat mulai berkarat dalam diam. Para mandor berhenti berteriak, suasana proyek yang dulu riuh kini hening seperti padang pasir setelah badai. IKN, sang megaproyek kebanggaan, kini hanya bisa menatap masa depannya dengan pasrah. Menteri PU sudah bicara, anggarannya diblokir. Itu artinya, tak ada beton yang akan dicor, tak ada crane yang bergerak, tak ada tukang yang mencelupkan kuas ke ember cat. Para pekerja proyek mungkin bisa mulai menekuni seni ukir kayu atau menulis sajak tentang kemegahan yang tertunda.
Di pasar, ibu-ibu mulai berhitung ulang. Apakah hari ini mereka bisa membeli satu kilogram beras, atau cukup setengah saja? Daya beli menurun, ekonomi melambat. Pedagang yang biasanya berteriak menawarkan dagangan kini lebih banyak termenung, bertanya-tanya apakah esok masih ada pelanggan yang mampir.
Di dunia usaha, para investor mulai resah. Apakah ini saatnya mereka menarik diri? Apakah ini pertanda bahwa negeri ini sedang menuju titik nadir? Di kafe-kafe tempat mereka biasa berdiskusi, kopi hitam kini terasa lebih pahit dari biasanya.
📚 Artikel Terkait
Sementara itu, di meja-meja rapat yang masih bertahan, para petinggi berbicara soal strategi. Mereka bicara tentang ketahanan, tentang visi jangka panjang, tentang pemulihan ekonomi yang akan datang. Mereka optimis. Mereka harus optimis. Karena kalau mereka sendiri mulai ragu, maka kepada siapa rakyat harus berpaling?
Tapi di luar ruangan itu, di jalanan yang mulai sepi, di pabrik-pabrik yang mulai kehilangan suara mesin, di kampung-kampung yang mulai dihantui kekhawatiran, satu pertanyaan terus bergema, apakah ini efisiensi atau eliminasi?
Angka pengangguran mungkin akan meningkat. Itu hanya statistik. Tapi di balik statistik ada wajah-wajah manusia, ada cerita-cerita yang tertunda, ada harapan-harapan yang mulai dipertanyakan.
Tapi tenang. Setidaknya bansos masih ada. Untuk sementara.
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






