POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home POTRET Budaya

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Malahayati: Rencong di Tangan Perempuan

Redaksi by Redaksi
Januari 24, 2025
in POTRET Budaya, Puisi Essay, Sastra
0
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 2244b2e6 de91 4d09 bdcc 1a15c63254f5 | POTRET Budaya | Potret Online

 

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Baca Juga
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - b26136d8 4f94 4636 aeb2 914e420cdd1b | POTRET Budaya | Potret Online
    Aceh
    DIGITALISASI KEARIFAN LOKAL, KENAPA TIDAK?
    07 Okt 2024
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - b0519428 f980 46ab 93ad fabfedf829fe | POTRET Budaya | Potret Online
    Puisi Essay
    Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang
    27 Mar 2025

Cornelis de Houtman adalah pelaut Belanda yang memimpin ekspedisi ke Nusantara pada akhir abad ke-16. Ia tewas dalam pertempuran melawan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati. [1]

***
Di bawah langit Aceh yang membentang biru,
Ombak berkejaran menyapa dermaga.
Di sana, kisah perempuan perkasa bermula,
Malahayati, Laksamana laut yang tak tertandingi.
Bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah,
Ia adalah simbol keberanian,
Darah Aceh yang mengalir dalam tiap ombak.

Baca Juga
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 448d9d08 0414 4414 8c3d 2febec6bb8bc | POTRET Budaya | Potret Online
    POTRET Budaya
    Puisi -Puisi Ali Hamzah
    27 Feb 2024
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 03e43d92 ad7d 480a b4c8 817db5102f7f | POTRET Budaya | Potret Online
    POTRET Budaya
    **Monolog Mata Ie: Surat Cinta yang Tak Pernah Usai**
    05 Jan 2025

Ketika Portugis dan Belanda datang,
Dengan kapal-kapal besar membawa kerakusan,
Malahayati berdiri di depan,
Bukan sekadar perisai,
Namun badai yang menggulung ambisi kolonial.
Di balik wajah lembutnya, ada tekad baja,
Di genggamannya, rencong adalah suara.

Cornelis de Houtman datang dengan kapal-kapalnya,
Menjanjikan perdagangan, membawa tipu daya.
Namun Aceh, negeri yang penuh marwah,
Tak akan tunduk pada ketamakan.
Malahayati memimpin pasukannya,
Janda-janda perang yang menyimpan luka,
Namun menjadikannya bara semangat.

Baca Juga
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 2025 05 31 07 04 48 | POTRET Budaya | Potret Online
    #Seni Tari
    Mencicipi Nikmatnya Kuliner  Jadul Kotaku,  Meratapi Malangnya  Nasib Seni Tari Topeng di Kotaku
    31 Mei 2025
  • Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 24f8f883 d7c2 4430 bb6c a0d96c0bff5c | POTRET Budaya | Potret Online
    Malaysia
    MESYUARAT PELAKSANAAN HARI PUISI MALAYSIA (HPM) KE-5 TAHUN 2024: SEGALA PERSIAPAN TELAH BERMULA.
    05 Mei 2024

“Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”
Dan di tengah pertempuran,
Ia melangkah ke depan, menghadapi de Houtman.
Tikamannya adalah pesan,
Bahwa tanah Aceh takkan dijual.
Di tengah darah dan angin laut,
Cornelis de Houtman tumbang,
Dan sejarah mencatat kekalahan kolonial.

Bagi Malahayati, ini bukan sekadar kemenangan,
Namun janji kepada leluhur.
Bahwa Aceh akan berdiri,
Sebagai benteng Islam di Nusantara.
Ia bukan hanya Laksamana pertama,
Namun juga penjaga marwah negeri.
Dalam setiap langkahnya,
Ada doa dari tanah dan air.

Aceh kala itu adalah singgasana,
Yang menjunjung tinggi nilai perempuan.
Malahayati menjadi bukti,
Bahwa perempuan adalah pilar negeri.
Ia memimpin armada laut dengan cermat,
Menyusun strategi dengan hati-hati.
Tak gentar meski lawan bersenjata lengkap,
Karena ia tahu,
Keberanian lebih tajam dari pedang.

Di dermaga, anak-anak bernyanyi,
Tentang Malahayati dan rencongnya.
Tentang bagaimana perempuan Aceh,
Mengguncang dunia dengan keberanian.
Ia adalah inspirasi,
Bagi generasi yang lahir setelahnya.
Bahwa perjuangan tak mengenal gender,
Bahwa cinta tanah air adalah panggilan suci.

Namun keberanian Malahayati,
Bukan tanpa duka.
Ia kehilangan suami di medan perang,
Namun kesedihan itu,
Dibakar menjadi api perjuangan.
Ia mendirikan pasukan Inong Balee,
Janda-janda yang kehilangan pasangan.
Bersama mereka, ia membangun benteng,
Benteng yang tak hanya dari batu,
Namun dari tekad dan doa.

Di tengah malam yang sunyi,
Malahayati merenung di atas geladak.
“Apakah tanah ini akan bebas selamanya?”
Ia bertanya pada bintang-bintang.
Namun ia tahu,
Setiap tikaman rencong adalah doa,
Setiap langkah adalah janji,
Bahwa Aceh akan terus merdeka.

Kini, namanya diabadikan,
Di setiap sudut Aceh,
Di setiap cerita rakyat.
Ia adalah bukti,
Bahwa perempuan mampu memimpin,
Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin.
Di museum, di buku sejarah,
Nama Malahayati menjadi bintang.
Namun lebih dari itu,
Ia hidup dalam hati setiap anak Aceh.

Malahayati adalah teladan,
Bahwa kekuatan bukan hanya milik laki-laki.
Ia adalah inspirasi bagi perempuan,
Yang ingin melawan keterbatasan.
“Jadilah seperti Malahayati,”
Seorang ibu berbisik pada anaknya,
“Berani melawan ketidakadilan,
Berani mencintai tanah air.”

Di bawah langit Aceh yang sama,
Ombak masih berkejaran.
Namun kini, mereka membawa cerita,
Tentang seorang perempuan,
Yang menulis sejarah dengan rencongnya.
Cornelis de Houtman telah tumbang,
Namun semangat Malahayati tetap hidup.
Ia adalah gelombang yang tak pernah reda,
Ia adalah api yang tak pernah padam.
***

Rumah Kayu Cepu, 23 Januari 2025

CATATAN
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati yang disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. https://tirto.id/cornelis-de-houtman-tewas-dalam-tikaman-rencong-malahayati-cz2x

Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
Previous Post

Terkait Insentif, ATAS Provinsi Aceh Temui Komisi VI DPRA

Next Post

Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar “Faiha dan Bunga Misteri”

Next Post
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 20466cae 5eae 42c5 bed1 30c51701539d | POTRET Budaya | Potret Online

Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar "Faiha dan Bunga Misteri"

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah