• Latest
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 2244b2e6 de91 4d09 bdcc 1a15c63254f5 | POTRET Budaya | Potret Online

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Januari 24, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2)

Malahayati: Rencong di Tangan Perempuan

Redaksi by Redaksi
Januari 24, 2025
in POTRET Budaya, Puisi Essay, Sastra
Reading Time: 2 mins read
0
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 2244b2e6 de91 4d09 bdcc 1a15c63254f5 | POTRET Budaya | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Cornelis de Houtman adalah pelaut Belanda yang memimpin ekspedisi ke Nusantara pada akhir abad ke-16. Ia tewas dalam pertempuran melawan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati. [1]

***
Di bawah langit Aceh yang membentang biru,
Ombak berkejaran menyapa dermaga.
Di sana, kisah perempuan perkasa bermula,
Malahayati, Laksamana laut yang tak tertandingi.
Bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah,
Ia adalah simbol keberanian,
Darah Aceh yang mengalir dalam tiap ombak.

Ketika Portugis dan Belanda datang,
Dengan kapal-kapal besar membawa kerakusan,
Malahayati berdiri di depan,
Bukan sekadar perisai,
Namun badai yang menggulung ambisi kolonial.
Di balik wajah lembutnya, ada tekad baja,
Di genggamannya, rencong adalah suara.

Cornelis de Houtman datang dengan kapal-kapalnya,
Menjanjikan perdagangan, membawa tipu daya.
Namun Aceh, negeri yang penuh marwah,
Tak akan tunduk pada ketamakan.
Malahayati memimpin pasukannya,
Janda-janda perang yang menyimpan luka,
Namun menjadikannya bara semangat.

“Rencong ini bukan sekadar senjata,” katanya,
“Ini adalah suara tanah yang enggan diam.”
Dan di tengah pertempuran,
Ia melangkah ke depan, menghadapi de Houtman.
Tikamannya adalah pesan,
Bahwa tanah Aceh takkan dijual.
Di tengah darah dan angin laut,
Cornelis de Houtman tumbang,
Dan sejarah mencatat kekalahan kolonial.

Bagi Malahayati, ini bukan sekadar kemenangan,
Namun janji kepada leluhur.
Bahwa Aceh akan berdiri,
Sebagai benteng Islam di Nusantara.
Ia bukan hanya Laksamana pertama,
Namun juga penjaga marwah negeri.
Dalam setiap langkahnya,
Ada doa dari tanah dan air.

Aceh kala itu adalah singgasana,
Yang menjunjung tinggi nilai perempuan.
Malahayati menjadi bukti,
Bahwa perempuan adalah pilar negeri.
Ia memimpin armada laut dengan cermat,
Menyusun strategi dengan hati-hati.
Tak gentar meski lawan bersenjata lengkap,
Karena ia tahu,
Keberanian lebih tajam dari pedang.

Di dermaga, anak-anak bernyanyi,
Tentang Malahayati dan rencongnya.
Tentang bagaimana perempuan Aceh,
Mengguncang dunia dengan keberanian.
Ia adalah inspirasi,
Bagi generasi yang lahir setelahnya.
Bahwa perjuangan tak mengenal gender,
Bahwa cinta tanah air adalah panggilan suci.

Namun keberanian Malahayati,
Bukan tanpa duka.
Ia kehilangan suami di medan perang,
Namun kesedihan itu,
Dibakar menjadi api perjuangan.
Ia mendirikan pasukan Inong Balee,
Janda-janda yang kehilangan pasangan.
Bersama mereka, ia membangun benteng,
Benteng yang tak hanya dari batu,
Namun dari tekad dan doa.

Di tengah malam yang sunyi,
Malahayati merenung di atas geladak.
“Apakah tanah ini akan bebas selamanya?”
Ia bertanya pada bintang-bintang.
Namun ia tahu,
Setiap tikaman rencong adalah doa,
Setiap langkah adalah janji,
Bahwa Aceh akan terus merdeka.

Kini, namanya diabadikan,
Di setiap sudut Aceh,
Di setiap cerita rakyat.
Ia adalah bukti,
Bahwa perempuan mampu memimpin,
Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin.
Di museum, di buku sejarah,
Nama Malahayati menjadi bintang.
Namun lebih dari itu,
Ia hidup dalam hati setiap anak Aceh.

Malahayati adalah teladan,
Bahwa kekuatan bukan hanya milik laki-laki.
Ia adalah inspirasi bagi perempuan,
Yang ingin melawan keterbatasan.
“Jadilah seperti Malahayati,”
Seorang ibu berbisik pada anaknya,
“Berani melawan ketidakadilan,
Berani mencintai tanah air.”

Di bawah langit Aceh yang sama,
Ombak masih berkejaran.
Namun kini, mereka membawa cerita,
Tentang seorang perempuan,
Yang menulis sejarah dengan rencongnya.
Cornelis de Houtman telah tumbang,
Namun semangat Malahayati tetap hidup.
Ia adalah gelombang yang tak pernah reda,
Ia adalah api yang tak pernah padam.
***

Rumah Kayu Cepu, 23 Januari 2025

CATATAN
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati yang disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di dunia. https://tirto.id/cornelis-de-houtman-tewas-dalam-tikaman-rencong-malahayati-cz2x

Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRET
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (2) - 20466cae 5eae 42c5 bed1 30c51701539d | POTRET Budaya | Potret Online

Kolaborasi Guru dan Murid MIN 11 Banda Aceh Hasilkan Karya Buku Cerita Bergambar "Faiha dan Bunga Misteri"

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com