• Latest
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - b0519428 f980 46ab 93ad fabfedf829fe | Puisi Essay | Potret Online

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang

Maret 27, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 1001348646_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 1001353319_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 1001361361_11zon | Puisi Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 27, 2025
in Puisi Essay, ulama
Reading Time: 4 mins read
0
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - b0519428 f980 46ab 93ad fabfedf829fe | Puisi Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Cahaya Ilmuwan Muslim, Warisan yang Abadi (5)


Oleh Gunawan Trihantoro

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. [1]

Baca Juga
  • Kepiting Dalam Baskom
  • Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah


Di Rayy, kota yang terbakar matahari,
seorang anak menatap langit dengan mata haus,
Muhammad bin Zakariya, darah dan nama yang kelak menggema
melintasi lorong-lorong waktu.

Ayahnya, sang penenun kain, berbisik,
“Ilmu, Nak, adalah benang emas yang takkan pernah putus.”

Baca Juga
  • Dari Limbah Menjadi Cinta
  • Abu Cot Kuta; Ulama Aceh dan Pendiri Dayah Periode Awal

Tapi dunia abad ke-9 bukan tempat yang ramah bagi rasa ingin tahu.
Perpustakaan adalah benteng yang dijaga dogma,
sedangkan tubuh manusia, seperti kitab yang dikunci rapat.
Ar-Razi memilih pisau bedah sebagai kunci,
mengiris tabir keangkuhan, mencari jawaban
di balik denyut nadi dan demam yang membara.

-000-

Baca Juga
  • Tadarus di Bawah Cahaya Lampu Masjid
  • Mereka Yang Syahid

“Mengapa kau habiskan waktu untuk kotoran manusia?”
tanya seorang ulama, menunjuk tabung urine di tangannya.
Ar-Razi tersenyum,
“Dalam warna kuning ini ada peta penyakit,
lebih jujur daripada kata-kata para bijak.”

Baghdad, 900 Masehi.
Di Baitul Hikmah yang megah, ia menumpahkan racikan
dari kamar besi alkimia,
merubah raksa menjadi obat,
kegelapan menjadi diagnosis.

“Cacar bukan kutukan,” serunya,
“tapi musuh yang bisa dikenali,
dicegah dengan jarum dan kesabaran.”

Suatu malam, saat lilin meleleh di atas meja kayu,
ia menulis di Al-Hawi,
“Kebenaran adalah anak yatim,
tapi kebodohan punya banyak bapak.”

-000-

Para filsuf mengepungnya,
“Kau terlalu memuja akal, Ar-Razi!
Di mana iman?”
Dia menunjuk seorang ibu yang menangis
memeluk anaknya yang kejang,

“Tuhan memberiku akal
untuk menghentikan air mata ini,
bukan berdebat tentang surga
sementara bumi merintih.”

Di rumah sakit Muqtadiri,
ia menggiring revolusi,
tempat tidur pasien diatur menghadap matahari,
luka dicuci dengan air mawar,
dan kegilaan diobati dengan musik,
bukan rantai.

“Jiwa yang sakit,” katanya,
“adalah luka yang bisa dibedah
dengan melodi.”

-000-

925 Masehi. Mata itu akhirnya buta,
tapi pikirannya tetap membara seperti alkimia.
Sebelum wafat, ia berbisik pada muridnya:
“Catat ini,
penyakit menular lewat udara,
logam bisa menjadi obat,
dan langit,
langit selalu lebih luas
dari kitab mana pun.”

Kini, 12 abad kemudian,
dunia masih minum dari sumurnya,
Kimia modern yang lahir dari retortanya,
Psikoterapi dalam gendangnya yang merdu,
Etika kedokteran yang ia tulis dengan darah
dan air mawar.

Di laboratorium-laboratorium mutakhir,
suaranya masih berdesir,
“Ragu-ragulah,
karena keraguan adalah jalan
menuju cahaya.”



Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dengan inspirasi dari biografi Ar Razi di https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Zakariya_ar-Razi.
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi (865-925 M), dikenal di Barat sebagai Rhazes, adalah polymath Persia yang menjadi pionir dalam:
a. Kedokteran: Karya Al-Hawi (Ensiklopedia Medis) menjadi rujukan Eropa selama berabad-abad. Ia membedakan cacar dan campur, serta memperkenalkan metode observasi klinis.
b. Kimia: Mengklasifikasi zat kimia menjadi mineral, nabati, dan hewani. Menemukan asam sulfat dan alkohol.
c. Filsafat: Menolak dogma, mendorong metode skeptisisme empiris.
d. Psikologi: Perintis terapi musik untuk gangguan mental.

Pemikirannya memengaruhi Ibnu Sina, Roger Bacon, hingga Renaissance Eropa. Kini, namanya diabadikan di kawah bulan “Rhazes” dan penghargaan medis internasional.

“Dia adalah Galileo-nya dunia Islam,
yang berani mengatakan,
‘Lihatlah, kebenaran ada di ujung pisau bedahmu,
bukan di ujung pedang.'”

  • From “The Physician’s Ode” (2023)
Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 0ab2f45f f06d 4637 be12 47010ef4d7bf | Puisi Essay | Potret Online

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com