POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home POTRET Budaya

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 3, 2025
in POTRET Budaya, puasa, Puisi Essay
0
Puasa, Lapar, dan Makna Sabar - e0136ac9 9577 4b11 bb4c 19b870293d2f | POTRET Budaya | Potret Online

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (2)


Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sudut pasar yang berdebu,
di bawah terik matahari yang membakar siang,
seorang ibu duduk di belakang gerobaknya,
menjajakan pisang goreng, ubi rebus, dan kolak manis
yang belum boleh ia cicipi.

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar - f97e2430 52a6 42e3 b004 68ae974adc07 | POTRET Budaya | Potret Online
Baca Juga
Mayday
PEJUANG KEADILAN ITU BERNAMA MARSINAH
01 Mei 2025

Tangannya cekatan membungkus pesanan,
matanya sesekali menerawang langit.
Bukan mengeluh,
hanya menghitung waktu menuju magrib.
Sebab sejak fajar,
ia hanya ditemani lapar
dan kesabaran yang ia peluk erat.


Di tengah hiruk-pikuk pasar,
ada suara yang mengusik hatinya.
“Bu, nggak capek puasa sambil jualan?”
tanya seorang pembeli, seorang ibu muda
yang berdiri di depan gerobaknya.

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar - 1000486727_11zon | POTRET Budaya | Potret Online
Baca Juga
POLRI
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering
08 Apr 2025

Ia tersenyum,
wajahnya penuh ketenangan.
“Capek, Nak, tapi rezeki tetap harus dicari.
Allah pasti tahu beratnya perjuangan ini.”

Ia kembali melayani pelanggan,
menyeka keringat yang bercampur debu,
dan menahan diri untuk tidak menyerah.
Karena baginya, puasa bukan sekadar menahan lapar,
tetapi juga menahan keluh kesah.

Puasa, Lapar, dan Makna Sabar - 1B6EAAD0 181D 44F8 8352 291AA4FD5E1B | POTRET Budaya | Potret Online
Baca Juga
BIngkai Remaja
Ilmu Adalah Harta
21 Agu 2022


Di rumah, anak-anak menunggunya pulang,
menanti dengan piring kosong dan gelas yang masih bersih.
Mereka tahu, ibunya selalu pulang membawa takjil sederhana,
dan wajah yang tetap teduh meski seharian dihantam panas.

Ketika akhirnya adzan magrib berkumandang,
ia meneguk segelas air dengan doa yang bergetar.
“Ya Allah, terima kasih, hari ini Kau beri aku kekuatan.”

Di luar, pasar mulai sepi,
tapi di dalam hatinya, ada yang tetap menyala:
iman yang tak goyah,
sabar yang tak luntur,
dan keyakinan bahwa rezeki selalu datang,
seperti azan yang selalu tiba di penghujung penantian.

Rumah Kayu Cepu, 2 Maret 2025

Next Post
Puasa, Lapar, dan Makna Sabar - 0e5f81b0 60df 409a a8fa fe1486a6d9a6 | POTRET Budaya | Potret Online

Oposisi Itu Terhormat

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah