POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Duka

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 27, 2025
in Duka, Duka kita, Kekerasan
0
Juwita yang Pergi dalam Sunyi - 0ab2f45f f06d 4637 be12 47010ef4d7bf | Duka | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani Wah kalau kalau

Sebagai mantan jurnalis, saya ikut berbelasungkawa atas wafatnya, Juwita, seorang jurnalis asal Banjarbaru Kalsel. Apa yang pernah dirasakan Juwita, pernah juga saya rasakan. Bedanya, Tuhan masih memberi saya nafas hingga hari ini. Inilah kisah perginya Juwita dalam sunyi.

Hujan turun perlahan, menyelimuti kota Banjarbaru dengan kesedihan tak kasat mata. Di tepi jalan kawasan Gunung Kupang, tubuh seorang perempuan muda tergeletak kaku. Wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa keteguhan, seolah ia telah bertarung habis-habisan sebelum ajal menjemput.

560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5
Baca Juga
Artikel
Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu
03 Apr 2026
Selengkapnya

Juwita, seorang jurnalis berusia 25 tahun. Masih belia. Ia telah pergi. Ia bukan sekadar wartawan biasa. Tetapi, pejuang kata yang tak kenal takut. Ia menggali kebenaran dari tanah yang kerap menelannya. Kini, tubuhnya yang tak bernyawa menjadi saksi bisu dari misteri yang mengelilingi kematiannya.

Sejak kecil, Juwita bercita-cita menjadi jurnalis. Ia ingin menulis bukan sekadar berita, tetapi keadilan. Berbekal semangatnya, ia bergabung dengan Newsway, sebuah media daring yang meliput berbagai isu di Kalimantan Selatan. Tugasnya meliputi Banjarbaru dan Martapura, daerah yang tak selalu ramah bagi mereka yang menggali terlalu dalam.

ec7df225-9df2-4999-8ebc-a417bd8ca294
Baca Juga
Artikel
Ketika Pendidikan Kehilangan Arah
23 Mei 2026
Selengkapnya

Ia bekerja dengan ketekunan yang nyaris fanatik. Tak peduli hujan, terik, atau ancaman yang mengintai, ia tetap menulis. Liputannya kerap mengungkap kasus korupsi, bisnis gelap, hingga laporan investigasi yang mengguncang pihak-pihak berkepentingan. Beberapa minggu sebelum kematiannya, Juwita tengah mengerjakan sebuah laporan tentang penyelundupan ilegal yang melibatkan oknum berpengaruh.

Pada malam itu, 22 Maret 2025, Juwita tak pernah kembali ke rumahnya. Keesokan harinya, ia ditemukan di tepi jalan kawasan Gunung Kupang. Awalnya, polisi menduga ia mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ada sesuatu yang janggal, terlalu janggal untuk diabaikan.

Juwita yang Pergi dalam Sunyi - IMG_3146 scaled 1 | Duka | Potret Online
Baca Juga
Artikel
Menakutkan, Kekerasan di Lembaga Pendidikan
19 Agu 2023
Selengkapnya

Barang-barang pribadi Juwita hilang. Ponselnya, laptopnya, dan bahkan dompetnya lenyap. Jika ini kecelakaan, mengapa jejak-jejak itu dihilangkan? Tubuhnya pun menyimpan luka-luka yang tidak biasa. Ada memar di pergelangan tangannya, luka sayatan di lengannya, dan bekas seretan di kakinya.

Rekan-rekan seprofesinya mulai bergerak. Mereka menolak menerima kematiannya sebagai takdir semata. Suara-suara mulai menggema. Ini bukan kecelakaan, ini pembunuhan.

Kasus ini mengguncang publik. Dunia jurnalistik berduka, tetapi mereka juga marah. Tekanan demi tekanan mendorong kepolisian untuk mengusut lebih dalam. Hingga akhirnya, seorang anggota TNI AL berinisial J ditetapkan sebagai tersangka.

J adalah sosok yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus yang tengah diselidiki Juwita. Apakah ia terbunuh karena tulisannya? Apakah ia tahu sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui?

Keluarga Juwita terpukul. Ibunya, seorang wanita paruh baya yang selama ini selalu mendukung anaknya, kini harus menerima kenyataan pahit bahwa putrinya tak akan pernah pulang. “Anak saya hanya ingin menyampaikan kebenaran, mengapa dia harus mati?” tangisnya pecah dalam pelukan kerabat yang ikut berduka.

Kini, proses hukum sedang berlangsung. Publik menuntut keadilan. Mereka menolak membiarkan kematian Juwita menjadi sekadar angka dalam laporan tahunan. Ia adalah simbol dari kebenaran yang terbungkam. Setiap kata yang ia tulis kini menjadi nyala api yang tak bisa dipadamkan.

Mereka yang mencintainya menangis, tetapi mereka juga bersumpah: Juwita tidak akan dilupakan. Ia akan hidup dalam setiap jurnalis yang terus menulis, dalam setiap kebenaran yang terungkap, dalam setiap suara yang menolak bungkam.

Di suatu tempat, di balik kabut senja Banjarbaru, roh Juwita mungkin tersenyum. Ia telah pergi dalam sunyi, tetapi suaranya akan tetap menggema selamanya.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah