• Latest
Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah - IMG 20250222 WA0003 | Pendidikan | Potret Online

Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah

Februari 22, 2025
Untitled design

Anak Pertama: Benarkah Selalu Lebih Mandiri dan Dewasa?

April 20, 2026
Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah - 1001377472_11zon 1 | Pendidikan | Potret Online

Ketika Sungai Mengalirkan Lebih dari Sekadar Air

April 20, 2026

Dialektika Dalam Seni, Sastra, Pendidikan, dan Pageant.

April 20, 2026
56b8b820-aa0d-4796-86af-eee26b4e8bbc

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

April 20, 2026
93f22f86-ef8e-40bd-be7a-654413740c48

Pasar, Telur, dan Sebuah Catatan Kebudayaan dari Pundensari

April 20, 2026
7bf2ddcd-f2b6-4ca2-97c0-0cc808683181

Sigupai Mambaco Gelar “Mahota Buku” April di Abdya, Diskusikan Peran Perempuan hingga Kritik Sosial

April 20, 2026
Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah - IMG_9514 | Pendidikan | Potret Online

Aceh Tak Butuh Senjata untuk Merdeka

April 20, 2026
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah

Redaksi by Redaksi
Februari 22, 2025
in Pendidikan, Puisi Essay
Reading Time: 4 mins read
0
Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah - IMG 20250222 WA0003 | Pendidikan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Mila Muzakkar

(Sejumlah siswi SMA di Cianjur, Jawa Barat, diminta melakukan tes urine untuk cek kehamilan oleh pihak sekolah) (1)


Di kelas yang seharusnya menjadi ladang ilmu,
hari ini, sesuatu mati di sana.
kebebasan, harga diri, dan kepercayaan kami, hancur berserakan di lantai dingin,
diinjak-injak tanpa ampun.

Seragam putih abu-abu ini ternoda,
bukan oleh tinta atau kecerobohan,
tapi oleh tangan-tangan mereka yang disebut pendidik.

Satu-persatu, kami dipanggil,
bukan sebagai murid, bukan sebagai pemimpi,
tapi sebagai angka dalam daftar tersangka, seperti buronan yang siap diperiksa.

Di bawah sengatan matahari,
kami berbaris dalam diam,
saling menggenggam tangan yang gemetar.

Mata kami saling bertanya, “Apa yang telah kami lakukan? Mengapa tubuh ini harus dicurigai?”

Di ambang pintu, seorang guru berdiri,
perempuan paruh baya dengan sorot mata dingin.
Sepatu haknya mengetuk lantai seperti palu hakim, seakan vonis sudah dijatuhkan bahkan sebelum kami tahu apa yang terjadi.

“Satu per satu masuk ke dalam,” katanya datar. “Jangan melawan. Ini demi kebaikan kalian.”

Amel, siswi berambut panjang itu, berdiri paling depan, menggigit bibirnya.
Tangannya gemetar, suaranya pecah, tapi keberaniannya tak runtuh: “Bu, kami mau diapakan? Kenapa hanya siswi perempuan yang dikumpulkan?

Guru itu menghela napas, seolah bosan dengan perlawanan. “Ini bukan hukuman, hanya pemeriksaan.”

Amel peserta pertama,
Sekujur tubuhnya dingin,
pipinya menjadi aliran sungai yang tak terbendung.

Seisi ruangan membeku,
angin pun tak berani berbisik.
Kami dibawa ke ruang kosong, dingin, tak berjiwa.
Dinding-dinding beton berdiri tegak, menjadi saksi bisu.

Tubuh kami diperiksa, disentuh tanpa izin, seolah kami hanya lembaran kertas yang bisa dibolak-balik sekenanya.

“Angkat bajumu sedikit,” kata seorang guru, dengan suara yang datar, seolah ini hal yang biasa.
Barisan tubuh-tubuh itu bak patung tak bernyawa,
yang tak punya hak, tak punya perasaan, semua dirampas semaunya.

Siska, seorang siswi berjilbab, terbakar hatinya,
pipinya memerah, bak api yang siap membakar hamparan hutan sawit Kalimantan.

Dengan tangan bergetar, ia memberanikan
diri melawan, “Bu, bukankah Ibu yang bilang, sekolah adalah tempat menimba Ilmu? Tempat kami menggantungkan cita-cita setinggi langit? Mengapa masalah kehamilan juga diurus di sekolah?

Amel, juga ikut meradang.
Ia menjadi singa yang siap menerkam mangsa. “Seandainya anak perempuan Ibu juga dites kehamilan, Ibu akan menerima sebagai kewajaran?”, ucapnya tegas.
Gurunya diam, matanya menghindar, bibirnya bergerak tanpa suara.

Kami menelan air mata yang mendidih di dada.
Adegan ini lebih kejam dari mimpi buruk.

Di luar, semilir angin membawa suara-suara kecurigan. “Siapa saja yang sedang diperiksa?” “Siapa yang sudah tidak perawan?”
Suara-suara itu tak ubahnya petir di antara terik matahari.

Kami melangkah keluar dengan kepala tertunduk,
bukan karena bersalah,
tapi karena rasa malu yang mereka paksakan.

Amel menatap jendela, berbisik lirih, “Apakah para penguasa melihat ini? Mereka yang duduk di Senayan, mereka yang menyebut dirinya Menteri Pendidikan?


Malam-malam kami tak lagi sunyi.
Dalam mimpi, kami masih dipanggil, diperiksa, seperti bukan manusia seutuhnya.

Di sudut kamar, Amel berbisik pada bayangannya sendiri, “Mungkinkah esok akan lebih adil pada perempuan?

Di koridor sekolah, kenangan tergantung di dinding.
Tak ada yang berbicara,
tapi semua tahu, ada luka yang tak terlihat, yang selamanya menganga.

Saat mentari terbit,
dengan kepala tegak meski langkah berat, kami membawa luka ini, melangkahkan kaki ke gedung-gedung yang membisu itu.
Sebab katanya, di sanalah kami akan dididik menjadi pintar dan sukses.

Nyatanya, sekolah tak ubahnya penjara yang dihuni barisan polisi moral.
Mereka mengajarkan kami bahwa moral tak apa diinjak-injak di depan keramaian,
bahwa perkara hamil adalah urusan perempuan saja, yang terjadi dengan sendirinya, tanpa laki-laki di sana.

Amel menatap langit.
Di sana, ia melihat Ki Hajar Dewantara menangis.
Amel pun menelan ludahnya,
memegang dadanya yang sesak,
dan ikut mengurai air mata bersama Bapak pendidikan itu.

Depok, 21 Februari 2025

Catatan

Puisi Esai ini dibuat dengan bantuan AI
(1)
https://www.detik.com/jabar/berita/d-7747905/tes-kehamilan-siswi-sma-di-cianjur-dprd-jabar-bakal-panggil-kepala-sekolah.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Tubuh-Tubuh yang Ditelanjangi di Sekolah - IMG 20250221 WA0018 | Pendidikan | Potret Online

Masih Menguntungkah Bisnis Warung Kopi di Kutaraja

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com