• Latest
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1000314515 | Ekonomi | Potret Online

Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak

Februari 7, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1001348646_11zon | Ekonomi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1001353319_11zon | Ekonomi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1001361361_11zon | Ekonomi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Februari 7, 2025
in Ekonomi, pengangguran
Reading Time: 2 mins read
0
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1000314515 | Ekonomi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Negeri ini tengah bersiap memasuki babak baru, era efisiensi total. Pemangkasan anggaran Rp 306,69 triliun telah diumumkan dengan gagah berani. Langkah ini diambil demi kestabilan ekonomi, demi masa depan yang lebih cerah. Cerah bagi siapa? Itu pertanyaan yang masih mengambang di udara, menunggu nasibnya dijawab oleh realitas.

Di kantor-kantor pemerintahan, tinta pena mulai dihemat. Kertas-kertas dokumen kini mungkin harus ditulis bolak-balik. Para pegawai negeri mungkin mulai belajar menulis dengan jurus tangan kosong, mengasah keterampilan bertelepati dengan atasan. Tidak ada lagi perjalanan dinas mewah, tidak ada lagi seminar dengan makanan prasmanan yang menggoda. Mungkin ke depan, rapat akan digelar dalam senyap, dengan masing-masing peserta berkomunikasi lewat tatapan penuh arti.

Baca Juga
  • Bitcoin untuk Zakat: Solusi atau Masalah?
  • Menyikapi Tarif Resiprokal Trump dan Kemungkinan Menjadikan Indonesia Pasar Bebas

Tapi jangan khawatir, dana bansos tetap aman. Itu semacam penghiburan bagi mereka yang bersiap menanggalkan status pekerja dan memasuki dunia baru, dunia tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan, tapi untuk sementara dengan bantuan sosial.

Di sudut kota, para buruh konstruksi mulai melirik kalender. Proyek infrastruktur banyak yang dibekukan, alat-alat berat mulai berkarat dalam diam. Para mandor berhenti berteriak, suasana proyek yang dulu riuh kini hening seperti padang pasir setelah badai. IKN, sang megaproyek kebanggaan, kini hanya bisa menatap masa depannya dengan pasrah. Menteri PU sudah bicara, anggarannya diblokir. Itu artinya, tak ada beton yang akan dicor, tak ada crane yang bergerak, tak ada tukang yang mencelupkan kuas ke ember cat. Para pekerja proyek mungkin bisa mulai menekuni seni ukir kayu atau menulis sajak tentang kemegahan yang tertunda.

Baca Juga
  • Entrepreneur Solusi Bosan Hidup
  • Bergerak Tanpa Arah: Ekonomi Rakyat dan Erosi Kepercayaan Publik

Di pasar, ibu-ibu mulai berhitung ulang. Apakah hari ini mereka bisa membeli satu kilogram beras, atau cukup setengah saja? Daya beli menurun, ekonomi melambat. Pedagang yang biasanya berteriak menawarkan dagangan kini lebih banyak termenung, bertanya-tanya apakah esok masih ada pelanggan yang mampir.

Di dunia usaha, para investor mulai resah. Apakah ini saatnya mereka menarik diri? Apakah ini pertanda bahwa negeri ini sedang menuju titik nadir? Di kafe-kafe tempat mereka biasa berdiskusi, kopi hitam kini terasa lebih pahit dari biasanya.

Baca Juga
  • TANTANGAN MEMBUKA USAHA DI ERA MEA
  • Bukan Usaha Yang Perlu Besar

Sementara itu, di meja-meja rapat yang masih bertahan, para petinggi berbicara soal strategi. Mereka bicara tentang ketahanan, tentang visi jangka panjang, tentang pemulihan ekonomi yang akan datang. Mereka optimis. Mereka harus optimis. Karena kalau mereka sendiri mulai ragu, maka kepada siapa rakyat harus berpaling?

Tapi di luar ruangan itu, di jalanan yang mulai sepi, di pabrik-pabrik yang mulai kehilangan suara mesin, di kampung-kampung yang mulai dihantui kekhawatiran, satu pertanyaan terus bergema, apakah ini efisiensi atau eliminasi?

Angka pengangguran mungkin akan meningkat. Itu hanya statistik. Tapi di balik statistik ada wajah-wajah manusia, ada cerita-cerita yang tertunda, ada harapan-harapan yang mulai dipertanyakan.

Tapi tenang. Setidaknya bansos masih ada. Untuk sementara.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Demi Efisiensi, Pengangguran Bakal Meledak - 1000315003 | Ekonomi | Potret Online

Ironi di Tanjung Rhu

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com