Secuil Kisah Driver Ojol

Secuil Kisah Driver Ojol - images 10 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Secuil Kisah Driver Ojol

Sebut saja namanya Bara. Tampan dan tegas, namun dapat mengisi kesunyian meja kopi hingga hidup suasana. Begitulah sosok pria asal Sigli yang kini sedang bertarung dengan sombongnya Kota Banda Aceh. Pernah mengelola pabrik pengolahan padi di kampung halaman, kini ia berjuang di Banda Aceh sebagai driver ojek online.

Gengsi tidak ditemukan dalam kamus kehidupannya. Beberapa hari ini menjalani profesi barunya, banyak kisah yang menarik. Pria yang dikenal cakap oral itu memang mampu membuat penumpangnya curhat.

Kemampuan itu sudah ada sejak kuliah. Ada banyak perempuan yang dekat dengannya. Duta wisata Aceh, duta bahasa dan duta batik, adalah contoh perempuan-perempuan yang pernah dekat dengannya.

Kemampuan komunikasi itu berlanjut hingga hari ini. Hal itu terbukti dengan banyaknya curhatan hati dan perasaan dari penumpang. Umumnya perempuan, dan mereka merasa nyaman mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan, bahkan perasaannya.

Salah satu kisahnya tentang seorang mahasiswi yang depresi karena skripsi. ‘Penyakit’ umum yang dirasakan mahasiswa semester kadaluarsa. Kecemasan berlebihan yang mengakibatkan susah tidur, selalu gelisah.

Biasanya hal-hal itu mengundang rombongan penyakit fisik. Ajaran Stoa biasanya memberi solusi. Dalam ajaran ini kita diharapkan hanya memikirkan apa yang dapat kita kendalikan, pikiran kita sendiri.

Namun kita sering diserang pikiran sendiri. Serangan datang setelah menyaksikan realitas. Melihat orang lain sukses, kaya, dan kenikmatan dunia lainnya. Kita enggan bersyukur karena validitas eksternal lebih utama.

Butuh pengakuan orang lain merupakan tanaman yang tumbuh tanpa buah. Bahkan merupakan parasit dalam diri manusia. Penyakit selevel kanker yang susah disembuhkan. Nyaris setiap hari datang ke dalam hati dan pikiran kita.

Apalagi masyarakat kita cenderung memandang orang berdasarkan status sosial. Semakin tinggi status sosial seseorang semakin terpandang. Semakin banyak penjilat datang bak lalat mendatangi bangkai.

Baca Juga

Hal itu pernah dialami sosok ini. Ketika mendapat penumpang kelas atas. Penumpang itu tidak percaya jika abang iparnya merupakan dosen di salah satu PTN terkenal di Aceh. “Masa sih dia abang iparmu, mana mungkin”, tutur penumpang itu.

Cerita sedih lainnya pernah dialami ketika ditipu pengguna jasa. Bermodal utang dari teman, ia membeli pesanan konsumen. Kira-kira seharga 2 ratusan rupiah. Bukan hanya itu, pemesan barang memintanya mentransfer dana sekitar ratusan ribu. Katanya akan diganti sekalian bayar pesanan barang saat tiba di lokasi.

Cerita ibu kota kejam bukan isapan jempol belaka. Bang Bara ditipu. Cerita itu tak mematahkan semangatnya. Perlahan namun pasti, ia bangkit. Kini pelanggan offlinenya bertambah. Apalagi sang calon terus memberi semangat.

Kisah ini mengingatkan kita pada presiden saat ini. Pernah di puncak, diusir dari negerinya, berpisah dengan orang yang dicintai dan terpuruk. Kemudian pernah ditipu, kalah berkali-kali dan kini parpol menumpang hidup padanya.

Dalam hal ini mas Prabowo jangan lupa, penumpang sejatinya adalah rakyat. Rakyat membayar gaji dan memberikan segala fasilitas yang diterimanya. Bukan parpol apalagi tim pemenangan pilpres.

Prabowo harus banyak belajar dari Bara, mendengarkan aspirasi penumpangnya. Bukan mendengarkan bisikan para bohir politik. Pastikan penumpang sampai di tujuan dengan selamat, dan ketagihan ngorderr lima tahun lagi.

Selamat milad bang Bara, semoga lancar orderannya. Jangan lupa, target utama.

ADVERTISEMENT
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Don Zakiyamani
Penikmat kopi tanpa gula

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.