• Latest
Penyair Syarifuddin Aliza Rilis Buku Puisi “Surat dari Hulu”

Penyair Syarifuddin Aliza Rilis Buku Puisi “Surat dari Hulu”

Oktober 23, 2023
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Penyair Syarifuddin Aliza Rilis Buku Puisi “Surat dari Hulu”

Redaksiby Redaksi
Oktober 23, 2023
Reading Time: 2 mins read
Penyair Syarifuddin Aliza Rilis Buku Puisi “Surat dari Hulu”
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Penyair Aceh Syarifuddin Aliza tahun ini merilis buku Kumpulan puisi terbarunya bertajuk “Surat dari Hulu”. Ada sebanyak 164 puisi yang dihimpun Syarifuddin Aliza dalam bukunya itu yang sebagian besar memotret realitas sosial yang berserakan di ruang publik.

Sastrawan Indonesia Sulaiman Juned yang menjadi editor sekaligus memberikan kata pengantar dalam buku tersebut mengatakan, membaca “Surat dari Hulu” karya Syarifuddin Aliza adalah membaca kegelisahan, kecemasan, kebahagiaan, kedukaan, sakit, perih, senang, baik tentang diri sang penyair maupun tentang orang lain, alam semesta, serta ketuhanan.

“Hal ini tentu bukanlah pekerjaan kebetulan, sebab penyair setiap saat membaca kehidupan lalu dikontemplasikannya dan berangkat dari realitas sosial menjadi realitas sastra (puisi),” kata Sulaiman Juned yang juga sedang menunggu kelahiran buku kumpulan esainya berjudul “Teater, Memungut Gagasan Tradisional Jadi Karya Modernitas”.

Menurut Sulaiman Juned, Syarifuddin Aliza dalam merebut fenomena yang berserakan menemukan peristiwa dalam kehidupan, lalu dengan cerdas meneriakkan kegelisahan batinnya melalui bahasa puitik yang menarik.

“Inilah yang harus dilakukan penyair ketika pikirannya berkelahi dengan gagasan yang direbutnya untuk direnungi dalam melahirkan puisi,” katanya.

Merujuk pendapatnya itu, ungkap Sulaiman, ini pula yang sedang terjadi dengan penyair Syarifuddin Aliza. Syarifuddin menemukan fenomena yang terjadi pada dirinya, alam, dan negerinya sehingga puisi-puisi dalam kumpulan bertajuk “Surat dari Hulu” berbicara tentang rindu dan kerinduannya, tentang keadilan dan ketidakadilan, tentang kritik sosial, dan tentang politik secara universal.

“Penyairnya membaca gejala sosial yang bertebaran di ruang sosial. Selanjutnya tertuang jadi puisi setelah melalui proses kontemplasi (perenungan) jiwa berangkat dari realitas sosial dirinya, keluarganya, juga masyarakat di sekitarnya,” tambah Sulaiman Juned yang juga dosen jurusan Teater ISI Padang Panjang.

Syarifuddin Aliza lahir di Cot Seumeureng, Aceh Barat pada 23 Agustus 1967. Ia mendebut karir kepenyairan secara otodidak sejak 1987. Puisinya kerap dimuat di harian lokal Serambi Indonesia pada dekade 90-an dan terkumpul dalam beberapa antologi Bersama, antara lain Seulawah, Keranda-keranda, Bulir Mutiara Pantai Barat, Deru Pesisir Pantai Barat, Antologi Puisi Pasie Karam, DKAB Aceh Barat (2016), Antologi Puisi Kopi Dunia Takengon (2016), Epitaf Kota Hujan, Padang Panjang (2018), dan beberapa antologi bersama lainnya.

Baca Juga

WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
7fb8d49c-8ec5-4336-99da-ba4fb75fa40c

Dari Cerpen ke Layar

Maret 25, 2026
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026

Ia bekerja di Kementerian Agama Aceh Barat sejak 1998 dengan berbagai posis, terakhir sebagai Penghulu Ahli Madya pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat. Di samping itu, juga berkiprah di Dewan Kesenian Aceh Barat sebagai Wakil Ketua I. Istri pertamanya Sitti Aisyah (almarhumah) yang meninggal dunia pada saat bencana tsunami Aceh 2004, adalah juga seorang penyair Bumi Teuku Umar.

Sejak 2009, ia menetap di Peureumeue Aceh Barat bersama seorang istri Masriani dan seorang anak Dian Rizqie Ananda, S.IP. (Soeryadarma Isman)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 351x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 254x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi-Puisi Alice Mohd

Puisi-Puisi Alice Mohd

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com