POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Koruptor

Cermin Retak Pendidikan Kita

Redaksi by Redaksi
September 5, 2025
in # Koruptor, #Integritas, #Kontemplasi, #Para Maling, #Profil Koruptor, #Suap, Korupsi, Kualitas pendidikan, Pendidikan
0
Cermin Retak Pendidikan Kita - IMG_4151 | # Koruptor | Potret Online

Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya

Mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, tersangka korupsi. Kalimat itu saja sudah cukup membuat dada sesak. 

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    12 Tips Penting untuk Tingkatkan Kualitas Diri
    16 Apr 2018
  • Cermin Retak Pendidikan Kita - d34b4ff2 57b6 4395 93b8 9a2307dfd9f6 | # Koruptor | Potret Online
    Aceh
    JEJAK AWAL MENJADI PENULIS
    10 Des 2023

Bagaimana mungkin seorang menteri pendidikan—yang semestinya menjadi teladan moral, yang mengajarkan kejujuran, disiplin, dan kecerdasan—justru menjadi simbol kebusukan kekuasaan?

Pendidikan yang mestinya menumbuhkan generasi jujur, dipimpin oleh sosok yang gagal menjaga dirinya sendiri.

Baca Juga
  • Cermin Retak Pendidikan Kita - IMG 20250424 WA0009 | # Koruptor | Potret Online
    #Kontemplasi
    Membangun Bangsa Melalui Kearifan Lokal dan Nasional
    26 Apr 2025
  • Cermin Retak Pendidikan Kita - IMG_2154 1 scaled | # Koruptor | Potret Online
    Artikel
    Sarjana Dalam Gendongan
    24 Jan 2025

Tetapi inilah wajah telanjang bangsa kita. Korupsi bukan lagi aib, ia telah menjadi budaya. 

Ia tak hanya tumbuh di gedung-gedung kementerian, tetapi juga di ruang kelas, di pasar, di jalanan. 

Baca Juga
  • Cermin Retak Pendidikan Kita - 0602c124 7a59 4f33 adf8 3a8cdae5e1ed | # Koruptor | Potret Online
    Artikel
    Tantangan Guru Dalam Menghadapi Kurikulum Merdeka
    29 Jul 2023
  • Cermin Retak Pendidikan Kita - 886717B9 064E 4022 855B F8106F453F61 | # Koruptor | Potret Online
    Idi
    Kacabdindik Wilayah Aceh Timur Kukuhkan Pengurus Dharma Wanita Persatuan
    20 Okt 2022

Dari jatah pembangunan desa yang digerogoti, hingga uang saku anak sekolah yang dikorupsi warung kecil dengan timbangan tak adil. 

Korupsi nyaris ada di mana-mana, seperti jamur yang tumbuh di tanah becek kebiasaan buruk.

Dulu, di era Orde Baru, wajah menteri pendidikan adalah simbol yang ditempel di dinding kelas. Ia adalah guru walau tak pernah mengajar di kelas.

Kita mengenal Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro.  Mereka selalu tampil gagah dengan jas, dasi, dan rambut tersisir rapi.

Nama-nama itu kita hafal, bahkan dijadikan teladan diam-diam. Banyak anak sekolah ketika itu bercita-cita menjadi menteri, karena menteri adalah simbol kehormatan.

Kini, di era reformasi, wajah menteri lebih sering menghiasi layar televisi bukan karena prestasi, melainkan karena status “tersangka.” KPK menjadi hakim moral baru yang mengejar mereka satu per satu. 

Menteri kehilangan kehormatan. Jabatan tak lagi melahirkan teladan, melainkan daftar tunggu menuju jeruji besi.

Di Bali, daftar itu panjang. Mantan Bupati Jembrana Winasa, mantan Bupati Buleleng Putu Bagiada, mantan Bupati Klungkung Wayan Candra, mantan Bupati Tabanan Eka Wiryastuti, mantan Bupati  Bangli Arnawa, hingga mantan  Bupati Karangasem Sumantara—satu per satu dijebloskan ke jeruji besi. Semua di era reformasi.

Reformasi yang dulu dijanjikan sebagai jalan keluar dari tirani, justru membuka ruang luas bagi korupsi berjamaah. 

Apa yang dulu dianggap penyakit Orde Baru, kini menjelma epidemi di era reformasi.

Paradoksnya, kita bangsa yang gemar bicara tentang moral, tapi seakan menikmati pesta korupsi.

Kita marah sebentar saat membaca berita, lalu lupa. Kita menyalahkan pejabat, tetapi diam-diam menutup mata ketika praktik kecil korupsi terjadi di sekitar kita. 

Kita mencaci menteri yang korup, tapi dengan ringan membenarkan kebiasaan sekolah melakukan pungutan, sumbangan atau iuran atas nama komite sekolah.

Seakan korupsi itu tak lagi kotor, melainkan hanya biaya tambahan hidup di negeri ini, bahkan dianggap “rezeki”.

Maka, ketika menteri pendidikan menjadi tersangka, sesungguhnya itu bukan hanya salah dia. Itu juga cermin kita. Cermin bangsa yang membiarkan pendidikan kehilangan rohnya. 

Pendidikan direduksi jadi proyek, jadi program, jadi angka-angka statistik—bukan lagi perjuangan membentuk manusia berintegritas.

Apalah artinya “Merdeka Belajar” jika sang menterinya terpenjara karena rakus? 

Apalah artinya kurikulum baru jika di baliknya hanya jadi ladang basah korupsi?

Apalah artinya jargon moral jika kita sendiri, sebagai bangsa, tak pernah benar-benar jujur pada diri sendiri?

Korupsi menteri pendidikan bukan sekadar skandal, ia adalah tragedi. 

Tragedi bangsa yang gagal menjadikan pendidikan sebagai benteng moral, dan malah membiarkannya jadi pasar proyek yang penuh kerakusan.

Denpasar, 5 September 2025

Previous Post

Abi Daud Hasbi, Putera Asli Meurah Mulia ( Mürid Abu Tumin, Blang Blahdeh)

Next Post

Belajar Dari Kasus Nadiem Makarim

Next Post
Cermin Retak Pendidikan Kita - 1000889612_11zon | # Koruptor | Potret Online

Belajar Dari Kasus Nadiem Makarim

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah