Baca Juga

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

Baca Juga

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

REVOLUSI KONSTITUSI

Redaksi by Redaksi
Desember 19, 2022
in Artikel, Hukum, Konstitusi
0
REVOLUSI KONSTITUSI
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Yudhie Haryono

Ini penting. Saat zaman genting. Saat kuasa kursi dikangkangi para maling. Konstitusi kita kini adalah buah invasi nir-militer dengan metoda legal warfare dengan memanfaatkan komprador lokal sebagai proxy penjajah. Kita memang juara dalam produsen babu bin pengkhianat.

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Maret 13, 2026

Akibatnya, kedaulatan warganegara tidak lagi di tangan, tetapi diambil alih secara konstitusional oleh parpol dan oligarki jahat; selanjutnya prinsip rule of law kini berubah jadi rule by law. Lahirlah negara swasta.

Mental Pancasila hilang berganti pengkhianat negara dan jika tidak ada tindakan revolusioner, maka tinggal nama. Negara Pancasila sudah ditaklukan dengan penggantian UUD 18/8/1945. Bangsa Indonesia seperti hantu: gentayangan tanpa visi besar jadi peradaban dunia.

Pertanyaan berikutnya adalah, “bagaimana aksiologi kolonial dalam usaha stabilisasi perampokan SDA negara postkolonial?” Jawabannya dengan melakukan tiga hal.

Pertama, dengan mendesain mental kolonial. Kedua, dengan mendesain nalar kolonial. Ketiga, dengan beri tafsir konstitusinya secara kolonial.

Kita tahu bahwa konstitusi suatu negara ditegakkan dalam rangka membentuk tatanan negara yang berlandaskan hukum keadilan, kesejahteraan dan kebahagiaan untuk semua warganegara (tanpa pandang bulu). Konstitusi memuat sendi-sendi pokok hukum dan juga aturan yang memiliki sifat fundamental-mengikat bagi terselenggara dan terjaminnya cita-cita bersama.

Jika kita belajar konstitusi, maka itu berarti kita belajar tentang hukum, cita-cita, target, roadmap dan tatanan suatu negara yang harus dikerjakan oleh semua warganegara. Karena itu, bernegara adalah berkonstitusi. Tanpa konstitusi, tak ada negara.

Kita tahu, istilah konstitusi berasal dari bahasa Inggris yaitu “constitution” atau bahasa Belanda “constitue.” Latinnya contitutio dan constituere. Bahasa Prancisnya “constiture,” dan Jermannya “vertassung.” Kita bisa menyebutnya undang-undang dasar (UUD 45) dan tafsiran terhadapnya. Dus, konstitusi adalah keseluruhan peraturan baik tertulis, maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan diselenggarakan dalam negara kita.

Dus, jika rusak suatu konstitusi, rusaklah semua unsur-unsur negara dan hancurlah kehidupan sebuah bangsa. Dari tesis inilah lahir diktum: jika tuan ingin melanggengkan tanah jajahan, tak usah kirim semilyar pasukan dan jutaan bom nuklir. Cukup kirim draft perubahan konstitusi negara tersebut sesuai keinginan tuan sebagai penjajah.

Kini, sudah 24 tahun proses itu dikerjakan para penjajah: internasional dengan bantuan pengkhianat lokal. Karena itu pertempuran legalisasi sebagai lanjutan dari revolusi mental dan revolusi nalar, kita harus fokuskan pada revolusi konstitusi. Reclaim the Constitution. Agar ia sesuai cita-cita negara dan sesuai janji proklamasi serta menjamin kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan bagi seluruh warganegara.

Fokus revolusi konstitusi ini dimulai dengan amandemen terhadap 11 UU produk neoliberalis. Yaitu: UU Devisa Bebas, UU Perbangkan, UU BI, UU Pasar Modal, UU PMA, UU Migas, UU Minerba, UU BUMN, UU UMKM, UU Ketenagakerjaan dan UU Jaminan Sosial. Yang lain menyusul sesegera mungkin.

Jika kita kalah dalam revolusi 11 UU ini, maka di perang akbar kedaulatan dan kemandirian akan hancur binasa. Ingatlah bahwa dari dulu, kaum bejat kolonial menternakkan 3 medan pertempuran guna stabilisasi penjajahan: battle of mind, battle of legalization and battle of sovereignty.

Pada 11 UU itulah arsitektur ekopol kolonial dipastikan kehadirannya, teori kurs direalisasikan, kesenjangan dilegalkan, kebodohan disyukuri, kejahiliyahan disembah, krisis dimetodakan, utang dipraktekkan, shadow economy dilanggengkan dan ketergantungan diilmiahkan.

Maka, perang hari ini tidak lagi menggunakan senjata, cukup dengan kertas (uang) dan pena (UU).

Kawan. Hidup kita adalah bagaimana menikmati dan belajar memecahkan masalah di sela-sela pengkhianatan.

Kasih. Hidup kita adalah bagaimana belajar dan senyum terus untuk menari di saat hujan badai menjadi-jadi.

Teman. Hidup kita adalah bagaimana terus melawan di tengah elit pemerintah dan negara yang khianat pada konstitusi.

Kalian bertanya, “mengapa kehidupan kita berbangsa dan bernegara terasa semakin runyam?” Karena bangsa dan negara ini dirancang dan diperjuangkan oleh kaum idealis dan negarawan yang mempunyai wawasan filsafat yang bersifat mendasar dan berjangka panjang; tetapi direformasi oleh para politisi yang berwawasan pendek; dan dioperasikan oleh birokrat yang tidak berwawasan mendalam.

Kini pilihannya, kalian diam dihancurkan atau bergabung dengan kami melawan: sehormat-hormatnya.(*)

Prof Yudhie Haryono, Guru Besar  Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Direktur Eksekutif Nusantara Center.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post

Pribadi Istimewa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com