Selasa, April 21, 2026

NEGARA INDONESIA

November 2022
Oleh: Redaksi

Oleh Fajar

Budaya dan seni tidak lagi hadir memberi kesejukan bagi jiwa yang dahaga, sebab budaya dan seni materialisme sudah menjadi berhala yang  punya potensi menggantikan kedudukan Tuhan. 

Bagaimana mungkin aku bersedih. Jika Ia datang menghibur.

Bagaimana mungkin aku khawatir. Sedang Ia telah memastikan

Bagaimana mungkin aku gelisah. Sedang Ia adalah ketenangan.

Bagaimana mungkin aku sengsara. Sedang Ia menemani.

Bagaimana mungkin aku mengeluh. Sedang Ia memberi karunia.

Bagaimana mungkin aku menjerit. Sedang ia mendengarkan

Bagaimana mungkin aku terkapar. Sedang Ia adalah penyembuh

Bagaimana mungkin aku miski. Sedang Ia Maha Kaya

Bagaimana mungkin aku terkalahkan. Jika Ia memenangkan

(Nyanyian asmara Musa dalam syair Hud-hud)

Dahulu kala pada saat kamu masih bayi, yang pada saat itu harta dan jiwamu dirampas oleh koloni. Pada saat itu kami datang dengan segenap jiwa dan raga untuk melepaskan-engkau dari perbudakan kolonial Belanda. 

Bahkan tidak segan-segan kami menyumbang harta benda untuk dirimu agar tumbuh dan kuat. Kini ketika engkau sudah menjadi R I dengan gagah dan perkasa Engkau lengkapkan diri dengan persenjataan. 

Ironisnya engkau menjajah kami yang dulunya kami besarkan engkau dengan segenap jiwa dan raga kami. Karena kami sudah tua dan usang ini, anak-anak kami engkau adu domba untuk saling menumpahkan darah, yang dulu kita pernah mengikrarkan bahwa kita bersaudara dengan denganmu. 

Dosa apakah yang kami perbuat kepada engkau sehingga begitu bencinya engkau terhadap kami yang menuntut dari dulu sampai sekarang untuk memperbaiki dasar-dasar Negara dan partai-partai politik itu yang dengan partai mereka melahirkan anak-anak korup. 

Kami tidak ingin lagi kekerasan karena kita bersaudara, kami hanya ingin keinsafan engkau untuk segera merawat kami yang sudah tua dan usang ini, karena jika kami meminta untuk merobohkan pancasila dengan menggantikan sebagai Negara Islam Indonesia sudah pasti engkau tidak mau.

Kami yang sudah usang ini sangat memahami engkau yang sudah buta dalam sinar. Lihat-lah sekarang apa yang sedang engkau rasakan, sedikit-demi sedikit pribumi engkau tergeser dan bahkan tertindas, kami berkeyakinan engkau akan dikuasai lagi oleh asing, yang jika dulu dikuasai oleh Belanda, sekarang engkau akan merasakan dikuasai oleh Kolonial Cina. 

Andaipun engkau meminta bantuan lagi kepada kami yang sudah tua dan usang ini, kami tidak bisa lagi membantu engkau, bukan kami tidak cinta terhadap engkau, tetapi karena kami sudah tua dan usang serta generasi kami tidak engkau rawat dengan kejujuran, padahal engkau tau, DNA kami adalah DNA yang kental terhadap jihat di jalan Allah. 

Melihat kalian yang dihina, kitab suci kalian dianggap sebagai alat untuk membohongi, hati kami sangat sedih melihat satu manusia yang menghina agama Islam itu tidak bisa engkau atasi. 

Apa nak jadi kami buat wahai saudaraku, kalau nasi jadi bubur masih ingin kami makan walau itu sudah basi. Tapi ini nasi sudah jadi taik, bagaimana hendak kami makan, sebab yang namanya taik dalam kepercayaan kami haram untuk dimakan. Oh saudaraku R I, sekian dulu tangisan kami yang sudah tua dan usang ini.

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist