Senin, April 20, 2026

ENGKAU TAK PERNAH MEMBENCI

Desember 2021
Oleh: Redaksi

 


Nurdin F.Joes:

** 

Tuhanku kekasih

Engkau tak pernah membenci

kecuali menguji

sejauh mana kami bersabar

sejauh mana kami merela 

Dengan gempa bumi

26 Desember 2004 itu

dengan skala 8,9 Skala Richter

pada pukul 07.58 lebih 38 detik

pada episentrum 2,19 lintang utara

— 95,6 bujur timur

dengan kedalaman 20 km di laut

dan menjatuhkan ribuan rumah kami

itu pun bukan kebencian dari-Mu

itu adalah ujian

sejauh apa kami bersabar

sejauh apa kami dapat merela 

Dengan tsunami 15 menit kemudian

mematikan ratusan ribu korban

menghanyutkan ribuan rumah rakyat

menjatuhkan satu ton airmata

itu pun bukan benci dari-Mu

itu adalah ujian

sejauh apa kami bersabar

sejauh apa kami dapat merela 

Tuhanku penyayang

gempa telah Kau kirimkan

tsunami telah Kau kirimkan

karena kami sengaja meminta

karena kami sengaja merela

Di luar rumah-Mu ujian ini kami minta

dari kantor-kantor pemerintah kami minta

dari tangis anak yatim itu kami minta

dari tangisan para janda kami minta

dari dayah-dayah tempat mengaji kami minta

makanya kami telah merela

makanya kami telah bersabar 

Sekarang masih saja kami minta

melalui rumah-rumah pengungsi

melalui tangan-tangan penyalur bantuan

melalui kisah-kasih cinta antarremaja

melalui kisah-kasih antarsuami dengan isteri lelaki lain

antar isteri dengan para suami perempuan lain

kami terus meminta

dan kami terus meminta 

Setiap hari kami terus saja meminta

melalui keluh-kesah bila gempa susulan tiba

bukan malah berzikir

melalui tangis meraung bila gempa susulan tiba

bukan malah beristighrfar

melalui huru-hara bila gempa susulan tiba

bukan malah menyebut-nyebut nama-Mu 

Engkau tak pernah membenci

hanya menegur

terkadang terlalu keras menegur

seperti melalui gempa dan tsunami

sehingga harta benda kami menjadi debu

anak-anak kami menjadi yatim

menjadi piatu

suami isteri kami kehilangan pasangannya

itu sebentuk cara-Mu menguji

sejauh apa kami bersabar

sekuat apa kami merela 

Sepertinya kami masih kuat bersabar

dan masih kuat pula merela

karena entah masih ulamakah

ulama kami

entah masih umarakah

umara kami

masih aparat negarakah

aparat negara kami

masih bernama manusiakah

rakyat kami

jangan-jangan mereka adalah pemain sandiwara

yang pandai bercakap di mimbar

yang hanya  berbicara di suratkabar

menjual ayat-ayat-Mu

menjual undang-undang negara

kalau bukan begitu

pasti Engkau tidak menguji

pasti Engkau tidak menegur

uji dan tegur-Mu adalah sesuatu yang diminta 

Tuhan yang pemaaf

kami masih dapat bersabar

kami telah dapat merela

kami masih meminta uji tegur-Mu 

Banda Aceh, 19 Februari 2005

*NURDIN F.JOES*, penyair pemenang berbagai lomba cipta puisi. Satu di antaranya, dengan puisi berjudul Menangislah untuk Anak Anak Negeri (Weep for the Chindren of the Land) memenangkan Lomba Cipta Puisi Untuk Kemerdekaan Namibia (Toward Namibian Independence), dilaksanakan Kantor Penerangan PBB (UNIC), 1987.

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist