• Latest

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

Maret 7, 2018
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum - 1001348646_11zon | Pendidikan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum - 1001353319_11zon | Pendidikan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum - 1001361361_11zon | Pendidikan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

Redaksi by Redaksi
Maret 7, 2018
in Pendidikan
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh Teungku Abdurahman
Dewasa ini, atau kalau sekarang namanya zaman Now, hampir di seluruh bagian negeri ini, orang-orangtua disibukkan dengan kesibukan mereka dalam mencari nafkah. Sehingga ada dua jenis pendidikan yang sangat penting, yang selama ini dibebankan kepada orangtua, kini menjadi sesuatu yang terabaikan, yaitu pendidikan agama dan pendidikan finansial. 
Seharusnya ketika penghidupan semakin sulit, orangtua dipaksa secara tidak langsung oleh keadaan untuk terjun ke dunia luar dalam rangka mencari nafkah. Pemerintah bergerak respek untuk memfokuskan diri untuk memasukkan kedua pendidikan ini ke dalam kurikulum pelajaran kita secara utuh dan masif. Mungkin untuk agama sudah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan kita, tinggal dikembangkan ke arah yang lebih baik dan lebih intensif lagi. Namun untuk pendidikan finansial masih belum. Terutama untuk kalangan menengah ke bawah. 
Seringkali anak-anak mereka sama sekali tidak terbekali dengan wawasan finansial. Mungkin agak sedikit berbeda dengan kalangan menengah ke atas, yang mungkin meskipun mereka tidak teredukasi dalam konteks pendidikan, mereka tetap mampu mempelajari hal yang demikian melalui penglihatan atau contoh terhadap kehidupan lingkungan sekitar mereka yang lebih terdidik untuk hal tersebut. Tetapi itu hanya kemungkinan saja, kebanyakannya tetap saja masih belum terdidik. Itu bisa dilihat dari seberapa banyaknya keturunan saudagar yang jatuh dalam kesulitan finansial. 
Tapi sebelum kita melanjutkan bahasan kita, saya ingin cerita sedikit tentang suatu kerajaan yang pernah berjaya di dataran Nusantara, dimana kerajaan tersebut diisi oleh ahli ahli di bidang perdagangan dan finansial. Kerajaan itu adalah Aceh Darussalam. Dahulu Aceh, diisi oleh oleh pakar pakar di bidang perdagangan dan finansial. Dimana Pusat Perdagangan di Asia Tenggara berada di sana, dan itu menjadikan Aceh sebagai salah satu negeri terkaya pada masanya.
Ada satu hal yang menarik, ketika awal awal mula kemerdekaan Indonesia. Entah dari mana asal mulanya, terbentuklah pemikiran-pemikiran yang menjauhkan warga warganya dari budaya keuangan dan perdagangan. Kemudian, makin lama terbentuk pemikiran pemikiran dimana kebanyakan darinya terfokus pada bidang pemerintahan dan kepegawaian. Keuangan dan Perdagangan ditinggalkan dan menjadi “Pegawai” begitu di junjung tinggi. 
Saya rasa selanjutnya tidak usah kita ceritakan lagi, karena kita sudah tahu kondisi Aceh sekarang ya. Kondisi dimana kalimat “1 jt/KK saja diterima mentah mentah. Keilmuan analisis finansial warganya sangat tidak teruji. Baik yang mengatakan dan mempercayai, dua duanya menurut saya agak membutuhkan pencerahan. Hehehehe. . . Mari kita kembalikan pada bahasannya. 
Dunia pendidikan kita tidak mengajarkan mengambil keputusan finansial secara tepat, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan keuangan mungkin sangat terabaikan. Sehingga jangankan orang yang tidak berpendidikan, orang orang sekelas menteri dan presiden saja mungkin saja sering mengambil keputusan finansial yang salah. Kebijaksanaan dan pengetahuan mereka dalam mengambil keputusan finansial sangat tidak teruji dan sangat tidak boleh dicontoh. 
Saya kerap kali memandang jauh ke arah masa depan, dimana saya mencoba membayangkan bagaimana keadaan bangsa ini. Apa yang akan terjadi di masa depan, jika jumlah orang yang menggantungkan masalah finansial dan kesehatan mereka kepada pemerintah, sedangkan Pemerintah saja dari masa ke masa semakin sering salah dalam mengambil keputusan finansial mereka dalam konteks kepemerintahan? Ini berdampak kepada semakin buruknya keadaan finansial negara. Sementara pada sisi yang lain, jumlah mereka yang tergantung semakin meningkat. Coba anda bayangkan, apa yang terjadi jika jaminan Pengobatan dan Pendidikan kekurangan dana? Saya rasa gejala itu sudah mulai terlihat sekarang. Kemarin di kampus, katalog untuk Mahasiswa baru sudah hilang dari peredaran, sistem Online kampus mengalami kemerosotan akibat kekurangan dana, dan dosen dipress mengajar berlebihan karena kurangnya tenaga akibat keterbatasan anggaran. 
Pertanyaan kunci dari semua ini adalah “bagaimana sebuah bangsa bisa bertahan pengajaran finansial, jika keilmuan tentang keputusan finansial hanya diserahkan kepada para orangtua saja, yang semakin sibuk dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka ?” 
Sementara kalau dilihat, dari tahun demi tahun, negeri ini semakin diisi oleh orang orang yang semakin tidak mengerti masalah finansial. Bahkan akhlak yang diajarkan di sekolahpun ikut tercoreng keilmuannya akibat masalah masalah yang berhubungan langsung dengan suatu keputusan finansial. Seperti berita picisan tentang pertumbuhan ekonomi daerah atau negara, ataupun berita kesalahan keputusan finansial yang ditutup-tutupi. 
Jawabannya, pasti tidak bisa, tidak akan pernah bisa. Jadi sudah saatnya pemerintah menghadirkan pendidikan terkait dengan keilmuan dibidang finansial. 
Jika tidak.
Pertanyaannya adalah, sampai kapan semuanya harus berlangsung seperti ini ?

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Generasi Zaman Now Lebih Kreatif?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com