• Latest

Berfikir Nasionalis Untuk Majukan Perfilman Indonesia

Oktober 17, 2016
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Berfikir Nasionalis Untuk Majukan Perfilman Indonesia

Redaksiby Redaksi
Februari 9, 2025
Reading Time: 4 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ilustrasi /forbes.com

Oleh Donna Issabella

Mengapa orang Indonesia lebih menyukai film luar negeri dari pada film Indonesia? Sepertinya sangat mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasti banyak orang beranggapan film luar negeri lebih keren, lebih menarik, lebih seru dengan animasi yang luar biasa. Ya, itu adalah bebrapa jawaban yang benar karena film luar negeri sudah menggunakan teknologi yang canggih nan super. Sedangkan kita dari mana kita bisa menggunakan peralatan film yang canggih atau kasarnya uang darimana supaya kita bisa menggunakan peralatan film yang canggih itu?

Baca Juga

Apa Kata Dunia?

Maret 13, 2026
“Walid nak Dewi, Boleh?”

“Walid nak Dewi, Boleh?”

April 18, 2025

Mengenal Budaya Sensor Mandiri

April 18, 2018

Padahal jika orang-orang Indonesia mau menonton film lokal buatan Indonesia sendiri, sangat tidak diragukan perfilman Indonesia bisa maju. Secara teknis seperti ini, jika banyak yang menonton film tersebut, maka banyaklah juga pendapatan dari production house tersebut. Seandainya production house tersebut balik modal dan merasa puas akan hasil kerja kerasnya selama ini, production house tersebut pasti akan membuat karya film yang jauh lebih bagus dengan modal besar yang telah mereka kantongi. Pernyataan diatas langsung dari salah satu produser film yang pernah berbincang-bincang dengan saya yang tak lain adalah tante saya.

Saya sebagai mahasiswi broadcasting yang tidak jauh dari dunia perfilman sangat prihatin dengan film-film Indonesia yang kurang banyak peminatnya di negara sendiri. Saya juga pernah merasakan sulitnya membuat film pada masa SMK, saat itu saya hanya disuruh membuat karya film pendek berdurasi 24 menit dan itu sangatlah tidak mudah. Dengan berbagai proses panjang, barulah film itu bisa saya tontonkan di sekolah. Makanya saya tahu betul rasa capeknya para film maker membuat suatu karya utuh.

Mengapa film Indonesia masih kurang dicintai oleh orang Indonesia sendiri? Ada berbagai macam alasan, namun disini saya melihat bahwa film-film Indonesia dari segi karakter pemain masih sangat kurang melekat di hati masyarakat. Sejauh ini, Indonesia masih kurang membuat ide cerita yang bisa meluluhkan hati masyarakat. Banyak ide-ide cerita yang di ambil dari novel-novel best seller. Contohnya, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, 5 cm, Laskar Pelangi, Supernova, Negeri 5 Menara,Surat Kecil Untuk Tuhan, Hafalan Shalat Delisa dan lain-lain.

Namun, sebenarnya itu tidak menjadi sebuah masalah, karena novel-novelnya pun asli Indonesia. Film-film Indonesia yang ceritanya diangkat dari novel pun memang sedang digandrungi oleh masyarakat, saya pun begitu. Karena mungkin dengan sudah terbitnya novel memberikan sedikit gambaran bagi para calon penonton dan akhirnya pada saat menonton kita bisa tau sejauh mana film maker Indonesia bisa memvisualisasikan dalam film. Disana lah para penonton menilai Film Indonesia. Jika sesuai dengan bayangan penonton, tentu penonton akan senang dan memberikan apresiasi, tapi jika tidak inilah yang dikhawatirkan, penonton akan kecewa dan menganggap film Indonesia memang masih di bawah.

Seharusnya penonton Film di Indonesia harus lebih aktif dengan memberikan kritik maupun saran kepada production house, maupun menteri perfilman Indonesia. Tidak hanya masalah BBM, Gas, Kenaikan harga bahan pokok saja yang perlu dikritik pedas, tapi masalah perfilman juga butuh untuk dipertegas. Aktifnya penonton Indonesia membuktikan kepeduliannya kepada perfilman Indonesia.

Perlu diingat-ingat bahwa sebenarnya sudah banyak film Indonesia yang mulai merambah perfilman Internasional. Sebut saja film bergenre action The Raid dan Merantau yang menembus pasar Amerika. Tak hanya itu, banyak film yang sudah lebih dulu tayang hingga keluar negeri, yaitu Ada Apa Dengan Cinta, Rumah Dara, Sang Pemimpi, Berbagi Suami, Merah Putih II-Darah Garuda, Laskar Pelangi, Pintu Terlarang dll.

Dari sekian banyak banyak film Indonesia yang berprestasi membuktikan bahwa sudah sejak dari dulu perfilman Indonesia bangkit, namun kurang support dan perhatian dari masyarakat Indonesia sendiri. Orang-orang Indonesia masih berpendapat bahwa kalau sudah menonton film luar negeri, maka dia sudahlah keren. Jadi, pantanglah melewatkan salah satu film luar negeri yang padahal film tersebut tidak mengandung unsur pendidikan bagi penontonnya dengan sinematografi yang biasa saja. Anak-anak muda zaman sekarang juga saya perhatikan malah salah gaul, terkadang menonton film luar negeri hanya untuk pamer di sosial media. Hanya karena itu mereka dulu-duluan menonton film luar negeri, hal itu sangat memprihatinkan. Jika kalian berfikir sedikit lebih nasionalis, sebenarnya kita tidak diuntungkan. Coba bandingkan dengan kita menonton film Indonesia di Bioskop, uang yang balik modal kepada production house akan dibuatkan film yang lebih baik lagi dan tentu saja memperbaiki kualitas film lokal.

Saya pernah mendengar berita bahwa yang salah satu alasan film Indonesia cepat turun dari bioskop adalah karena begitu banyaknya film luar negeri yang masuk dengan mudahnya ke tanah air. Sungguh disayangkan mengapa pemerintah tidak memperhatikan perfilman lokal sendiri. Karena alasan ingin balik modal lah banyak production house menjual film mereka di televisi begitu cepatnya. Ini lah saudara-saudara alasan mengapa banyak film Indonesia yang baru 3 bulan turun dari layar lebar sudah tayang di layar kaca.

Semua memang kembali lagi pada minat dan selera masyarakat masing-masing. Saya hanya memberikan sedikit opini dan saran, karena saya akan menjadi calon sineas Indonesia dan tentunya ini memotivasi saya untuk berkarya jauh lebih baik lagi. Masa kita bela-bela nonton film luar negeri di bioskop dengan kisaran harga Rp. 25.000 hingga Rp 35.000r atau bahkan Rp 50.000 hingga Rp.75.000 yang sebenarnya tidak menguntungkan untuk kita. Kita sebagai warga negara yang baik sepantasnya lah untuk selalu mendukung karya negeri sendiri, karena karya sangatlah mahal. Coba lah untuk berfikir nasionalis untuk kemajuan negara kita sendiri khususnya dalam bidang perfilman, lebih baik kalian mendownload film luar negeri dan tontonlah film lokal di bioskop. ^^

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 334x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Mengapa Hari Kartini ? Bukan yang Lain

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com