• Latest
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1000304869 | Perempuan | Potret Online

Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar

Februari 4, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1001348646_11zon | Perempuan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1001353319_11zon | Perempuan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1001361361_11zon | Perempuan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Februari 4, 2025
in Perempuan, Tokoh
Reading Time: 5 mins read
0
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1000304869 | Perempuan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Baca Juga
  • Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK
  • Menjaga Integritas dan Kesehatan Finalis Melalui Gerakan Self Love

Andi Depu Maraddia Balanipa, pahlawan wanita berjilbab asal Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seorang pejuang yang memimpin pasukan melawan Belanda pada 1946. Perjuangan Andi Depu tidak sebentar. Ia termasuk pahlawan wanita yang ikut berperang melawan Belanda dan Jepang. [1]

***

Baca Juga
  • Apakah Perempuan Akademik yang Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga Tidak Produktif?
  • Perempuan yang Tak Bisa Dibungkam

Di ufuk Sulawesi Barat, Mandar memeluk laut,

Di sana lahir seorang perempuan dengan tekad membatu.

Baca Juga
  • Isu-isu Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Remaja
  • Menulislah dan Anda Akan Bahagia

Andi Depu, namanya terukir dalam sejarah,

Bukan sekadar ibu bangsa,

Namun penjaga nyala api kemerdekaan.

Di tanah penuh ombak dan buih,

Ia tak sekadar berdiri.

Ia berlari, membawa panji merah putih,

Di tengah ancaman penjajah yang merendahkan negeri.

Baginya, tanah Mandar bukan sekadar kampung,

Namun ibu yang harus dijaga.

Tahun-tahun kolonial menancapkan luka,

Darah dan air mata menghias tiap sudut tanah air.

Namun Andi Depu tak gentar,

Ia seorang perempuan,

Namun keberaniannya melampaui gunung-gunung tinggi.

Membentangkan bendera pusaka,

Ia berteriak kepada dunia,

“Ini Mandar, tanah kami, bukan untuk dirampas!”

Ketika Belanda mencoba merenggut kebebasan,

Andi Depu berdiri di garis depan.

Seakan-akan tubuhnya adalah benteng,

Yang menolak setiap peluru penjajah.

Ia tak gentar, bahkan ketika kematian mendekat,

Karena bagi Andi Depu,

Mati demi tanah air adalah hidup yang sesungguhnya.

Di sebuah subuh yang basah oleh embun,

Mandar dirundung ketakutan.

Penjajah datang dengan bayonet dan senapan,

Namun Andi Depu maju,

Menyematkan harapan pada setiap langkahnya.

“Ini republik, rumah kita bersama,

Tak akan kubiarkan diinjak oleh kaki asing.”

Ketika sang merah putih berkibar,

Itu bukan sekadar kain,

Namun simbol perjuangan, cinta, dan keberanian.

Andi Depu menjahitnya dengan darah,

Menegakkannya dengan doa,

Dan melindunginya dengan nyawa.

Ia tak hanya melawan dengan senjata,

Namun dengan pendidikan dan kata-kata.

“Anak-anak Mandar harus belajar,” katanya,

“Karena pena lebih tajam dari pedang.”

Ia mengajarkan cinta pada bangsa,

Menghidupkan semangat perjuangan,

Di hati generasi yang hampir padam.

Namun perjuangan bukan tanpa harga.

Keluarganya menjadi sasaran,

Rumahnya dibakar, tanahnya dirampas.

Namun ia tersenyum, meski hatinya bergetar,

Karena ia tahu, kemerdekaan lebih berharga

Dari apa pun yang bisa dimiliki seorang manusia.

Belanda berusaha menundukkannya,

Dengan janji dan ancaman.

Namun Andi Depu tetap teguh,

“Jangan pernah menjual jiwa untuk kenyamanan.”

Katanya kepada anak-anaknya,

Dan kepada rakyat yang ia cintai.

Ketika republik ini berdiri,

Ia bukan hanya menyaksikan,

Namun menjadi bagian dari sejarahnya.

Di bawah bendera merah putih,

Ia berdoa untuk tanah airnya,

Agar selalu merdeka, selalu berjaya.

Kini, nama Andi Depu hidup dalam setiap ombak Mandar,

Dalam nyanyian angin di pantai,

Dan di hati setiap anak Indonesia.

Ia bukan hanya seorang pahlawan,

Namun cahaya yang tak pernah padam.

Ia mengajarkan bahwa perempuan adalah penjaga bangsa,

Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin,

Dan bahwa cinta pada tanah air adalah warisan terbesar.

Andi Depu, sang lentera dari Mandar,

Menyala abadi dalam sejarah bangsa.

Ia adalah bukti bahwa perjuangan,

Bukan sekadar milik mereka yang berpedang,

Namun juga milik mereka yang berjiwa besar,

Yang mencintai negerinya dengan seluruh hati.

***

Rumah Kayu Cepu, 28 Januari 2025.

CATATAN:

[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Andi Depu yang lahir di Tinambung, Mandar, Sulawesi Barat, pada 1907. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang berani mengibarkan bendera merah putih di masa penjajahan Belanda.

https://tirto.id/pahlawan-nasional-2018-kisah-andi-depu-bertempur-demi-republik-c9E9

Share234SendTweet146Share
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Next Post
Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar - 1000305005 | Perempuan | Potret Online

Bahlil yang Bergeming

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com