Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
(buat sahabatku, Tabrani Yunis) Tab, saya - anak berspeda jauh lewat pulang, rapat maghrib - berdetak, pecah hati, gemuruh risau...
Oleh Zab Bransah Langsa Aceh Indonesia Jiwa ini kerinduan bersemayam kisah antara dua batas selat Malaka antara Kuala Langsa Tiap...
*Satu tahun, lengkap dan selesai* *namun hakikatnya, berkecai.* *Yang lebih abadi* *hanya puisi, koma, dan titik ini.* *Jika dikenang,...
Oleh Rosli K.Matari Malaysia Kemiskinan itu, harta bukan jiwa. Miskin apa, ada sungai, telaga sumur, mana habis air? Sawah...
Zulkifli Abdy Catatan harian ku akan berakhir Seiring tahun akan berganti 2022 akan segera pergi 2023 telah menanti Pandemi...
Kopi, Mawar Tidurlah, mawar malam hanya sebentar jika lena. Esok terjaga hari cepat sekali, pagi. Bahkan, mimpi bergegas pergi. Aku...
Oleh Zulkifli Abdy Kegamangan malam merangkak mengikuti detak jarum jam Perlahan mengunci hening huma di segara yang telah ditinggal kelana...
Oleh Tabrani Yunis ( Buat anakku Amalina Khairunnisa yang pergi bersama tsunami) Sambil kau berlari-lari Kau mengikuti Mengejar ayah pergi...
Puisi Zulkifli Abdy Gempa.., oh gempa dahsyat sekali bumi tiba-tiba berguncang Tsunami.., oh tsunami ngeri sekali ombak gulung-gemulung Gempa Aceh..,...
Oleh Zulkifli Abdy Sejenak kutertegun.., Tiba-tiba saja orang-orang mulai berbenah Hari berganti bulan dan bulan pun berbilang dua belas Semuanya...
© 2026 potretonline.com