Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Tabrani Yunis Dik, Musim pancaroba itu tlah menerpa Sawah dan padang bagai savana Kekeringan mulai melanda Mengguncang jiwa-jiwa...
Oleh: Muhrain kadangkala kita ingin tertawa tapi masihkah tertawa diperlukan ketika perut melilit lapar dahaga? remah roti jatuh di sekujur...
Kukumu Kuku Apa           Oleh Usfa Sri Rezeki Kuku.... cuma dua huruf...
Selepas Hujan Oleh Mohammad Adid AB Rahman Pelangi turun dari persembunyiannya selepas hujan bangga mempertoton warna-warna bahasa indah damaikan jiwa...
Oleh Muhrain kita sering terbiasa dikalahkan meski bukan karena kalah sebenar jatuh dan bangkit menuju hari esok demikian ranumnya...
Oleh Zab Bransah. - Langsa Aceh Kubersujud di atas sajadah cinta bagiNya Melalui hamba setiap tugas lima waktu bagi setiap...
anto narasoma *BULAN (2)* bulan, kucairkan doa ini pada cahaya purnamamu yang berjenjang menatap kekeruhan di hatiku sebab, doa-doa dalam...
Buluh Bambu Karya : Nur Fauzi, S.Pd Bumi ringkih menjadi saksi Jejak semangat anak negeri Jiwa pengabdi bangga Berbekal buluh...
Oleh Zainuddin Husein ( Jon Sanova) Kopi itu pahit. Karena rasa memang suka Jika aku temu rasa manis Apa yang...
Oleh  Zulkifli Abdy Laksana bahtera diamuk badai Angan tertawan di remang senja Tiang di geladak berderik-derik Anak buah kapal...
© 2026 potretonline.com






