
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Mimpi di Pabrik Kenyataan Di pabrik tua di pinggir kota, mimpi-mimpi dilahirkan seperti barang cacat, tanpa jaminan mutu, tanpa nomor...
Baca SelengkapnyaDetailsKertas seksi Kertas seksi Menarik menggoda setiap jiwa Mengundang nyali Penuh percaya diri Kertas seksi Menggoda si jelita Hingga merelakan mahkota Kertas seksi Obat kuat para lelaki Bernegosiasi membeli harga diri Kertas seksi Mampu membeli keadilan Walau timbangan tak seimbang Kertas seksi Makanan pavorit para tikus pengerat Berkeliaran di gedung-gedung bertingkat Kertas seksi Mampu memisahkan persaudaraan Menumpahkan darah-darah segar...
Baca SelengkapnyaDetailsDAHI BERSUJUD KE DALAM Dahikulebih percaya pada lukadaripada lantai sajadah. Ia bersujud ke dalammencari tuhandi sela kerut usia. 2025 PUNGGUNG...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rika Puji Lestari(Anggota Satupena Kab. Blora) Di ujung senja, saat langit merekah luka,aku menulis puisi yang tak jadi apa-apa.Kata-katanya...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Zab Bransah Jiwa selalu rindu damai itu. Cinta sesama saling menghargaiCinta anugerah bagi persaudaraan satu jiwa.jiwa cintaPerdamaian untuk...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Muslimin Lamongan bunga-bunga di semesta semerbak indah tak terhinggaaku mencintai bunga-bunga dan penciptanyaMaha Indah terbata lidah mengagum kataingin kusunting...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rika Puji Lestari(Anggota Satupena Kab. Blora) Di ujung pena, sejarah ditulis,Di atas kertas, mimpi-mimpi ditanam.Setiap guratan adalah jejak abadi,tentang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Jengki Sunarta Seribu Kuli Di konstruksi pencakar langitSeribu kuli meniti bilah-bilah besiDi puncak tower Tuhan duduk santaiMembaca teka-tekiYang dilontarkan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Luhur Susilo(Guru SMPN 1 Sambong, Blora) Kamu,adalah nama terakhir yang kupinta dalam gelap. Namun yang turun,hanya sunyi. Barangkali,aku tak...
Baca SelengkapnyaDetailsSAJAK BALON GAS balon yang engkau pegang telah menjadi satu warna engkau yang membuatnya abadi gas yang ada di dalamnya...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com