Oleh: Anies SeptivirawanSinar matahari masih belum terlalu menyengat kulitku. Masih pagi.Aku mau mengisi kekosongan perutku dengan makanan khas kotaku, Situbondo,...
.Karya : Ilhamdi Sulaiman Setiap Kali Gaji Mampir ketangannya, Syamsudin tak pernah lupa membelikan kebutuhan sehari-hari Halimah.Sebuah isyarat kasih yang...
Bayang-bayang Kemiskinan Di tengah kota, yang sibuk dan ramaiTerdapat bayangan, yang tersembunyiKemiskinan, yang menyerang dengan ganasMengambil harapan, dan meninggalkan kesedihan...
Oleh: Siti Hajar Tradisi merantau merupakan bagian penting dari sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie. Tidak jarang, laki-laki yang telah menikah juga merantau meninggalkan istrinya (bahkan dalam kondisi hamil) bukanlah hal yang dianggap aneh. Justru, praktik ini dipandang sebagai wujud tanggung jawab dan kematangan sosial. Banyak laki-laki Pidie yang baru kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun, bahkan saat anak mereka telah berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Tulisan ini mengkaji secara lebih dalam tradisi merantau bagi laki-laki di Pidie, dengan menelusuri latar belakang sosiokultural, alasan non-ekonomi, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga dan identitas kultural pada zaman dulu. Sejarah dan Akar Tradisi Merantau di Pidie...