Dengarkan Artikel
Oleh; Siti Hajar
Di usia yang ke-22 tahun, Majalah POTRET, telah menjadi saksi perjalanan panjang pemberitaan yang mendalam dan inspiratif. Saya, Siti Hajar, ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Majalah POTRET. Tetaplah bersemangat menyajikan ulasan-ulasan bermutu, mulai dari persoalan kehidupan berbangsa dan beragama, hingga hal-hal kecil yang sering terlupakan, tetapi sarat makna.
Majalah POTRET memiliki tempat istimewa di hati saya. Di sinilah tulisan pertama saya dipublikasikan, membuka jalan bagi perjalanan saya di dunia kepenulisan. Kala itu, saya baru saja menyelesaikan kelas menulis yang diasuh oleh Pak Tabrani Yunis, seorang Founder sekaligus Redaktur Majalah POTRET yang penuh dedikasi. Saya masih ingat betul pesan beliau yang terus terpatri hingga kini:
“Kalau menulis, menulis saja terus, jangan diedit di tengah jalan. Selesaikan dulu, lalu baca kembali, baru kemudian edit, buang, atau tambal sulam jika perlu.”
Tulisan pertama saya adalah tentang human trafficking. Dengan modal membaca jurnal dan artikel terkini, saya menyusun tulisan tersebut. Saya merasa sudah cukup memahami teknik menulis, tetapi kenyataannya tulisan saya penuh kekurangan.
📚 Artikel Terkait
Pak Tabrani Yunis dengan sabar mengedit tulisan itu, hingga menjadi layak baca dan layak muat. Kebaikan beliau itulah yang menjadi pijakan awal saya sebagai seorang penulis.
Saya juga masih ingat ketika tulisan saya tentang Keong Mas dimuat di Majalah POTRET. Tulisan itu membahas potensi keong mas—yang sering dianggap hama bagi petani—sebagai bahan pakan ternak berprotein tinggi. Ketika melihat tulisan itu terpampang di majalah, rasanya seperti mimpi. Saya bahkan membeli majalahnya di kios koran di daerah Garuda Pasar Aceh dan memamerkannya ke keluarga serta teman-teman. Betapa bangganya saya saat itu!
Kini, dua dekade telah berlalu, dan saya kembali menulis untuk Potret Online. Semoga Bapak Redaktur Potret selalu sabar menghadapi naskah-naskah saya yang masih memerlukan polesan editor.
Alhamdulillah, perjalanan menulis ini telah membawa saya ke titik yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya kini memiliki delapan buku cetak, mulai dari kumpulan cerpen, novel, buku cerita anak, hingga buku nonfiksi. Dan juga sekitar 30 buku antologi.
Namun, semua ini tidak akan terwujud tanpa langkah awal yang dimulai di Majalah POTRET. Terima kasih, Majalah POTRET, atas kesempatan dan bimbingannya. Semoga terus menjadi cahaya dalam dunia literasi, menginspirasi lebih banyak orang untuk menulis dan berkarya.
Selamat ulang tahun yang ke-22, Majalah POTRET! Tetaplah menjadi potret kehidupan yang bermakna.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






