Dengarkan Artikel
Oleh Nurbadriyah
Pengawas SMA Provinsi Banten dan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Motivator Nasional
Di sebuah sekolah menengah, ada seorang guru bernama Risa yang sudah mengabdi selama belasan tahun. Ia dikenal sebagai guru yang penuh dedikasi, tetapi akhir-akhir ini, wajah Risa sering terlihat lelah. Berbagai perubahan sistem pendidikan, tugas administratif yang menumpuk, serta dinamika siswa zaman sekarang membuat Risa merasa terbebani.
Suatu hari, di ruang guru, Risa melontarkan keluhan, “Kenapa sekarang mengajar terasa begitu berat? Kurikulum terus berubah, siswa semakin sulit diarahkan, dan kita harus mengerjakan begitu banyak hal di luar tugas utama mengajar. Kadang, rasanya ingin menyerah.”
Rekan-rekan guru mendengarkan, namun suasana menjadi canggung. Beberapa mulai menghindari Risa, karena merasa energinya negatif. Bahkan, kepala sekolah memanggilnya untuk membicarakan performanya yang mulai menurun.
Sore itu, Risa duduk sendirian di kelas setelah jam pelajaran selesai. Ia merenung, mencoba mencari kembali alasan mengapa ia memilih menjadi guru. Pandangannya jatuh pada papan tulis, tempat ia menuliskan pelajaran hari itu. Ia teringat betapa dulu ia bersemangat berbagi ilmu dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
📚 Artikel Terkait
Saat itu, seorang guru senior, Bu Hana, mendekatinya. Dengan senyuman lembut, Bu Hana berkata, “Risa, kamu tahu filosofi kura-kura? Cangkang berat di punggung kura-kura memang membuatnya berjalan lambat, tetapi itu juga rumahnya. Tanpa cangkang itu, ia tidak punya perlindungan dan tidak punya tempat berlindung. Sama seperti kita sebagai guru. Mengajar mungkin terasa berat, tapi inilah rumah kita, tempat kita mencari nafkah dan memberi makna bagi hidup kita.”
Risa tertegun. Bu Hana melanjutkan, “Kuncinya adalah sabar dan menikmati perjalanan ini. Jangan biarkan keluhan merusak dirimu dan bagaimana orang lain memandangmu. Semakin kita mengeluh, semakin buruk dampaknya bagi karier kita, dan orang-orang di sekitar kita pun akan kehilangan respek. Sebaliknya, kalau kita menjalani tugas dengan tekun dan penuh inovasi, suasana kerja akan lebih menyenangkan, baik untuk kita maupun untuk siswa kita.”
Kata-kata Bu Hana menampar kesadaran Risa. Ia mulai melihat pekerjaannya dari sudut pandang yang berbeda. Esok harinya, ia datang ke kelas dengan semangat baru. Ia mencoba pendekatan kreatif dalam mengajar, lebih banyak tersenyum, dan berusaha menciptakan suasana belajar yang hangat.
Perlahan, perubahan itu dirasakan oleh siswa dan rekan-rekannya. Hubungan Risa dengan mereka membaik, dan ia mulai menikmati kembali perannya sebagai seorang guru.
**Pelajaran dari Risa**
Tugas mengajar, seperti cangkang kura-kura, memang terasa berat, tetapi ia adalah bagian dari kehidupan kita yang memberi perlindungan dan makna. Dengan kesabaran, ketekunan, dan sikap positif, setiap tantangan bisa dihadapi, dan perjalanan itu akan menjadi lebih menyenangkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






