Minggu, April 19, 2026

Utang dan Kecepatan Cahaya Bernama Whoosh

Utang dan Kecepatan Cahaya Bernama Whoosh - ae33a56b 82a7 4996 af47 e70473b08acd | Artificial Intelligence | Potret Online
Ilustrasi: Utang dan Kecepatan Cahaya Bernama Whoosh

Oleh Rosadi Jamani

Wak, kalau ente dengarkan pidato Luhut, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan negeri kita ini. Semua bisa dibereskan. Termasuk soal utang Whoosh. APBN, aman. Kata kuncingnya, restrukturalisasi utang. Itu aja. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Rp116 triliun. Angka yang kalau disusun jadi tumpukan uang seribuan, bisa menjulang sampai menutupi monas, dan sedikit lagi nyenggol satelit Starlink. Tapi tenang, kata Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua DEN sekaligus manusia dengan portofolio jabatan lebih banyak dari jumlah stasiun Whoosh. “Tidak perlu khawatir.” Katanya, utang kereta cepat Whoosh tidak akan pakai APBN. Bukan uang rakyat, bukan pajak, bukan tabungan siapa pun. Mungkin hasil jualan NFT proyek, atau rezeki nomplok dari dimensi lain.

“Whoosh itu tinggal restructuring saja,” ujar Luhut dengan tenang, seperti orang bicara soal mencicil panci di marketplace. Inilah filsafat baru ekonomi Nusantara. Di mana kata “restrukturisasi” bukan lagi istilah teknis, tapi mantra kebangsaan. Sebuah jurus sakti untuk mengubah utang jadi “visi jangka panjang”, bunga jadi “inspirasi pertumbuhan”, dan defisit jadi “momentum kebersamaan.”

Bagi yang awam, restrukturisasi utang itu sederhananya adalah memindahkan beban hidup ke masa depan, agar hari ini tampak bahagia. Uang tetap tidak ada, tapi jadwal paniknya diatur ulang. Persis kayak mahasiswa yang bilang, “Nanti aja skripsi, masih lama sidangnya.”

Katanya, China sudah setuju. Artinya, dunia masih percaya, kita bangsa yang selalu membayar, meski pelan, meski pakai doa. “Saya sudah bicara dengan China,” kata Luhut. “Karena saya yang dari awal mengerjakan itu. Saya terima barang sudah busuk, kita audit, BPKP, kita benerin.” Ini bukan proyek, ini eksorsisme ekonomi. Barang busuk dipulihkan, ditaburi audit, lalu diserahkan ke BPKP biar beraroma legalitas.

Tapi jangan takut, Prabowo katanya bakal bikin Keppres. Karena di negeri ini, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi dengan surat sakti bernomor dan berstempel garuda. “Kita tinggal tunggu Keppres,” kata Luhut. Di titik itu, seluruh bangsa menunggu seperti menunggu spoiler sinetron: apakah Keppres ini akan menyelamatkan Rp116 triliun, atau justru membuka season baru restrukturisasi jilid dua.

Di sisi lain, Danantara, lembaga super yang mengelola aset BUMN seolah mengelola semesta, sedang “melakukan evaluasi mendalam.” CEO-nya, Rosan Roeslani, bicara dengan nada penuh keyakinan, mereka akan menemukan solusi. Mungkin dari dividen BUMN, mungkin dari ilham tengah malam. “Kami akan sampaikan ke semua kementerian,” katanya. Terjemahan bebas, tunggu kami selesai bingung dulu.

Sementara itu, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa, yang lagi sibuk menghindari godaan untuk menyalakan APBN, dilaporkan bertemu Wakil Presiden Gibran. Konon mereka bicara serius tentang utang KCIC, tapi entah kenapa publik lebih sibuk bahas istri artis yang habis dua juta sehari buat GoFood. Mungkin karena di negeri ini, drama keuangan negara kalah menarik dari drama belanja online.

Di saat semua orang pusing mikir cicilan nasional, berita lain datang, Ammar Zoni dikirim ke Nusakambangan. Entah kenapa berita itu terasa nyambung, seperti metafora, bahwa yang bersalah akan tetap dibawa jauh-jauh, cuma bukan ke penjara, melainkan ke rapat restrukturisasi.

Lucunya, semua pejabat bilang ini bukan beban rakyat. Tapi kalau dividen BUMN dipakai buat nyicil utang, siapa yang kehilangan duitnya? Ya rakyat juga. Tapi biarlah. Di negeri ini, logika sudah lama ikut restrukturisasi.

Sementara Whoosh terus melaju di atas rel utang yang direstrukturisasi, kita pun melaju di atas narasi yang sama, bahwa semua baik-baik saja, asal disebut “strategis nasional.” Karena inilah Indonesia, negeri di mana utang bisa jadi puisi, kereta bisa jadi doa, dan restrukturisasi bisa jadi jalan menuju surga fiskal.

Whoosh! bukan cuma bunyi kereta, tapi bunyi nalar yang tercecer di sepanjang jalur Jakarta–Bandung.

Foto Ai, hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua Satupena Kalbar

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist