POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengemis, Sektor Bisnis Keluarga, Menjaja Iba

Riza ShintiaOleh Riza Shintia
December 10, 2024
Tags: #Masalah Sosial#pengemis
Mengemis, Sektor Bisnis Keluarga, Menjaja Iba
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Riza Shintia

Mahasiswa prodi: Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

 

Pada malam yang dingin,setelah hujan reda mengguyur pemukiman kota Banda Aceh, saya mengunjungi  kawasan kuliner  kota Banda Aceh untuk membeli makanan. Dalam perjalanan, sekilas saya melihat seorang lelaki dan wanita membawa dua anak berjalan bersama di pinggiran jembatan Lamyong, kota Banda Aceh.

Sempat terlintas  di pikiran, kemana arah yang mereka tuju dengan berjalan kaki menenteng tas dan kotak kecil yang dipegang anaknya,tanpa kendaraan sepeda motor, apalagi mobil di malam yang dingin terasa menusuk tulang ini.

Alih-alih tidak ingin berpikir lebih dalam lagi, seketika saya sampai pada tujuan warung jajanan. Saya melakukan pesanan, lalu mengambil antrian, kemudian saya duduk menunggu di kursi hingga pesananan siap.

Tiba-tiba datang seorang pengemis wanita membawa anak perempuan dengan menenteng kotak, untuk mengemis, mengharapkan selembar rupiah. Ia menghampiri saya dengan gerakan yang tergesa-gesa.

Sontak saya kaget karena pengemis tersebut merupakan orang yang saya lihat di jembatan tadi, yang sebelumnya saya berpikir itu bukan pengemis. Saya mengira mereka adalah keluarga biasa yang sedang berjalan menuju tempat tujuannya. Ternyata tujuan mereka adalah meminta belas kasihan.

Melihat fenomena itu, saya tertarik untuk mencari tahu tentang mereka. Saya mengikuti mereka dan melihat secara langsung apa sebenarnya motif mereka melakukan pekerjaan hina ini. Mereka memiliki anggota tubuh yang lengkap dan terlihat masih kuat dalam beraktivitas, sangat disayangkan mereka menggunakannya untuk mengemis simpati.

Lalu, tidak lama kemudian saya melihat lelaki tadi juga membawa anak laki-laki dan  melakukan aksi meminta-minta, namun  di tempat berbeda di seberang jalan. Saya terus mengamati gerak-gerik mereka. Kerap kali anak mereka menunjukkan ekspresi murung dengan pakaian lusuh dan wanita tersebut menggunakan masker untuk menutupi identitasnya.

Saat mereka mendatangi warung kopi ada pengunjung yang berdialog dengan mereka dan dengan rasa iba pengunjung tersebut pun sesekali mengelus kepala anak kecil itu. Dalam hati kecil saya terbesit pertanyaan besar, apakah ini benar-benar keterpaksaan, atau sekadar strategi mengais simpati demi keuntungan?

📚 Artikel Terkait

EMPATI PENYAIR DAN MUSISI DUNIA BUAT KRAKATOA

IMPIAN ITU JADI KENYATAAN

Apakah Media Sosial Memperkuat atau Merusak Hubungan Antar Manusia?

Sepeda

Realitas pengemis saat ini, kerap kali menjadi perhatian bagi masyarakat dalam berkehidupan.  Ada keraguan terhadap aksi para pengemis dengan sikap bergantung pada sedekah orang dan perilaku meminta-minta seolah menjadi tradisi bagi mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Masifnya aktivitas mengemis menimbulkan berbagai persoalan yang menganggu stabilitas sosial masyarakat di kota Banda Aceh.

Padahal, pemerintah telah menetapkan peraturan tentang pengemis, mulai dari peraturan nasional hingga peraturan lokal, seperti Peraturan Walikota Banda Aceh nomor 7 tahun 2018 untuk Kota Banda Aceh.  Bukan hanya itu, Pemerintah kota sudah sering melakukan razia pengemis dan membawa mereka ke rumah singgah untuk dilakukan pelatihan fisik dan aqidah. Kita juga selalu melihat pamflet himbauan larangan meminta sedekah yang terpajang di berbagai sudut jalan, namun faktanya masih banyak pengemis yang melakoni aksinya tanpa rasa takut ditangkap lagi.

Mengapa demikian? Apakah upaya tersebut tidak memberi efek jera pada pengemis, sehingga masih banyak dari mereka yang melakukan aksi mengemis di kota Banda Aceh?  Bisa jadi demikian. Kiranya, Pemkot Banda Aceh perlu lebih serius lagi berupaya mengubah situasi ini. Perlu ada pendekatan yang menyeluruh dan komprehensif. Misalnya, meninjau kembali apakah aturan dan program bantuan sosial yang sudah dilakukan telah menjangkau pengemis, hingga menelusuri kehidupan keluarganya seperti ini secara efektif.

Selain itu, perlu melakukan edukasi tentang pentingnya kemandirian dan nilai kerja keras harus ditekankan, baik melalui komunitas maupun pendidikan formal. Serta hukuman yang lebih ketat bagi pengemis yang melanggar. Di sisi lain, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam memberikan bantuan bukan hanya berupa uang, tetapi solusi yang lebih berkelanjutan, seperti dukungan untuk pendidikan atau pelatihan kerja. Dengan memberi uang secara cuma-cuma akan menyebabkan mereka terbiasa hingga merasa untung hanya dengan modal mengadahkan tangan.

Jika saja tidak ada masyarakat yang memberi uang kepada pengemis tersebut, minat mereka dalam mengemis juga akan semakin berkurang dikarenakan usaha mereka mengais simpati tidak ada hasilnya, lebih baik alokasikan dana sedekah kepada lembaga amal terpercaya seperti Badan Amil Zakat (BAZNAS), Dompet dhuafa dan masih banyak lembaga amal lainnya yang bisa dihubungi untuk berdonasi.

Dengan cara itu, akan dapat memberikan pemahaman dan kesadaran bagi semua orang bijak memberikan bantuan atau sedekah kepada pengemis dan tidak seharusnya bertumpu pada mengais simpati, melainkan pada upaya bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih damai. Semoga ke depannya tidak ada lagi pengemis yang berkeliaran di Kota Banda Aceh, terutama anak-anak yang seharusnya fokus pada dunia pendidikan.

Namun, regulasi pemerintah terkait praktik pengemis masih menjadi perhatian khusus, melihat masih banyak pengemis yang berkeliaran dengan berbagai macam motifnya. Selayaknya hal ini dicari solusi yang bijak untuk mengeluarkan mereka dari aktivitas mengemis dan profesi pengemis itu.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu menggali lebih jauh akar masalah dari maraknya jumlah pengemis di kota Banda Aceh dan di Aceh umumnya. Bila kita selidiki dan mewawancarai mereka, sesungguhnya kita bisa menemukan faktor penyebabnya, baik internal, maupun eksternal.

Secara  internal adalah sikap mental  suka meminta-minta atau mengemis. Tidak mau bekerja keras dan cendrung memilih profesi mengemis, karena banyak yang mau bersedekah. Bukan hanya itu, tetapi juga karena hilang rasa malu. Faktor lain, yang selalu muncul di permukaan adalah karena alasan kemiskinan keluarga, rendahnya pendidikan dan kurangnya keterampilan, serta sikap mental.

Ya, selama ini banyak  statement terhadap permasalahan pengemis, praduga muncul ketika berbicara soal pengemis. Menurut penelitian Dr. Jasafat, MA dan M. Ridha, SHI tahun 2012 menyatakan bahwa para pengemis sehari-hari lebih suka bergaul dengan sesama pengemis, mereka sering bertegur sapa dan memanggil dengan nama yang jelas. Hal ini membuktikan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap minat mengemis. Kemudian lemahnya penanganan gelandangan dan pengemis, sehingga masih banyak pengemis yang berkeliaran melakukan aksinya di kota Banda Aceh.

Membiarkan pengemis secara keluarga bahu-membahu mengemis dapat menjadi potret solidaritas dalam bentuk yang tidak biasa dan makin memperburuk keadaan. Nilai-nilai kekeluargaan seperti kerja sama, saling mendukung, dan berbagi peran terlihat jelas, tapi merusak masa depan anak-anak. Anak-anak dieksploitasi, menjadi daya tarik utama untuk menyentuh hati para dermawan, sementara orang tua menjadi pengarah dari “usaha” ini.

Dalam konteks sosial, situasi ini adalah kondisi yang ironis: Di satu sisi, keluarga adalah tempat utama untuk mendidik dan melindungi anak-anak. Namun, ketika keluarga memilih mengemis bersama, muncul kekhawatiran tentang masa depan anak-anak ini. Ketergantungan pada mengemis dapat berdampak buruk pada dinamika keluarga dan masa depan anak-anak, karena dapat menanamkan nilai-nilai ketergantungan dan bukan kemandirian, yang berpotensi melanggengkan siklus kemiskinan.

Menghadirkan anak-anak dalam skenario mengemis menimbulkan kekhawatiran etis tentang kesejahteraan dan perkembangan mereka, karena mereka terpapar pada eksploitasi dan kurangnya pendidikan yang layak. Bukan hanya itu, kehadiran pengemis usia anak-anak, akan melanggengkan siklus kemiskinan, sehingga aksi mengemis ini seolah sudah menjadi budaya yang terpajang di kota Banda Aceh. Setiap mengunjungi tempat yang ramai seperti cafe atau warung makanan selalu saja terlihat wajah murung mereka dalam menjual rasa iba.

Tidak hanya rasa Ina, rasa tidak nyaman terlihat dari raut wajah pengunjung warung atau cafe. Sehingga menjadi problematik bagi  masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan praktik mengemis yang merusak tatanan sosial dan wajah kota Banda Aceh.

Tentu ada banyak pertanyaan yang harus kita jawab terkait pengemis dan penglibatan anak-anak dalam kegiatan mengemis, yang aktor pendidik adalah orangtua mereka sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya, bagaimana dengan hak anak untuk bertumbuh dan berlembang, bagaimana hak anak atas pendidikan dan sebagainya. Mari kita ikut urung rembuk, mencari jalan atau solusi mengenai pengemis di negeri syariat ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #Masalah Sosial#pengemis
Riza Shintia

Riza Shintia

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Pandanglah dengan Kelopak Batinmu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00