Dengarkan Artikel
Oleh NURUL REZKI S
Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI), UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Hadirnya banyak pengemis di perkotaan merupakan masalah sosial yang semakin kompleks dan terus berkembang di berbagai wilayah, terutama di perkotaan di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh. Kita bisa amati setiap hari para pengemis di berbagai tempat, di persimpangan jalan, traffic light, di warung-warung, pasar dan lain-lain, dengan berbagai macam ragam orang dan kondisinya.
Kehadiran mereka semakin tak terbendung, meskipun ada upaya dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini, keberadaan pengemis tetap menjadi pemandangan sehari-hari, yang membuat suasana hati terasa miris melihat mereka. Kehadiran mereka ke kota, seperti halnya di Banda Aceh, seakan menjanjikan kehidupan yang lebih mudah, lebih enak dalam mencari uang-uang sedekah dari masyarakat yang berada di wilayah para pengemis beraktivitas.
Maka, bila kita tanya pada para pengemis alasan, mengapa mereka harus melakukan aktivitas mengemis, hingga ke kota Banda Aceh, kita akanselalu menemukan alasan yang berbasis pada faktor ekonomi, faktor sosial, dan budayamasyarakat yang memang suka menolong atau membantu orang susah seperti pengemis.Ini juga alasan yang dikemukakan oleh seorang pengemis tuna netra yang penulis jumpa saat ia beroperasi di SPBU Lamnyong, Banda Aceh.
Dengan sangat antusias, penulis mencoba menggali informasi mengenai pengemis/ hal ini juga katena penulis mendapat tugas melakukan observasi terhadap para pengemis di kota Banda Aceh. Yang penulis lakukan kemudian, setelah melakukan observasi, penulis mencoba mewawancara seorang pengemis di SPBU Lamnyong, Banda Aceh.
Tentu saja agar bisa memahami latar belakang, alasan mengemis, serta kehidupan sosial dan ekonomi seorang pengemis tuna netra. Ada banyak pengemis yang penulis amati, namun hanya satu yang penulis amati serius. Maka, proses pengamatan ini melibatkan observasi langsung dan wawancara dengan seorang pria dewasa yang mengamen di lokasi tersebut.
Pria itu, mengalami tuna netra sejak lahir. Dalam melakukan aktivitas mengemis, Ia membawa alat musik keyboard, payung, dan celengan untuk mengamen. Ketika ditanya, mengapa harus melakukan aktivitas itu, ia mengaku bahwa alasan utama ia mengemis adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri serta kebutuhan anak-anaknya.
📚 Artikel Terkait
Menurut ceritanya, sebelumnya ia bekerja sebagai pemain keyboard di Medan, tetapi kembali ke Aceh pada tahun 2013 karena rendahnya minat masyarakat terhadap hiburan musik seperti keyboardist. Kini, ia tinggal di rumah susun di Kedah dan memiliki rekening bank serta ponsel Android. Setiap pagi, ia diantar oleh anaknya menggunakan becak atau sepeda motor untuk mengamen dari pukul 07.00 hingga 12.00 siang. Tergantung kondisi cuaca.
Ia melanjutkan mengamen dari pukul 19.00 hingga SPBU tutup pada pukul 22.00 malam. Pendapatan yang diperolehnya rata-rata mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari. Penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan pekerja kernet tukang atau pramuniaga di pertokoan.
Sebagai pengemis, ternyata pria ini juga merupakan anggota Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia), sebuah organisasi yang memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas netra. Pertuni sering mengadakan kegiatan sosial seperti perayaan Maulid Nabi dan buka puasa bersama, serta penggalangan dana untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan, termasuk dalam hal pembiayaan pendidikan anak-anak mereka. Meskipun organisasi ini memberikan sedikit harapan dengan menyediakan jaringan sosial bagi anggotanya, dukungan dalam hal pemberdayaan ekonomi masih terbatas.
Eksistensi organisasi ini juga bertanggung jawab untuk menertibkan aktivitas anggota dalam mengamen, termasuk pengaturan tempat dan izin. Hebat juga ya.
Jadi, bila kita dalami lebih jauh kehidupan dan latar belakang munculnya banyak pengemis di kota Banda Aceh, pasti akan ditemukan banyak faktor yang mendukungnya. Seperti yang sudsh disebutkan di atas bahwa peningkatan jumlah pengemis dapat dikaitkan dengan beberapa faktor, yakni kondisi ekonomi yang tidak merata dan kurangnya lapangan kerja yang memadai menciptakan situasi di mana individu merasa tidak ada pilihan lain selain mengemis. Kedua, kebiasaan masyarakat dalam memberikan sedekah setiap hari dapat menciptakan ketergantungan. Ketika orang-orang memberikan uang atau makanan kepada pengemis secara rutin, hal ini bisa memperkuat keputusan mereka untuk terus mengemis dari pada mencari pekerjaan lain.
Hal lain yang sangat mendukung sebenarnya adalah kebiasaan bersedekah masyarakat yang tergolong tinggi. Masyarakat memang memiliki niat baik untukmembantu mereka yang membutuhkan. Namun, penting untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari tindakan tersebut. Apakah dengan memberi sedekah setiap hari kita secara tidak langsung memperkuat siklus kemiskinan?
Dengan memberikan bantuan tanpa solusi yang lebih berkelanjutan, kita mungkin tanpa sadar mendorong lebih banyak orang untuk memilih mengemis sebagai cara hidup.Sebagai contoh, pengemis tuna netra yang penulis amati, mungkin merasa bahwa mereka dapat bergantung pada sedekah dari masyarakat dari pada mencari pekerjaan yang lebih stabil. Ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebihkomprehensif dalam membantu penyandang disabilitas dan pengemis.
Untuk itu, dukungan ekonomi dan pelatihan keterampilan dapat menjadi alternatif yang lebih efektif daripada sekadar memberikan sedekah.
Perlu ada langkah bijak yang inovatif membantu mereka mengatasi masalah ini. Untuk itu diperlukan langkah-langkah konkret seperti pemberdayaan ekonomi melalui organisasi sosial seperti Pertuni dan intervensi pemerintah setempat. Dengan cara ini, kita tidak hanya membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberikan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Sebagai masyarakat, penting bagi kita untuk berpikir kritis tentang dampak dari kebiasaan bersedekah dan mencari solusi yang lebih berkelanjutan bagi mereka yang membutuhkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






