Gerakan Indonesia Bicara Baik, Ajakan Untuk Hijrah

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.”
HR. Muslim No. 7 — Rasulullah ﷺHadits di atas menjadi pengingat kuat bahwa menyebarkan setiap berita yang kita dengar tanpa seleksi adalah bentuk kebohongan. Di era media sosial, jari yang bergerak cepat menekan tombol “bagikan” tanpa berpikir bisa menjadi sumber malapetaka bagi banyak orang.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan pentingnya sikap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan informasi. Sikap buru-buru justru bersumber dari bisikan setan yang selalu ingin menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat.
“Ketenangan datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.”
HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 10/104 & Abu Ya’la dalam Musnad-nya 3/1054Dua hadits ini menjadi fondasi etika bermedia yang kuat. Sebelum meneruskan sebuah pesan atau berita, hendaknya kita berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya: apakah ini benar? apakah ini bermanfaat? apakah ini perlu disebarkan?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) turut menyampaikan keprihatinan mendalam saat menyaksikan maraknya konten-konten negatif di ruang digital. Dalam sambutan pada Pembukaan Konvensi Nasional Humas 4.0 di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/12/18), Presiden menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan bangsa.
“Kalau mau Indonesia baik, kalau mau Indonesia maju, kita membutuhkan kritik-kritik yang berbasis data, bukan pembodohan atau kebohongan.”
— Presiden Joko WidodoPresiden menegaskan bahwa konten provokatif dan berita bohong kerap memang sengaja disebar untuk tujuan-tujuan tertentu — membangkitkan rasa takut, menebar kecemasan, serta menciptakan perasaan terancam di tengah masyarakat. Hal ini bukan hanya merusak persatuan, tetapi juga melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi dan sesama.
Presiden menegaskan bahwa regulasi dan penegakan hukum semata tidak akan cukup untuk membendung hoaks. Yang jauh lebih penting adalah meningkatkan literasi digital seluruh lapisan masyarakat.
Gunakan Teknologi
Mampu menggunakan teknologi informasi digital untuk mengakses dan mengelola informasi secara cerdas.
Pilah Informasi
Memiliki kemampuan memilih dan memilah informasi yang valid, relevan, dan bertanggung jawab.
Cross-Check
Selalu melakukan verifikasi silang ke berbagai sumber terpercaya sebelum mempercayai sebuah berita.
Klarifikasi
Berani melakukan klarifikasi dan koreksi jika menerima informasi yang terindikasi tidak benar.
Selain itu, Presiden menekankan bahwa kemajuan teknologi informasi yang sangat cepat harus diimbangi dengan standar moral dan etika yang tinggi dari setiap penggunanya. Teknologi adalah alat — dan alat itu bisa menjadi berkah atau bencana, tergantung pada tangan yang menggunakannya.
Presiden Jokowi mengapresiasi konsistensi Perhumas dalam mengusung gerakan ini — sebuah ajakan hijrah menyeluruh bagi seluruh warga bangsa di ruang digital.
- Dari pesimisme menuju optimisme
- Dari hoaks menuju fakta
- Dari kemarahan menuju kesabaran
- Dari hal buruk ke hal baik
- Dari semangat negatif ke positif
- Dari ketertinggalan ke kemajuan
Gerakan Indonesia Bicara Baik bukan sekadar slogan. Ia adalah komitmen kolektif untuk mengubah ekosistem informasi menjadi lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih bermartabat. Setiap individu adalah agen perubahan yang menentukan kualitas ruang digital kita bersama.
Sebagaimana Islam mengajarkan — dan sebagaimana pemimpin bangsa mengingatkan — mari kita jadikan setiap klik, setiap bagikan, dan setiap komentar sebagai amalan yang dipertanggungjawabkan. Bukan hanya di hadapan hukum, tetapi juga di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh: Mahdi Andela / Penulis adalah Wakil Sekretaris Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) Cabang Aceh, Pegawai di Dinas Kominfo dan Statistik Kota Banda Aceh













