Dengarkan Artikel
Oleh : Aina Salsabila
Mahasiswa Semester V, Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
Di setiap kota yang semakin berkembang, biasanya semakin banyak persoalan yang muncul di kota itu. Ada yang bisa bergerak maju dan berkembang, ada pula kelompok masyarakat yang tertinggal jauh di belakang. Bahkan banyak pula masyarakat dari luar kota yang masuk untuk mencari nafkah di kota. Mereka adalah orang-orang yang bergantung pada belas kasihan orang lain untuk bertahan hidup atau untuk membangun kehidupan mereka. Kisah-kisah hidup mereka pun telah banyak yang mengupas.
Namun, kisah- kisah hidup orang seperti ini kurang mendapat perhatian, sehingga jarang diangkat ke permukaan. padahal mereka adalah orang -orang dengan latar belakang yang kompleks, yang juga memiliki mimpi yang terpaksa diabaikan. Jumlah pengemis pun terlihat kian banyak.
Melihat banyaknya pengemis ada di mana-mana, bahkan orang dengan usia yang masih anak-anak, yang harusnya menginjak bangku sekolah dasar, maupun lanjutan. Sehingga, berbagai macam orang yang mengemis dapat kita temukan di setiap sudut kota. Mereka hidupnya dengan kondisi yang tak layak. Bahkan banyaknya pengemis yang tak punya tempat tinggal dikarenakan untuk kebutuhan sehari-hari saja, mereka tidak cukup. Hal seperti ini sangat disayangkan.
Nah, ketika kita dalam apa faktor yang mendorong mereka terjun ke dunia pengemis, ada banyak doktor yang menyebabkan ya. Faktor yang lazim adalah faktor ekonomi, lalu kurangnya perhatian pemerintah terhadap masyarkat kelas bawah, atau bahkan bisa di karenakan keinginan sendiri untuk mendapatkan pendapatan berupa uang. Sebagian pengemis juga memilih jalan untuk mengemis dapat dijadikan mata pencaharian. Sehingga tidak bisa memutuskan mata rantai kemiskinan.Bahkan, anak-anak mereks kelak mengikuti langkah yang telah dilakukan terlebih dahulu agar mendapatkan materi dengan mudah.
📚 Artikel Terkait
Seharusnya ini menjadi tugas bagi pemerintah untuk bisa mengedukasi dan memberikan solusi untuk para pengemis agar tidak melakukan hal yang dilarang dan mengganggu..Selayaknya mereka dibantu memutuskan mata rantai kemiskinan dan mendorong mereka tidak menjadi pengemis.
Penulis telah mencoba observasi yang di berbagai tempat, salah satunya tempat makan. Dari amatan cepat, dengan waktu kurang lebih satu jam, penulis mendapatkan dua orang pengemis yang memiliki keterbatasan fisik. Satunya laki- laki memiliki tangan yang cacat. Dilihatb dari raut wajahnya, ia memiliki umur yang sudah tua. Ia berjalan dengan memegang sebuah kantong plastik yang ia jadikan objek untuk mengemis kepada orang-orang sekitar. Satunya lagi pengemis laki – laki yang disabilitas netra (tuna netra) yang digandeng dengan perempuan, tampak fisiknya yang sehat sekiranya berumur kurang lebih 60 tahun. Mereka tidak membawa objek, hanya membawa tangan kosong untuk mengemis, mengelilingi meja-meja yang ditempati para pengunjung.
Banyaknya meja yang ada di warung atau rumah makan, mereka hampiri satu per satu, untuk mendapatkan beberapa uang yang diberikan oleh beberapa pengunjung. Namun, tidak menentu juga jumlahnya kala para pengunjung memberikan walau bisa dengan nominal yang sedikit.
Nah, bila kita mau mengamati lebih jauh dan dalam, aktivitas meminta tersebut yang dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki kemampuan ekonomi, sangat sudah banyak di kalangan masyarakat, bahkan masyarakat lain juga sudah banyak memaklumi kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, karena juga sangking banyaknya masyarakat lain dan pemerintah kurang memberikan perhatian.
Sebenarnya sebagaimana kita ketahui bahwa aktivitas mengemis tersebut banyak menimbulkan dampak kehidupan. Bisa jadi menyebabkan kesehatan fisik dan mental, kehidupan serba sulit, risiko timbulnya penyakit, serta stigma masyarakat dapat mempengaruhi kesejahteraan mereka. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan.
Penulis sempat pula mewawancara pemilik warung. Pemilik warung tersebut menjelaskan banyaknya pengemis yang datang untuk mengemis di warungnya dikarenakan faktor ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja, sehingga sulit untuk mereka mendapatkan uang untuk kebutuhannya sehari-hari. Lebih dari 5 orang setiap harinya datang ke warungnya tersebut. Yang mengemis pun. ada berbagai macam usia, mulai dari yang memiliki usia di bawah 17 tahun sampai umur kurang lebih 60 tahun.
Tindakan yang mereka lakukan memang sangat tidak benar untuk mendapatkan uang tanpa bekerja, akan tetapi jika tidak dengan cara tersebut mereka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini sangat dipengaruhi kurangnya penanganan oleh pemerintah setempat agar berkurangnya orang yang melakukan hal yang melanggar aturan tersebut.
Pemilik warung juga mengatakan banyaknya alasan mereka mengemis karenqketerbatasan fisik atau disabilitas untuk bekerja, minimnya pendidikan yang mereka dapatkan, kurangnya akses bantuan sosial. Bisa jadi juga karena pengaruh lingkungan yang banyaknya orang mengemis menjadi faktor juga seseorang untuk ikut mengemis. Bahkan ada juga alasan mereka mengemis karena paksaan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendaptkan keuntungan dan memanfaatkan kekurangan fisik sesorang untuk mengemis.
Dari sekian banyaknya faktor yang mendorong mereka mengemis, faktor ekonomi, kondisi fisik yang dialami pengemis, kiranya perlunya upaya opemerintah untuk memperhatikan lagi para pengemis yang berada di kota Banda Aceh dan sekitarnya dengan cara memberikan pelatihan keterampilan, sehingga dapat membentuk pribadi yang mandiri. Tentu saja harus diikuti dengan upaya membuka lapangan pekerjaan yang banyak, agar para pengemis dapat pekerjaan yang layak. Dengan cara ini, mereka tidak mencari rejeki dengan cara mengemis.
Tidak pula cukup itu, kegiatan -kegiatan edukasi publik terhadap pengemis perlu ditingkatkan. Untuk itu, alangkah bagus bila dibangun kerjasama dengan Lembaga sosial atau organisasi non pemerintah (LSM) untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada pengemis, termasuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan yang layak atau layanan kesehatan.
Selain itu, optimalisasi fungsi pusat rehabilitasi sosial sebagaitempat pengemis yang membutuhkan perawatan atau pengawasan khusus untuk mendapatkan bantuan psikologis, pendidikan, serta keterampilan yang dapat membantu mereka berintegrasi kembali ke masyarakat. Penyediaan program kesejahteraan sosial juga menjadi hal yang bisa dilakukan untukmenanggani permasalahan pengemis agar pemerintah menyediakan bantuan langsung serta program bantuan sosial.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






