Dengarkan Artikel
Oleh Erika Syifaq
Taruni Kelas XI Perhotelan SMK Negeri 1 Jeunieb
Di SMK Negeri 1 Jeunieb, suasana kelas Bahasa Jepang selalu dipenuhi dengan tawa dan keceriaan saat pelajaran Bahasa Jepang berlangsung.
Semua siswa senang diajar oleh Sensei (guru) Wahhab Ishaq, sensei yang murah senyum, tegas tapi humoris.
Sensei Wahhab panggilan akrabnya, ketika masuk kelas semua perhatian tertuju padanya, siap untuk belajar dengan penuh semangat.
Dikenal sebagai sensei yang mampu membuat pelajaran menjadi menyenangkan.
Setiap kali mengajar, ia selalu menyelipkan humor dalam penjelasannya, sehingga materi yang disampaikan terasa lebih ringan.
“Anak-anak, hari ini kita akan belajar hiragana, sebelumnya ada yang tahu hiragana itu apa?” tanya sensei wahhab dengan senyum lebar.
Semua murid mulai kebingungan, mereka belum mengetahui sedikit pun tentang Jepang, baik itu bahasa ataupun budaya.
Erika, siswa yang dikenal dengan rasa keingintahuannya pun bertanya “emang hiragana itu apa sensei?, kami belum tahu apa-apa tentang Jepang, sensei. Yang kami tahu cuma anime yang dari Jepang” Tanya Erika Dangan rasa ingin tahu yang sangat tinggi
“Baik, jadi hiraga itu adalah huruf asli Jepang, dan nanti kita juga bakal belajar kata kana, nah kata kana itu adalah serapan dari bahasa asing, sampai sini ngerti kan Minna?” serunya dengan semangat.
Minna adalah sapaan akrab sensei untuk anak didiknya. Minna singkatan dari kata minnasan (teman-teman).
Erika selalu menjadi sorotan dengan ide-ide kreatifnya dan hal-hal random yang ia lakukan mampu mengundang tawa seluruh kelas.
Di sisi lain, Cut Annisa, atau yang akrab disapa Cut, merupakan taruni yang taat dan selalu disiplin, mulai menyiapkan buku catatannya.
“Saya akan mencatat dulu apa yang Sensei jelaskan barusan, ya, Sensei!” kata Cut sambil mengangkat tangannya.
Ia merupakan contoh taruni yang patuh terhadap aturan, dan sering kali membantu menjaga ketertiban di kelas.
Namun, tidak semua taruni mudah diatur. Meli, taruni yang terkenal susah diatur, sering kali mengganggu suasana kelas.
Saat teman-temannya fokus mendengarkan, Meli justru sibuk bercanda dan membuat lelucon yang kadang membuat Sensei Wahab harus menegurnya.
📚 Artikel Terkait
“Meli, bisa tolong tenang sedikit? Kita sedang belajar!” tegas Sensei Wahab, namun tetap dengan nada yang ramah.
Sementara itu, Tasya, siswa cerdas yang selalu unggul dalam pelajaran, terlihat serius memikirkan cara agar mudah menghafal hiragana dan kata kana.
Tasya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengingat, dan ide-idenya sering kali menginspirasi teman-temannya.
Konflik mulai muncul di dalam diri Meli. Ia merasa tidak dihargai karena sering ditegur oleh Sensei Wahhab.
“Kenapa sih saya selalu dianggap mengganggu? Saya hanya ingin bersenang-senang,” keluhnya dalam hati
Meli berusaha untuk bersikap baik, tetapi sifatnya yang humoris kadang sulit untuk dikendalikan.
Sensei Wahhab menyadari bahwa Meli sedang mengalami konflik batin, berusaha mencari cara untuk mendekatinya.
Ia ingin mengajak Meli untuk lebih aktif berkontribusi dalam kelas tanpa mengganggu teman-temannya.
“Meli, saya butuh bantuanmu untuk membuat suasana kelas lebih ceria. Bisa nggak kamu membantu saya?” tawarnya.
Meli terkejut mendengar ajakan Sensei Wahhab, “Serius, Sensei? Saya bisa?” tanyanya dengan wajah tak percaya.
Sensei Wahhab hanya tersenyum dan mengangguk, meyakinkan Meli bahwa ia sangat dihargai.
“Tentu, kamu bisa! Kita bisa membuat kelas lebih hidup bersama,” jawab Sensei Wahab dengan semangat.
Erika dan Cut, yang mendengar percakapan itu, saling bertukar pandang dan senyum.
Mereka merasa senang karena Meli akhirnya diberi kesempatan untuk berkontribusi. “Kita harus mendukung Meli, ya!” bisik Erika kepada Cut.
Sejak saat itu, Meli berusaha untuk lebih baik dalam berperilaku.
Ia mulai membantu Sensei Wahhab menyiapkan permainan edukatif yang bisa membuat suasana kelas lebih menyenangkan
Setiap kali pelajaran berlangsung, Meli berperan sebagai penghibur, tetapi dengan cara yang lebih teratur.
Tasya pun merasa senang melihat perubahan sikap Meli. Ia mengajak Meli untuk berdiskusi dan berbagi ide tentang puisi.
“Ayo, kita buat kalimat puisi tentang keceriaan di kelas! Ini bisa jadi proyek kita bersama, aku yang bikin kata-kata dan kamu yang memberikan ide-ide yang ceria di dalam puisi ini nantinya” ajaknya.
Meli, yang merasa lebih dihargai, setuju dan mulai bersemangat
Di akhir pelajaran, Sensei Wahab memberikan pujian kepada seluruh siswa, terutama kepada Meli yang berhasil menunjukkan perubahan positif.
“Kalian semua hebat! Saya bangga bisa mengajarkan kalian. Ingat, belajar itu tidak harus membosankan,” katanya sambil tersenyum.
Suasana kelas Bahasa Jepang semakin ceria, dan konflik batin Meli mulai mereda. Ia merasa diterima dan dihargai oleh teman-temannya
Dengan bimbingan Sensei Wahhab, semua siswa belajar bahwa setiap orang memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
Keceriaan di kelas Bahasa Jepang semakin bertambah dengan kehadiran Meli yang kini lebih kooperatif.
Semua siswa merasakan kebahagiaan dan kebersamaan, menciptakan kenangan indah yang akan selalu diingat
Setiap belajar bersama Sensei Wahhab menjadi momen yang penuh warna dan kegembiraan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






