Dengarkan Artikel
Oleh: Muhrain
pertemuan
para politik Aceh
di gampong dan duson
untuk membangun
adalah pertemuan mulia
dengan niat baik datang segera
pertemuan
para bintara Aceh
di uteun dan ladang-ladang belantara
untuk membunuh musoh se agama
adalah pertemuan paling memalukan
tetapi demi membela nanggroe dan Islam
wajeb bagi hukom qhisas
haram bagi hukom HAM
tetapi demi wujud ikrar dan bai’at
berkumpul pula se-gunong ragu
melepaskan peluru benci
daripada binasa kaom
hanco negara
adalah suaka
adalah angkasa
adalah nyawa
harga!
setelah perang pun usai
pertemuan masih lanjut
orang-orang Aceh terus bertemu
tapi di kepala
tidak di Helsinki
bukan di rumoh Geudong
tidak di hati usai Gempa Tsunami
pertemuan di urat nadi
pertautan korban konflik dan ie
bercampur mata kaphe sebagai saksi
dan diberi judul
📚 Artikel Terkait
perang Aceh masih berguncang di kepala
meski bukan lagi bermusoh kaphe Beulanda
perang di para gundik dari pendendam
para pendengki dan pembinasa
yang takkan usai sebelum martabat Aceh
babak belur ruyak papa!
perang Aceh terus ditabuh
dalam larangan
dalam toa yang berbisa
lewat narkoba dan rangkap kuasa
lewat mengusir dan membatasi dengan mengada-ada
perang Aceh terus disumbu
dari khianat dan menukar wajah pemimpin
sesuka-suka
perang di kepala lewat dawa buta
kaum-kaum mulia bukanlah musuh Beulanda
orang-orang jujur tidaklah sebanding bahaya
dari pemuja kekuasaan di lembaga adat
para budak tidaklah paling bahaya
mereka hanyalah pelaksana
tetapi kejahatan dan kezaliman terus dirancang yang sepatutnya diwaspada
adalah dari pikiran-pikiran cuak berwajah ulama
dari mulut pendakwah yang suka memperkosa hak yatim papa
dari perampok pajak dadah di lorong kota
dari tukang-tukang fitnah bergedung berita
dari penjaga taman yang menyusupkan orang gila
untuk diusung memenangi pilkada
anak-anak Aceh yang cerdas dan cakap serupa buat
disingkirkan sejak berani bercita-cita mencintai negerinya
santri-santri yang tak mengetahui kiriman haram
bapak ibunya yang sedang menjabat namun loba rakus dan dusta
telah jadi robot berwajah klimis tapi kotor
kepala-kepala yang tangguh mencoba melawan
sebagai upaya nurani dan hati
terus ditekan dihimpit ke bumoe
matilah martir
binasalah harga diri
begitulah kekuatan dari luar kepala
yang tersingkir dari gelanggang
Perang Aceh yang sesungguhnya
terus berkobar dalam undang-undang UUPA
perang runding bagi hasil yang picik
perang transfer Otda tepuk dada
perang foya-foya berbaju syariat
penghianatan terhadap darah daging dan keturunan yang menyusup
ke lubang-lubang dapur anak syuhada
mereka adalah nyata
entahlah termasuk kita!
Kutaradja, Jelang Merdeka 2024.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




