POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

SEBUAH PERKAWINAN POLITIK UNTUK MENGUSIR PORTUGIS

RedaksiOleh Redaksi
January 11, 2023
SEBUAH PERKAWINAN POLITIK UNTUK MENGUSIR PORTUGIS
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh. T.A Sakti

MENJELANG akhir abad XV dan awal abad XVI, Portugis telah dapat memaksakan nafsu penjajahannya kepada Raja dalam wilayah kerajaan-kerajaan tersebut. Portugis mendirikan “benteng”  penjajahannya dengan nama kantor dagang, dan memang di dalamnya ditempatkan pasukan yang bersenjata lengkap.

Ali Mughaiyat Syah, Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, melihat peristiwa ini dengan sangat geram, dan dia ingin menghancurkan kekuatan Portugis itu.

Dia mendesak ayahnya, Sulthan Syamsu Syah yang sangat lemah, agar meletakkan jabatannya sebagai Sultan dan dia sebagai putera mahkota akan menggantikannya.

Setelah pada tanggal 12 Zulkaedah 916 H (1511 M) Ali Mughaiyat Syah dilantik menjadi Sultan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alaidin All Mughayat Syah. Beliau terus merencanakan untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan Utara Sumatera, sejak dari Daya sampai ke Pulau Kampei.

Untuk melaksanakan cita-cita besar dan mulia itu, Ali Mughaiyat Syah berpendapat bahwa kerajaan-kerajaan kecil perlu disatukan dalam satu kerajaan besar. Beliau bercita-cita membangun satu Keraja¬an Aceh Darussalam yang besar dan kuat. Setelah berhasil, Ali Mughaiyat mengusir Portugis dari Lubok, Pidie dan Samudra/ Pase, dengan menghancurkan armada Portugis di Perairan Jambo Aye Samudra/Pase, maka beliau terus memproklamirkan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam, leburan dari semua Kerajaan Islam yang kecil-kecil.

Dalam pertempuran-pertempuran di berbagai medan, dapat dicatat bahwa armada Portugis benar-benar telah teruk dan dihancur-lumatkan serta banyak sekali perwira unggulnya yang mati konyol, seperti Laksamana Jorge de Brito yang mati konyol dalam pertempuran bulan Mei 1521 M (927 H) dan Laksamana Simon de Souza yang mati da-lam pertempuaran laut tahun 934 H (1528 M).

Setelah syahid Laksamana Malik Uzair, Sulthan Ali Mughaiyat Syah mengangkat putera bungsunya, Malik Abdul Kahar, menjadi Amirul Harb (panglima perang) untuk kawasan timur merangkap Raja Muda di Aru.

Dengan berakhirnya Perang Laut Teluk Haru, dalam pertempuran mana armada Portugis hancur total, maka berakhirlah riwayat pejajahan Por¬tugis di Pulau Sumatera.

Kalau sekiranya Perang Laut Teluk Haru dimenangkan armada Portugis, niscaya seluruh Pulau Jawa akan menjadi jajahan penjajah Kristen/Katolik Portugis itu. Sama halnya dengan Timor Timur yang  mereka jajah lebih 400 tahun.

Menurut Dr Na Bloch dalam bukunya, Advent of Islam in Indonesia, bahwa sebelum terjadi perang laut Teluk Haru, Portugis sudah mencoba merebut Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Aceh, tetapi gagal. Perairan Banda Aceh dikepung armada Portugis yang amat kuat, yang didatangkan dari Goa. Sekalipun telah demikian gencarnya ditembak dengan meriam-meriam pantai Aceh, baik dari daratan Banda Aceh, maupun Pulau Aceh namun armada Portugis masih tidak terkalahkan.

Menurut Hashim Bek Fuzumi dalam kitabnya Buhaira, yang dikutip Dr NA Baloch, akhirnya Aceh sebagai penghasll minyak bumi terbesar dl kawasan Selat Malaka, menumpahkan minyak bumi sebanyak-banyaknya ke laut dan kemudian dibakarnya, hatta Teluk Banda Aceh menjadi Lautan Api, dan terbakarlah. sebahagian besar armada Portugis, sementara sisanya lari menuju Goa.

Dalam rangka mengusir penjajah Portugis, maka Sulthan  Alaidin Abdul Qahhar, beberapa kali mara ke Semenanjung Tanah Melayu, yang kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Meukuta Alam.

📚 Artikel Terkait

Kunikahi Kamu Secepat Argo Bromo, Kuceraikan Kamu Secepat Sembrani

Fomo, Yolo, Fopo: Tiga Penyakit Mental Pembunuh Gen Z

Demokrasi Dirampas Covid?

Dunia Tidak Butuh Kesalehanmu

Untuk menghajar penjajahan Portugis, Sulthan Iskandar Meukuta Alam beberapa kali menyerang benteng-benteng Portugis di Semenanjung Tanah Melayu (Johor, Pahang, Malaka dan lain-laln) dengan Armada Cakra Donya yang Agung).

Untuk lebih memperkuat hubungan Aceh dengan Semenanjung Tanah Melayu dalam menghadapi penjajah Portugis, telah terjadi beberapa perkawinan politik antara beberapa orang Sultan Aceh dengan puteri-puteri Istana Kerajaan-Kerajaun Islam di Semenajung Tanah Melayu. Perkawinan politik yang sangat terkenal. ialah perkawinan Sultan lskandar Muda dengan puteri Kamaliah, seorang puteri cantik jelita dari istana Pahang.

Tentang  perkawinan politik inl baiklah saya kutip sebahagian karangan saya dalam buku: Aceh dan Pahang.

Setelah meninggal puteri Sendi Ratna Istana sebagai Permaisuri, Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam menikahi Puteri Kamaliah dari Keluarga Diraja Pahang, yang kemudian terkenal di Aceh dengan sebutan Putroe Phang (Puteri Pahang). Bagaimana cara Iskandar Muda mempersunting puteri Jelita dari Istana kerajaan Pahang itu, baiklah saya turunkan tulisan Haji Buyong Adil dalam bukunya: Sejarah Pahang, antara lain sebagai berikut:

Dalam bulan Juni 1613, Sulthan Iskandar Muda Mahkota   Alam, Raja Aceh yang masyhur gagah perkasanya itu, telah menghantar suatu Angkatan Perang Laut yang besar datang menyerang dan mengalahkan negeri Johor, Batu Sawar dan Kota Seberang. Bandar-bandar utama di negeri Johor masa itu telah diduduki oleh orang-orang Aceh. Mengikuti setengah   sumber, Iskandar Muda sendiri mengepalakan Angkatan Perang Aceh yang menyerang Negeri Johor itu.

Sulthan Alauddin  Riayat Syah III, adinda baginda Raja Abdullah serta  Bendahara Johor Tun Sri Lanang dan beberapa ramai pengiring-penggiring Sulthan Johor telah ditawan dan dibawa ke negeri Aceh..,.,.,..”

Setelah bcberapa tahun di Aceh, SulthanAlauddin Riayat Syah III  berjanji tidak lagi membantu Portugis yang telah menduduki Malaka, maka Iskandar Muda membebaskan Sulthan Alauddin dan diantar kembali ke Johor serta ditabalkan kembali menjadi Sulthan Johor.

Tetapi, ternyata kemudian Sulthan Alauddin Riayat Syah III yang telah menjadi Sulthan Johor kembali, lagi-lagi menjadi alat penjajah Portugis dalam rangka memperluas jajahannya di Semenanjung Tanah Melayu. Alauddin membantu Portugis untuk mengangkat Raja Bujang menjadi Sulthan Pahang. Raja Bujang adalah Pangeran yang telah mengangkat sumpah setia kepada Portugis.

Karena itu, dalam bulan September 1615 Iskandar Muda menyerang lagl Johor dengan Angkatan yang lebih besar dan Johor dikalahkan lagi, Sulthan Alauddin ditahan dan dibawa ke Aceh, Hatta meninggal di sana. Serangan dilanjutkan ke Pahang yang telah bersekutu dengan Portugis, seperti yang ditulis oleh Hajl Buyong Adil:

“Oleh sebab orang Portugis telah menolong Sulthan Johor (Alauddin Riayat Syah III) menaikkan Raja Bujang menduduki takhta Kerajaan Negeri Pahang, pada tahun 1617 Sulthan Aceh (Iskandar Muda) telah mengeluarkan Angkatan Perang Aceh menyerang Negeri Pahang dan asykar-asykar Aceh yang datang itu telah membinasakan daerah di Negeri Pahang.

Raja Bujang melarikan diri, sementara ayah mertuanya, Raja Ahmad, dan Puteranya yang bernama Raja Mughal serta 10 ribu Rakyat Negeri Pahang ditawan dan dibawa ke negeri   Aceh. Seorang Puteri dari keluarga Diraja Pahang, yang bernama puteri Kamaliah juga turut dibawa ke Aceh, yang kemudian diperisteri oleh Sulthan lskandar Muda Meukuta Alam, dan Puteri Pahang Itu termasyhur dalam sejarah Aceh karena kebijaksaannya dan disebut oleh orang-orang Aceh Putroe Phang)

Puteri Pahang dalam Istana Darud Dunia tidak hanya sebagai permaisuri, tetapi juga menjadi penasehat bagi suaminya Sulthan Iskandar Muda.  Salah satu dari nasihatnya yang dilakukan Iskandar Muda dan amat bersejarah yaitu pembentukan sebuah lembaga yang mirip DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) zaman sekarang, yaitu Balai Majelis Mahkamah Rakyat, yang  beranggotakan 73 orang. yang mewakili mukim dalam Kerajaan Aceh Darussalam.

Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI Aceh.

Artikel ini diedit dari makalah yang berjudul sama!.

(Sumber: Serambi Indonesia, 15 Mei 1992 halaman 9 )

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
PERJALANAN PENDIDIKAN SEBAGAI PRINSIP PERAN PENDIDIK DI INDONESIA

PERJALANAN PENDIDIKAN SEBAGAI PRINSIP PERAN PENDIDIK DI INDONESIA

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00