Jurnal, Koran dan Catatan

Menjawab Prof. Dr. Burhanuddin Yasin
Oleh: Saiful Bahri
*Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Prof Burhanuddin Yasin MA yang saya muliakan,*
Alhamdulillah. Tulisan saya “Jurnal Naik Pangkat” ternyata sampai ke meja guru besar FKIP USK. Saya bersyukur, sekaligus menunduk. Karena yang “mencatat” adalah seorang professor , menurut saya itu bukan sekadar komentar. Ini ijazah adab untuk saya pribadi.
Saya baca “Catatan Prof” berulang kali. *Ada 3 titik yang menusuk ke hati saya:*
*1. Saya Tunduk 100% pada Catatan Prof*
Prof benar. Jurnal itu “nyawa” dosen. Koran itu “jantung” publik. Tanpa jurnal, ilmu jadi mumi di rak perpustakaan. Tanpa koran, ilmu jadi wacana di ruang dosen. Jurnal untuk kenaikan pangkat. Koran untuk kenaikan manfaat untuk orang banyak. Prof menyampaikan dengan bahasa elegan. Saya hanya menerjemahkannya ke bahasa “lumpur lapangan” agar adik-adik dosen muda mengerti.
*2. Izin Saya Tambahkan dari “Dua Dunia”*
Prof bicara dari menara ilmu. Saya bicara dari dua tempat: ruang kelas + ruang rapat perusahaan asing di Jakarta dulu sebagai Senior Manager. Hubungannya tentu ada, yaitu sama sama menganalisis masalah., benar kan prof?
Di perusahaan, kami punya rumus: “Data tanpa narasi = laporan mati. Narasi tanpa data = dongeng”. Jurnal itu “data”. Koran itu “narasi”. Dosen yang cuma jago jurnal tapi gagap nulis koran = jenius yang bisu. Dosen yang cuma jago koran, tapi tidak punya jurnal = orator tanpa dasar.
Makanya tulisan saya “daging semua”. Karena pembaca Potret bukan rektor. Mereka guru, dosen muda, ASN. Mereka tidak tanya “apa definisi jurnal Sinta 2”. Mereka tanya: “Pak, mulai nulisnya dari mana? Besok mau makan apa?”
Seperti firman Allah QS Al-Insyirah:6, _”Bersama kesulitan ada kemudahan”_. Jurnal susah? Allah kasih kemudahan: mulai 1 paragraf per hari. Koran berat? Allah kasih jalan: tulis dari keresahan rakyat. Yang penting mulai. Jangan tunggu sempurna.
*3. Jurnal + Koran = Dua Sayap Garuda*
Prof meluruskan: jurnal tanpa koran = ilmu tak sampai ke umat. Saya menguatkan: koran tanpa jurnal = suara tanpa pijakan. Makanya saya ngotot selipkan data + dalil di setiap tulisan. Karena ilmu tanpa dalil = layangan putus. Dakwah tanpa data = angin lewat.
Terima kasih Prof sudah “menajamkan pisau” saya. Diskusi ini bukti: Potret bukan sekadar majalah. Ini majelis ilmu. Di sini ada dosen profesor Doktor lulusan luar lagi keren kan? dan dosen “lapangan Aceh” bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, demi adik-adik kita penerus bangsa.
Mohon maaf jika ada kata saya yang kurang pas atau struktur bahasa saya yang kurang tersusun, Saya murid, Prof guru. Jarak fisik memisahkan, tapi tulisan mendekatkan. Sebagaimana Aceh dulu lumpuh lalu bangkit dan ceria lagi, semoga tulisan-tulisan kita juga bisa membangkitkan dan mencerahkan dosen muda USK yang sedang berjuang naik pangkat.
*Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,*
*Saiful Bahri*
_Penulis “Jurnal Naik Pangkat”_












