Opini · Potret Online

Air Mata di Balik Jas Putih

Penulis Rizkia Nanda Safutri
Juni 8, 2026
4 menit baca 38
1000232171
Foto / IlustrasiAir Mata di Balik Jas Putih
Penulis: Rizkia Nanda Safutri

Namaku Rizkia Nanda Safutri.

Aku adalah seorang mahasiswa farmasi. Banyak orang mengira masuk ke dunia farmasi berarti harus pintar menghafal, cepat memahami setiap materi, dan selalu mendapatkan nilai yang baik. Namun, kenyataannya tidak seindah yang mereka bayangkan.

Setiap kali dosen menjelaskan mekanisme kerja obat, jalur metabolisme, perhitungan dosis, atau materi yang penuh dengan istilah ilmiah, aku hanya menatap layar dengan kepala yang terasa semakin penuh. Teman-temanku mengangguk mengerti, sementara aku masih berusaha memahami kalimat pertama.

Aku sering membawa pulang buku-buku tebal, membuka halaman demi halaman, membaca berkali-kali, tetapi isinya terasa seperti lewat begitu saja. Saat latihan soal tiba, jawabanku sering salah. Saat praktikum berlangsung, rasa takut melakukan kesalahan membuat tanganku gemetar.

Kini aku berada di semester dua. Namun, aku masih membawa rasa kecewa dari semester pertama. Saat hasil studi diumumkan, aku melihat angka yang terus terbayang di pikiranku: IPK 2,94.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah angka. Tetapi bagiku, angka itu terasa seperti bukti bahwa aku belum cukup baik. Aku memandang layar ponsel berulang kali, berharap salah melihat, tetapi hasilnya tetap sama. Saat itu juga air mata jatuh tanpa bisa kutahan.

Aku mulai membandingkan diriku dengan teman-teman yang mendapatkan nilai lebih tinggi. Aku bertanya pada diri sendiri, “Apa aku memang tidak pantas berada di jurusan ini? Apa aku tidak cukup pintar untuk menjadi seorang farmasis?”

Ketika Ujian Menjadi Ketakutan

Sejak saat itu, setiap kali kalender mulai mendekati UTS, UAS, atau responsi praktikum, rasa takut selalu datang lebih dulu.

Aku mulai menghitung hari dengan cemas. Buku-buku yang biasanya kubuka perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuatku panik. Semakin banyak aku belajar, semakin banyak aku merasa tidak tahu apa-apa.

Aku membaca satu bab, lalu berpikir, “Kalau yang keluar bukan ini bagaimana?” Aku menghafal nama obat, tetapi takut semuanya hilang ketika dosen mulai bertanya. Aku mengulang prosedur praktikum berkali-kali, tetapi tetap merasa akan melakukan kesalahan.

Malam sebelum ujian selalu menjadi malam yang paling berat. Meja belajarku penuh dengan catatan kecil, stabilo, dan lembar-lembar yang sudah penuh coretan. Aku mencoba bertahan, tetapi tanpa sadar air mata jatuh begitu saja.

Aku menangis karena takut gagal. Aku menangis karena merasa tidak sepintar teman-temanku. Aku menangis karena merasa usahaku belum cukup.

Di saat yang sama, orang-orang hanya melihat hasilnya. Mereka tidak melihat bagaimana aku mengulang materi sampai larut malam, bagaimana aku berkali-kali menghapus jawaban latihan karena ragu, atau bagaimana aku harus menenangkan diri sendiri sebelum masuk ruang responsi.

Sering kali aku iri kepada mereka yang terlihat tenang. Sementara aku harus melawan pikiran yang terus berkata bahwa aku tidak akan bisa. Overthinking menjadi teman yang selalu datang tanpa diundang, membuat setiap detik sebelum ujian terasa begitu panjang.

Tetap Melangkah Meski Perlahan

Aku pernah merasa bahwa IPK 2,94 adalah akhir dari segalanya. Aku merasa tertinggal, merasa gagal, dan merasa tidak layak berada di tempat ini. Namun, di tengah semua keraguan itu, aku tetap datang ke kelas keesokan harinya. Aku tetap membuka buku yang sama, tetap mencoba menghafal nama-nama obat yang sulit diucapkan, tetap mengerjakan tugas meskipun hasilnya belum sempurna.

Sedikit demi sedikit aku menyadari bahwa perjuanganku mungkin berbeda. Ada orang yang memahami materi hanya dengan sekali membaca, sementara aku membutuhkan lima atau sepuluh kali pengulangan. Itu memang membuatku lebih lambat, tetapi bukan berarti aku berhenti bergerak.

Aku masih sering menangis. Bukan karena ingin menyerah, melainkan karena aku sangat ingin berhasil. Setiap air mata membawa harapan bahwa suatu hari nanti aku akan mengenakan jas putih dengan bangga, mengingat semua malam yang penuh kebingungan, rasa takut, dan putus asa.

Mungkin kisahku bukan tentang mahasiswa farmasi yang selalu mendapatkan nilai sempurna. Kisahku adalah tentang seseorang yang terus belajar meski berkali-kali merasa tidak mampu, seseorang yang tetap melangkah walaupun langkahnya pelan.

Aku percaya bahwa IPK bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan salah satu bagian dari proses belajar. Aku masih memiliki banyak semester untuk memperbaiki diri, banyak kesempatan untuk tumbuh, dan banyak mimpi yang belum selesai diperjuangkan.

Suatu hari nanti, ketika aku berhasil menyelesaikan semua UTS, UAS, responsi, praktikum, hingga akhirnya berdiri di hari kelulusan dengan mengenakan toga, aku akan mengingat seorang Rizkia yang pernah menangis karena nilai, yang pernah merasa tidak cukup pintar, tetapi tidak pernah berhenti mencoba.

Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan milik mereka yang tidak pernah kesulitan, melainkan milik mereka yang memilih bangkit setiap kali selesai menangis.

Aku adalah Rizkia Nanda Safutri. Seorang mahasiswa farmasi yang masih belajar, masih sering overthinking, masih sering menangis, dan masih takut menghadapi ujian. Tetapi di balik semua itu, aku tetap memiliki keberanian untuk membuka buku sekali lagi, mencoba sekali lagi, dan percaya bahwa suatu hari nanti semua air mata ini akan berubah menjadi senyum kebanggaan.

Tentang Penulis

Rizkia Nanda Safutri lahir di Lombok dan saat ini sedang menempuh pendidikan di bidang Farmasi. Ia memiliki minat pada dunia kesehatan, pendidikan, dan kepenulisan. Melalui tulisan ini, Rizkia berbagi pengalaman tentang perjuangan, kecemasan, serta harapan sebagai mahasiswa yang terus berusaha bertahan dan berkembang dalam perjalanan akademiknya.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Artikel ini merupakan tulisan opini. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi Redaksi Potret Online.
Tentang Penulis
Rizkia Nanda Safutri
Lahir di Lombok
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...