Esai · Potret Online

Romantis Robur

Penulis  Aswan Nasution
Juni 5, 2026
6 menit baca 10
3e74af7d-3d9c-4254-a0c8-628dbb003361
Foto / IlustrasiRomantis Robur
Disunting Oleh

Oleh: Aswan Nasution

Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Simalungun, Sumatera Utara

Bagi kami, mahasiswa Aceh yang sempat mereguk atmosfer perkuliahan pada pertengahan tahun 1970-an hingga era 90-an, memori masa muda itu tidak berwujud lembaran ijazah yang rapi di dalam map. Melainkan mewujud dalam rupa sebuah bus tua bermesin kokoh dengan cat yang mulai kusam—dindingnya berwarna hijau botol berpadu atap putih yang mengelupas di sana-sini. 

Bus itu saban hari hilir mudik, membelah jalanan dari jantung Kota Banda Aceh menuju Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam. Namanya singkat, eksotis, sekaligus legendaris: Robur.

Kendaraan buatan Jerman Timur ini pertama kali mengaspal sekitar tahun 1974. 

Pada masa itu, kehadirannya adalah sebuah kemewahan transportasi yang paling keren tiada banding. Bentuknya sangat ikonik; bagian tengah atapnya menggelembung kembung mirip roti goh yang sedang mengembang montok di dalam tungku panggangan besi. 

Karena keunikan anatomi inilah masyarakat lokal awalnya spontan menjulukinya “bus roti”. Namun, entah bagaimana, nama pabrikannya justru melekat jauh lebih kuat di lidah orang Aceh. Jika ada seseorang berdiri di sudut jalan kota dan berkata hendak menuju kampus, orang lain akan langsung melempar pertanyaan klise: “Naik Robur?” Dan seketika, semua orang paham ke mana arah tujuan hidupnya hari itu.

Kembali ke tahun 1990-an, ingatan saya sebagai mahasiswa waktu itu masih tersimpan rapi tanpa cela. Robur adalah urat nadi yang memompa denyut kehidupan akademis kami. Cukup dengan sekeping uang receh bernilai 50 rupiah, kami sudah mengantongi tiket sah untuk bertualang dari penatnya kota menuju suak ilmu di Darussalam, atau sebaliknya. 

Saban pagi dan sore, lambung bus besi itu dijejali ratusan anak muda berambut gondrong berombak, bercelana cutbray, dan mendekap buku-buku tebal di dada.

Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berkumpul dan melebur tanpa sekat dengan mahasiswa IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN). 

Tidak ada batas fakultas, tidak ada sekat almamater, apalagi perbedaan strata sosial. Semua berdiri berdesakan, bergelantungan pada tiang-tiang besi yang mulai berkarat, saling memikul beban tubuh sembari berusaha keras menjaga keseimbangan setiap kali bus berguncang menghantam lubang jalanan.

Di dalam kabin Robur yang pengap oleh keringat dan aroma minyak rambut itulah, drama-drama komedi kecil dipentaskan setiap hari. Tokoh utamanya tak lain adalah sang kenek bus. Sepanjang lintasan Banda Aceh menuju Darussalam, kenek ini bertugas layaknya dirigen simfoni jalanan. Setiap kali ada penumpang yang bersiap turun di titik pemberhentian, sang kenek akan memukul-mukulkan uang logam ratusan rupiah ke besi pegangan penumpang dengan ketukan ritmis yang nyaring: ting-ting-ting!, lalu berteriak lantang dengan logat khasnya, “Ada keturunan…!! Ada keturunan…!!” (maksudnya ada penumpang yang hendak turun/berhenti).

Namanya juga mahasiswa, isi kepalanya tentu dipenuhi ide-ide usil. Kebetulan sekali, kenek yang bertugas hari itu berambut kribo lebat mirip sarang burung. Ketika mendengar teriakan “ada keturunan”, seorang mahasiswa jahil dari barisan belakang menyahut dengan suara sengau yang dibuat-buat, “Iya, Kribooo…!”

Merasa namanya dipanggil dengan tidak terhormat, sang kenek langsung membalikkan badan, matanya melotot jenaka seraya membalas dengan teriakan beroktaf tinggi, “Phu kha…?! (Apa kau?!)” yang langsung disambut oleh ledakan tawa gemuruh dari seisi bus.

Keseruan tidak berhenti di situ. Ada masanya taktik gerilya finansial dijalankan secara kolektif, terutama di awal bulan saat kiriman wesel atau uang saku dari kampung halaman baru saja cair. Sekelompok mahasiswa yang naik secara beramai-ramai sengaja bersekongkol untuk membayar ongkos yang hanya 50 rupiah itu dengan selembar uang kertas pecahan 10.000 rupiah—sebuah nominal raksasa untuk ukuran zaman itu. 

Ketika uang itu disodorkan, wajah kenek langsung berubah masam. Rentetan omelan dan merepet panjang dalam bahasa daerah pun meluncur deras dari mulutnya yang komat-kamit menghitung uang kembalian recehan yang memenuhi kantong bajunya. Baginya, itu adalah aksi sabotase; bagi kami, itu adalah kepuasan batin yang tak ternilai harganya.

Belum lagi taktik-taktik maut mahasiswa kos-kosan demi menghemat 50 rupiah:

Taktik Sandiwara Tidur: Memejamkan mata rapat-rapat, bersandar pada jendela bus, dan berpura-pura mendengkur halus saat kondektur mulai bergerak menagih ongkos ke barisan belakang.

Taktik Pingpong Ongkos: Ketika ditagih, dengan wajah polos berbohong, “Bayar di belakang, Bang, sama kawan…” sementara kawan di belakang berteriak, “Udah dibayar di depan tadi, Bang!” membuat kenek pusing tujuh keliling.

Taktik Belut Seng: Menyelinap lincah di antara kerumunan tubuh penumpang yang padat bagai sarden, memanfaatkan momentum kelengahan petugas untuk menyelinap turun tanpa membayar sepeser pun.

Ada pula drama kepanikan yang tak kalah menggelikan. Kadang-kadang, di tengah perjalanan, beberapa mahasiswa tiba-tiba berdesakan minta turun sebelum sampai ke halte tujuan. Alasannya sepele namun darurat: mereka mendadak melihat sosok dosen atau petugas kampus yang terkenal super galak dan pelit nilai sedang duduk tenang di kursi depan bus yang sama. Daripada sepanjang jalan harus menahan napas dan mati kutu, mereka memilih turun di pinggir jalan kosong sembari mengumpat kecil.

Namun, dari seluruh rangkaian ritual harian naik Robur, puncak hiburan yang paling dinanti—dan akan selalu abadi dalam ingatan—adalah saat bus mulai memelankan kecepatan dan bersiap mendekati Simpang Mesra. Ini adalah pertigaan legendaris yang memisahkan jalur arah kota, Krueng Raya, dan Darussalam.

Semua penumpang di dalam bus sudah hafal mati dengan menu wajib di tikungan ini. Sang sopir Robur, yang entah mengapa sering kali merasa dirinya adalah pembalap Formula 1 yang tersesat di Aceh, akan mengambil ancang-ancang dari jauh. Begitu roda depan menyentuh marka pertigaan, dia akan memutar kemudi besarnya dengan gaya teatrikal yang sangat atraktif. 

Bus tua bertubuh tambun itu seketika miring ke kiri secara ekstrem, lalu membanting kembali ke kanan seolah-olah sedang menarikan tarian gila di atas aspal.

Efek domino pun terjadi di dalam kabin. Gaya sentrifugal melemparkan tubuh-tubuh yang berdiri berdekatan. Para mahasiswi spontan menjerit kecil akibat kehilangan keseimbangan, tubuh mereka terhuyung ke arah samping. Sementara itu, mahasiswa laki-laki yang pura-pura berani justru memanfaatkan momen ini untuk berpegangan erat pada tiang, tertawa lepas, dan berteriak kompak bersama-sama memecah keheningan jalanan: “Mesraaaaa…!!!”

Begitu bus kembali stabil dan melaju lurus menuju gerbang Darussalam, pekikan itu berganti menjadi cekikikan panjang yang memenuhi seluruh sudut kabin. 

Perjalanan ke kampus yang melelahkan itu pun berubah menjadi pesta kecil yang berulang setiap hari, menghapus segala penat tugas akhir dan ujian yang menumpuk.

Di balik keriuhan Simpang Mesra itu pula, takdir sering kali bekerja dengan cara yang manis. Gesekan bahu yang tak sengaja saat bus miring, buku kuliah yang jatuh berantakan lalu dipungut bersama, atau sekadar tatapan mata yang bertemu di antara celah jemari yang bergelantungan di besi atap, menjadi awal dari ribuan kisah asmara.

Banyak benih cinta terjalin dari keseruan di dalam bus roti ini. Pertemuan singkat yang berawal dari saling pinjam uang pas 50 rupiah, berlanjut menjadi janji suci di pelaminan. Banyak dari mereka yang akhirnya menemukan belahan jiwa justru pada pandangan pertama di atas jok kulit Robur yang sudah robek.

Berpuluh-puluh tahun kemudian di masa depan, mahasiswa-mahasiswa gila yang dulu berteriak di Simpang Mesra itu akan duduk di ruang tamu rumahnya, menatap anak-cucunya, lalu berkata dengan senyum penuh kerinduan…

“Dulu, Ayah mendapat jodoh pada pandangan pertama dengan Ibu mu… ya di dalam Bus Robur itu.”

Robur kini memang telah lama beristirahat dari aspal Darussalam. Tubuh hijaunya mungkin telah melebur jadi besi tua, digantikan oleh barisan kendaraan modern yang sunyi dan berpendingin udara. 

Namun, bagi kami yang mengandalkan lembaran uang 50 rupiah di tahun 1990-an, bus roti itu tidak pernah benar-benar mati. Ia tetap berjalan dengan gagah di dalam kepala kami, membawa muatan penuh berupa mimpi-mimpi besar, persahabatan yang kekal, serta serpihan cinta masa muda yang tak akan pernah selesai diceritakan oleh waktu.

Horas… Horas… Horas

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...