Esai · Potret Online

Sajak dan Catatan Kecil Din Saja

Penulis Din Saja
Juni 4, 2026
2 menit baca 7
IMG_1333
Foto / IlustrasiSajak dan Catatan Kecil Din Saja

Apa yang dipikirkan tentang hidup 

Mencari sesuatu apapun di luar diri 

Jabatan dan kekuasaan 

Harta dan kekayaan 

Gelar dan pengetahuan 

Fatamorgana yang menutupi kesombongan dan ketidaktahuan 

Perjalanan hidup ialah kesadaran 

Menapaki terjal perbukitan 

Karang lautan membadai 

Lembah kebimbangan sangsai 

Terhempas di bibir pantai hati 

Duhai ketidakmengertian 

Takdir bukanlah bayang-bayang 

Tapi penerimaan ketetapan 

Berjalan mencari Tuhan 

Berpikir untuk Tuhan 

Hidup bersama Tuhan 

Hati itulah kesetiaan 

2026

Jangankan filsafat kesenian, sejarah kesenian pun tidak banyak diketahui, belum lagi sosiologi kesenian, antropologi kesenian, serta elementer kesenian yang banyak bicara tentang keaslian kesenian, lalu karena telah lama berkesenian disebut sebagai seniman.

Sejatinya kesenian tidak hanya soal bagaimana memainkan kesenian, tapi juga ilmu pengetahuan  tentang kesenian, dan juga ilmu pengetahuan lainnya, yang harus diketahui, meskipun tidak dikuasai, bagi seseorang disebut sebagai seniman. Orang seperti ini sepantasnya disebut sebagai seniman pencipta.

Entah bagaimana pula pandangan orang lain tentang seseorang dapat disebut sebagai seniman. 

Dalam pandangan sebuah agama, jika kita simak renungkan, seni itu sejatinya bagi seniman penciptanya, bukan untuk orang lain, terutama kesenian hasil ciptaan seorang seniman.

Sebuah karya seni,  merupakan ungkapan perasaan dan pikiran senimannya, dengan begitu kesenian itu terutama diperuntukkan bagi seniman penciptanya, bukan bagi yang lain. 

Ketika kesenian itu ditampilkan bagi masyarakat, dimainkan pihak lain, kesenian tersebut dimaksudkan hanya sekedar sebagai hiburan, sedikitnya sebuah cermin atau mungkin  secuil pengetahuan.

Kesenian, apapun jenisnya, hanya sebagai catatan seorang seniman, tidak lebih dari itu. Itu sebabnya kesenian sangat personal.

Bagi semangat kapitalisme, kesenian dijadikan sebuah komoditi, bagi paham revolusioner, kesenian dipakai sebagai alat perjuangan, perlawanan dan pemberontakan. Sementara bagi paham sebuah agama, kesenian sebagai sarana perwujudan sikap keimanan senimannya.

2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Din Saja
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...