Logika Di Balik Hal Gaib: Kenapa Klenik Tetap ‘Masuk Akal’ bagi Sebagian Orang?

Oleh Yani Andoko
Beberapa tahun lalu, seorang teman saya yang pedagang pasar tradisional melakukan ritual yang maaf cukup bikin merinding. Ia membeli kemenyan, akar wangi, kain mori, dan sesaji lengkap dengan kepala ayam kampung hitam.
Lalu, tepat tengah malam Jumat Kliwon, ia membakar semuanya di pertigaan depan tokonya.
“Biar dagangan laris, Pak. Kata mbah dukun, ini cara yang sudah turun-temurun,” katanya dengan mata berbinar penuh keyakinan.
Saya bertanya polos, “Tidak cukup dengan strategi marketing, diskon, atau endorse selebgram?”
Dia hanya tersenyum. “Itu cara dunia. Ini cara lain.”
Saya terdiam. Bukan karena takut, tapi karena penasaran. Di dalam kepala saya, ilmuwan modern akan tertawa. Tapi di dalam kepalanya, semuanya terasa sangat logis. Perbedaan inilah yang ingin kita bedah dalam esai ini: mengapa praktik klenik tetap terasa ‘masuk akal’ bagi sebagian orang, padahal di mata sains ia tidak memiliki logika sama sekali?
Analisis Santai Antara Dua Kerangka Berpikir
Apa Itu Klenik dan Apa Itu Logos?
Mari kita sepakati dulu istilahnya. Klenik (dari budaya Jawa) adalah praktik yang menggunakan kekuatan gaib, mistis, atau hal-hal di luar nalar ilmiah. Contoh: pesugihan, santet, jimat penglaris, pelet, dan ritual-ritual aneh yang sering kita dengar di cerita horor atau dari mulut tetangga.
Sementara logos dalam filsafat Barat berarti nalar, akal sehat, hukum sebab-akibat yang bersifat universal dan bisa diuji. Dalam sains, jika Anda memanaskan air di tungku api, air akan mendidih pada 100°C (di permukaan laut). Siapa pun, kapan pun, di mana pun, hasilnya sama. Tidak peduli Anda kaya atau miskin, beriman atau tidak. Itu logos.
Nah, pertanyaan besarnya: Apakah klenik memiliki logos?
Jawaban singkatnya: Tergantung panggung tempat Anda berdiri. Jika Anda berdiri di panggung sains modern, jawabannya TIDAK. Jika Anda berdiri di panggung kepercayaan tradisional (atau yang disebut kerangka berpikir magis), jawabannya IYA, tapi dengan catatan: itu adalah logika yang tidak diakui oleh sains.
Mari kita bedah satu per satu.
Dari Kacamata Sains: Klenik = Nol Logos
Dalam kerangka rasionalitas ilmiah, klenik tidak memiliki hubungan sebab-akibat yang valid. Tidak ada bukti empiris, tidak bisa direplikasi di laboratorium, dan tidak ada mekanisme fisik yang menjelaskannya.
Contoh kasus: pesugihan yang mengharuskan seseorang puasa tidak tidur 7 hari 7 malam, lalu tidur di pusara makam keramat, dan esok paginya uang jutaan rupiah muncul di bawah bantal.
Logika ilmiah: Tidak ada jalur kausal antara puasa malam + tidur di kuburan dengan munculnya uang. Uang tidak tumbuh dari tanah, tidak diantar kurir misterius. Tidak ada energi gaib yang terukur.
Penjelasan alternatif oleh sains: Bisa jadi uang itu diletakkan secara diam-diam oleh orang lain (perantara dukun) untuk menciptakan ilusi. Atau sugesti kuat yang membuat korban tanpa sadar mengambil uang dari tabungan sendiri lalu lupa. Atau murni kebetulan.
Dalam psikologi, fenomena ini sering dijelaskan sebagai confirmation bias (bias konfirmasi). Seseorang yang percaya klenik akan mengingat kejadian-kejadian yang kebetulan membenarkan keyakinannya, dan melupakan ratusan kejadian gagal. Contoh: “Wah, setelah pasang tusuk konde di pintu, daganganku laris!” Padahal mungkin faktor cuaca sedang bagus, atau ada promo dari supplier. Tapi pikirannya langsung menghubungkan tusuk konde dengan kesuksesan.
Ada juga istilah post hoc ergo propter hoc (setelah ini, maka karena ini): karena ritual dilakukan sebelum hasil datang, maka ritual dianggap sebagai penyebab. Ini kekeliruan logika klasik yang sudah dikenal sejak Aristoteles.
Jadi dari sudut pandang ilmiah, klenik TIDAK mengandung logos. Nol besar.
Dari Kacamata Magis: Ada Logika Sendiri (Tapi Tak Diakui Sains)
Sekarang, mari kita turun ke panggung kedua. Bagi orang yang hidup dalam tradisi magis, mereka tidak merasa bertindak ngawur. Justru mereka merasa sangat logis dalam sistem keyakinannya sendiri. Inilah yang disebut antropolog sebagai logika magis atau magical thinking.
Logika magis berbeda dengan logika ilmiah, namun ia tetap memiliki:
Aturan sebab-akibat yang konsisten secara internal
Syarat dan konsekuensi yang jelas
Bukti anekdotal yang dianggap valid oleh komunitas
Mari kita lihat contoh detail:
Dalam praktik klenik Jawa untuk “penglaris dagangan”, biasanya ada rangkaian:
Harus melakukan ritual pada hari dan jam tertentu (misal Jumat Kliwon jam 12 malam).
Harus menggunakan sesaji tertentu (kemenyan, kembang setaman, makanan tertentu).
Harus membaca mantra khusus dengan jumlah ketukan tertentu.
Harus menghindari pantangan tertentu (tidak boleh marah, tidak boleh makan daging sapi, dll).
Bagi yang percaya, jika semua syarat dipenuhi, maka hasil (dagangan laris) pasti akan datang. Ini adalah sebab-akibat versi magis: input ritual + syarat + ketekunan → output gaib.
Dalam kerangka ini, kegagalan ritual tidak dianggap sebagai bukti bahwa sistemnya salah. Mereka akan berkata, “Kamu pasti tidak khusyuk,” atau “Ada pantangan yang tersisa,” atau “Kamu kurang puasanya.” Dengan kata lain, sistem magis memiliki mekanisme pembenaran sendiri yang membuatnya tetap logis bagi penganutnya.
Ilustrasi perbandingan:
Aspek Logika ilmiah Logika magis (dalam klenik)
Sebab-akibat Universal, terukur Simbolis, kontekstual
Pembuktian Eksperimen, lab, statistik Pengalaman pribadi, turun-temurun
Jika gagal Teori direvisi atau ditolak Pelaku dianggap salah syarat
Agen penyebab Hukum alam (fisika, kimia, biologi) Kekuatan gaib, roh, leluhur
Jadi, apakah klenik memiliki logos? Dalam kerangka magis, jawabannya: IYA, tetapi itu adalah logos yang tidak diakui oleh sains karena metodenya tidak sesuai dengan standar objektivitas universal.
Mengapa Ini Penting? (Supaya Kita Tidak Terjebak)
Memahami perbedaan ini bukan untuk membenarkan klenik, melainkan untuk tidak menyederhanakan orang lain sebagai bodoh. Seorang profesor fisika sekalipun bisa saja masih percaya pada jimat ketika menghadapi ujian hidup yang penuh ketidakpastian.
Data menarik: Survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga (misal LSI atau Litbang Kompas) secara berkala menunjukkan bahwa sekitar 50-70% masyarakat Indonesia masih percaya pada hal-hal mistis dalam tingkat tertentu. Angka ini bahkan naik pada masa krisis ekonomi atau pandemi. Mengapa? Karena ketika sains tidak bisa memberikan kepastian, manusia cenderung mencari sistem penjelasan alternatif termasuk klenik.
Contoh sehari-hari yang sering kita temui:
Orang yang sebelum ujian selalu memegang pulpen “berkah” tertentu.
Supir angkot yang menempelkan kuteks (cat kuku) di kaca depan untuk menangkal kecelakaan.
Pejabat yang melakukan “selamatan” di kantor baru meskipun modern.
Karyawan yang tidak mau membuang boneka pemberian mantan karena “nanti sial”.
Semua ini adalah fragmen kecil dari logika magis yang hidup di tengah masyarakat modern.
Batasan: Jangan Samakan Klenik dengan Agama
Penting untuk membedakan klenik dari agama. Agama yang sehat mengajarkan iman kepada Tuhan disertai perintah moral dan akal budi. Klenik cenderung ke arah manipulasi kekuatan gaib untuk tujuan praktis (kekayaan, kekuasaan, seks, balas dendam) tanpa landasan etis yang jelas.
Dalam banyak tradisi agama besar, praktik klenik (santet, pesugihan, jimat penglaris) justru dilarang karena dianggap syirik atau menyekutukan Tuhan. Jadi, jangan sampai Anda membela klenik dengan alasan “toleransi beragama”. Dua hal ini berbeda.
Mari kita tarik benang merahnya.
Pertama, dari sudut pandang sains modern, klenik sama sekali tidak mengandung logos. Ia tidak rasional, tidak terukur, dan tidak bisa dibuktikan.
Kedua, dari sudut pandang kerangka berpikir magis, klenik memiliki logika tersendiri—lengkap dengan sebab-akibat, syarat, dan konsekuensi—namun logika itu bersifat subjektif, lokal, dan tidak diakui oleh metode ilmiah.
Ketiga, memahami perbedaan ini membuat kita lebih bijak. Kita tidak perlu percaya klenik, tapi kita juga tidak perlu merendahkan mereka yang percaya dengan julukan “goblok”. Mereka hanya menggunakan peta dunia yang berbeda peta yang mungkin keliru menurut sains, namun terasa nyata bagi penghuninya.
Yang lebih penting: sebagai manusia modern, kita harus belajar membedakan kapan menggunakan logika ilmiah dan kapan menghormati keyakinan tradisional. Untuk urusan pengobatan medis, rekayasa teknologi, dan kebijakan publik, sains adalah pilihan terbaik. Tapi untuk urusan makna hidup, simbol budaya, dan ketenangan batin di situlah kadang klenik dan tradisi lokal masih punya tempat. Dengan syarat: jangan sampai kita dikorbankan demi kekayaan semu atau menjadi korban penipuan.
Klenik itu boleh saja menjadi pelipur lara di kala bingung. Tapi jangan sampai Anda puasa 7 hari lalu tidur di kuburan, dan esok paginya bukan uang yang muncul, melainkan satpam pemakaman yang marah-marah. Itu bukan salah sains atau klenik. Itu mungkin karena Anda lupa membawa kartu identitas.
Bijaklah: imani nalar, nalari iman. Hormati tradisi, tapi jangan terjebak mitos.
Batu, 8 April 2026














