Esai · Potret Online

Cak Kartolo Menghidupkan Ludruk Dan Membungkam Kekuasaan Dengan Gelak Tawa

Penulis Yani Andoko
Juni 3, 2026
6 menit baca 7
Disunting Oleh

Oleh Yani Andoko 

Ludruk pernah menjadi suara paling akrab dari sudut-sudut kampung. Pada 1970-an, masyarakat kelas pekerja di Surabaya rela duduk semalaman di panggung tobong panggung darurat yang berpindah dari satu kampung ke kampung lain hanya untuk menyaksikan cerita yang sangat dekat dengan hidup mereka sendiri. 

Di atas panggung yang sederhana itu, seorang maestro bernama Kartolo atau akrab disapa Cak Kartolo, tidak hanya menghibur. Ia telah menemukan cara cerdas untuk melawan, mengkritik, dan membebaskan, hanya dengan bermodal tawa.

Ludruk sendiri merupakan kesenian drama tradisional asal Jawa Timur yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-12 Masehi, dikenal saat itu sebagai Ludruk Bandhan yang bersifat magis. Ia lahir dan berkembang di tengah-tengah rakyat dan bersumber pada spontanitas kehidupan rakyat, disampaikan dengan penampilan dan bahasa yang mudah dicerna masyarakat. 

Akar sejarah yang kaya inilah yang kemudian diolah dan dihidupkan kembali oleh Kartolo dengan cara yang segar dan revolusioner.

Sepenggal Kisah Wong Cilik: Dari Sekolah Rakyat Menjadi Legenda

Lahir di Prigen, Pasuruan pada 2 Juli 1948, Kartolo bukanlah produk sekolah seni formal. Ia tumbuh sebagai wong cilik di tengah kerasnya kehidupan. Didikan formalnya hanya sebatas Sekolah Rakyat (setara SD). Ayahnya, Aliman, bekerja sebagai buruh pabrik tenun di kawasan Juwingan, Surabaya, sementara ibunya, Payamah, berdagang warung kelontong. 

Meski sempat bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena gajinya tetap, takdir membawanya ke atas panggung pentas pada 1967 di usianya yang ke-22.

Kariernya dimulai dengan bergabung di tobongan rombongan ludruk keliling yang bisa terdiri dari 50 hingga 60 orang, lengkap dengan pemain hingga tukang dekor. Ia bergabung dengan grup ludruk RRI Surabaya pada 1971, pentas bersama seniman ternama seperti Markuat, Kancil, dan Munali Fatah.

Di tangan Cak Kartolo, ludruk yang cenderung kaku berubah total. Ia mempertahankan ruhnya, namun mengubah cara penyampaiannya. 

Mengandalkan spontanitas, ia tak mau mengulang kalimat-kalimat lawakannya yang sudah sering ia keluarkan dan selalu berusaha mencari parikan-parikan yang baru. Dialog-dialog spontan dan interaksi langsung dengan penonton membuat pertunjukannya hidup dan tidak kaku. 

“Kesenian itu bukan paksaan, melainkan kesadaran,” ujarnya, mencerminkan filosofi bahwa seni harus datang dari hati agar bisa menyentuh publik.

Ia bahkan membawa ludruk keluar dari panggung fisik. Di era 1980-an, ketika televisi mulai menggerus panggung tradisional, Kartolo justru masuk dapur rekaman bersama Nirwana Record. Alih-alih punah, suaranya menyebar lewat radio hingga kaset yang diputar di setiap warung kopi, menghasilkan sekitar 95 album hingga 79 episode audio yang melegenda.

Salah satu inovasinya yang menarik adalah ia tak pernah melantunkan syair kidungan yang telah dikasetkan, agar penonton tidak bosan mendengarkan lawakannya. Ia juga selalu mencatat isi lawakan yang pernah ia sampaikan di pentas sebagai cara untuk terus menggali materi baru.

Kritik Berbalut Humor: Majalah Dinding Rakyat Jelata

Dalam setiap jula-juli (kidung jenaka) dan parikan, terselip kritik yang sangat sastrawi. Di sela humor itu, terselip kritik sosial yang tajam, kadang getir, namun selalu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ludruk menjadi ruang bagi rakyat untuk membaca hidup dengan tertawa.

Sejarah panjang ludruk sebagai media kritik telah ada sejak masa kolonial. Pada zaman pemerintah kolonial Belanda, ludruk dikenal sebagai media penyalur kritik sosial kepada pemerintah. Pada zaman Jepang, Cak Durasim, tokoh ludruk legendaris lainnya, berani melontarkan parikan: “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro” (Bekupon rumah burung dara, ikut Jepang lebih sengsara), yang mengakibatkannya ditangkap dan meninggal dalam tahanan. Kartolo mewarisi tradisi kritik sosial ini dan membawanya ke era modern dengan pendekatan yang lebih luwes.

Kartolo menggunakan pendekatan yang cerdas. Alih-alih menyerang secara vulgar, ia menggunakan satire. Dalam sebuah cerita lawak, ia mengisahkan temannya yang nekat menjual sepeda yang bukan miliknya sendiri, lalu ketahuan pemiliknya. Si penjual yang tertangkap basah hanya bisa senyum-senyum, dan semua berakhir dengan tawa tanpa kekerasan. Ia bahkan menyentuh isu-isu kontemporer seperti kebocoran tabung gas, kemacetan Jakarta, hingga tingkah polah para wakil rakyat, semuanya dibungkus guyonan yang mengundang tawa.

Inilah “seni perlawanan halus” yang cerdas. Ludruk menjadi media kontrol sosial yang hidup sebuah “majalah mingguan” bagi wong cilik yang berani melaporkan keganjilan sosial dan mentertawakan kebijakan absurd tanpa harus melakukan kekerasan. Seperti yang dicatat oleh para budayawan, ludruk sejak awal hadir sebagai seni rakyat yang merespons situasi sosial melalui parodi dan satire yang sastrawi.

Manusia Biasa Di Tengah Sulitnya Zaman

Ketika Tertawa Dan Menangis Menjadi Satu, Namun, sosok di balik tawa itu tetaplah manusia biasa. Selama pandemi COVID-19, ketika panggung membeku dan panggilan pentas tak kunjung datang, Kartolo harus rela mengantre mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bersama warga lainnya.

Dengan masker menutupi wajahnya, tak ada yang mengenali dirinya. Baru saat tiba di depan konter dan membuka masker, petugas kaget dan banyak pengantre lainnya yang kemudian mengeluarkan senyum. Ia nekat menawarkan rumah pribadinya yang telah ditempati sejak 1984 untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Rumah yang luasnya mencapai 440 meter persegi itu sempat ditawar Rp 6 miliar. Bahkan di tengah kesulitan, banyolan tak pernah luntur ia sempat nyeletuk kepada petugas, apakah akan diajak foto selfie setelah ketahuan.

Ia banting setir membuat konten di kanal YouTube. Beberapa potongan narasi ciptaannya viral di media sosial, salah satunya adalah kidungan mendiang Basman: “Angel, angel… Angel temen tuturanmu…” (sulit sekali kamu dinasihati).

Dari sinilah muncul kedalaman makna bahwa kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah inti dari filosofi hidup masyarakat Jawa Timur: sederhana namun cerdas (ngglethek). Filsafat ngglethek ini menggambarkan sesuatu yang dikira hebat dan besar, tapi ternyata tidak ada apa-apanya. 

Ada janji-janji muluk yang diberikan seorang pemimpin, tapi ternyata ngglethek tidak sesuai dengan kenyataan. Romo Sindhunata, budayawan terkemuka, menyebut Kartolo sebagai maestro ilmu ngglethek yang menguasai ilmu itu sampai ngelontok dan mempraktikkannya dalam hidup sehari-hari.

Warisan Dan Pengakuan: Sebuah Narasi Yang Tak Usai

Kartolo bertahan. Ia melintasi zaman dari radio, televisi, hingga media sosial. Pada 2015, ia menerima Life Achievement Award dari PWI Jawa Timur, dilanjutkan Lifetime Achievement Award dari Persatuan Seni Komedi Indonesia pada 2020. 

Puncaknya, pada 2026, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menetapkan arsip perjalanan seninya sebagai Memori Kolektif Bangsa, yang secara resmi dianugerahkan dalam ajang Anugerah Kearsipan Tahun 2026. Pengakuan negara ini menegaskan bahwa perjalanan seorang seniman rakyat mampu merekam denyut sosial sebuah daerah selama puluhan tahun.

Namun, di balik penghargaan, keprihatinan mendalam menyelimuti maestro ini. Di usianya yang tak lagi muda, Cak Kartolo kini galau. Kecintaan anak muda Surabaya tentang kesenian tradisional masih sangat minim. Kesenian tradisional seperti ludruk maupun wayang masih dianggap kuno bagi kaum milenial. 

Bahkan ketika pertunjukan kesenian tradisional digelar, penonton masih didominasi oleh generasi tua, hanya segelintir anak muda yang menyaksikan. Ia berharap pemerintah menyediakan tempat dan wadah khusus bagi generasi muda agar seni ini tetap bisa tampil ke permukaan.

Panggung Yang Belum Usai

Keberhasilan Cak Kartolo membuktikan bahwa kesenian tradisional tidak akan bertahan dengan cara membekukan tradisi. Kesenian hidup karena adaptasi, kreativitas, dan keberanian untuk terus relevan dengan zamannya. Ia telah membuktikan bahwa tawa adalah senjata paling halus namun paling tajam.

Panggung ludruk adalah ruang demokrasi rakyat yang sesungguhnya, di mana suara wong cilik didengar, ketidakadilan diejek, dan semua orang setara dalam gelak tawa. Ludruk adalah alat perlawanan budaya yang luwes, cerdas, dan membebaskan. Kartolo mengajarkan kita bahwa di tengah gempuran modernisasi, perlawanan tak harus selalu garang dan frontal. 

Lewat tawa dan panggung, ia membebaskan kesadaran rakyat dengan cara yang manusiawi.

Dan hingga hari ini, di tengah hiruk-pikuk digital, panggung sang legenda masih terus beresonansi tertawa, menyindir, dan tak pernah benar-benar usai.

                     Batu, 5 April 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Batu, Malang, Jawa Timur
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...