Mencari Korelasi Minat Menulis Mahasiswa dan Budaya Menulis Profesor

Oleh Tabrani Yunis
Ada kawan yang sekalian pembaca Potretonline.com, menelpon penulis dan bertanya, mengapa menulis tentang profesor bertubi-tubi? Apa ada masalah dengan para profesor?
Pertanyaan itu menggelitik dan memunculkan tawa dan juga pertanyaan balik, untuk verifikasi, bukan validasi. Bertubi-tubi? Bukankah baru dua tulisan dan ditambah dengan dua tulisan tanggapan masing-masing dari Dr. Teuku Muhammad Jamil dan Prof Burhanuddin Yasin.
Kalau soal masalah pribadi, tentu saja tidak pernah ada urusan pribadi. Yang ada hanya prihatin, karena ketika 21 profesor itu diminta bicara soal pendidikan Aceh, lalu ke 21 profesor pun hadir tanpa membawa konsep, sehingga pertemuan tak lebih hanya sebagai silaturahmi saja.
Sementara kehadiran mereka diharapkan membawa perubahan baru di dunia pendidikan di Aceh, namun kenyataannya hanya menjadi content media sosial Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh di facebook atau lainnya.
Barangkali para pembaca ada menyaksikan content itu. Penulis sendiri ikut menyimak informasi tersebut di medsos dan juga menjadi konsumsi berita di media. Jadi, yang menyedihkan adalah , pertemuan 21 profesor di Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh itu adalah pertemuan yang tidak membawa hasil bagi pendidikan Aceh.
Nah, tulisan pertama yang bertajuk “ Bertanya Soal Minimnya peran profesor dalam membangun Pendidikan Aceh” itu adalah tulisan respons, menyikapi pernyataan Kadisdik tingkat Provinsi Aceh terhadap minimnya peran Profesor dalam membangun pendidikan Aceh yang juga menjadi pernyataan menohok dari dinas pendidikan itu terhadap para profesor.
Ya, terus terang penulis merasa prihatin dengan pernyataan-pernyataan Kadisdik tingkat Provinsi Aceh dalam acara 21 profesor bicara pendidikan Aceh. Apalagi posisi ke 21 profesor dalam acara bicara soal pendidikan Aceh itu, adalah pihak tidak dimanfaatkan, bukan memanfaatkan.
Sehingga lahir tulisan kedua. Lalu, karena pernyataan itu juga terkait dengan masalah menulis, maka isu ini menjadi menarik pula untuk diulas dan isu ini menjadi bertambah menarik untuk diulas. Sehingga muncul tulisan ke dua dengan judul “ Membaca Budaya Menulis Profesor.
Setelah tulisan itu ditulis, dan dipublikasikan di Potretonline.com, maka semakin menambah ide atau gagasan ketika membaca budaya menulis para profesor, di platform media online dewasa ini, bukan di media sosial berupa tulisan status. Tentu kelas profesor akan lebih tinggi dari sekadar membuat konten atau status di media sosial, tetapi mendistribusikan pikiran lewat tulisan berupa artikel, esai atau opini yang selama ini banyak ditulis oleh kalangan yang belum profesor yang tingkat pendidikan mereka malah hanya tamat SMA.
Penulis juga menilai bahwa selama ini minat dan kemauan menulis para profesor, khususnya dari FKIP USK ini berada pada level yang rendah. Untuk membuktikannya kita bisa searching di internet atau di media online di Aceh, kita juga akan menemukan fakta minim tersebut .
Minimnya profesor menulis di media cetak atau online di Aceh menjadi sebuah indikator akan rendah budaya menulis di media publik, di kalangan profesor di Aceh. Walau mungkin banyak menulis di journal ilmiah, tulisan di jurnal ilmiah dilatarbelakangi oleh kebutuhan atau tuntutan administrasi kepangkatan dan jabatan yang bisa meningkatkan gaji. Bukan tulisan yang lahir sebagai sebuah kontribusi pemikiran dan upaya pencerahan publik. Kondisi ini patut kita merasa prihatin.
Apalagi seperti disebutkan di atas bahwa hasil amatan kita di banyak media, baik media cetak, maupun media online, sulit sekali menemukan tulisan para profesor. Malah lebih banyak dari kalangan yang non profesor. Fakta memang menujukan sangat minim jumlah profesor yang menulis di media publik, seperti di media cetak ( koran atau surat kabar), majalah dan juga di media online. Para pembaca boleh juga mencoba mengamatinya.
Maka, tulisan ini ditulis juga terinspirasi dan muncul setelah mengurai tentang budaya menulis profesor di dunia publik yang dinilai juga rendah. Padahal, profesor seperti diungkapkan dan ditulis oleh Dr. TM. Jamil di Potretonline, adalah apa yang disebut sebagai penjaga kewarasan.
Jadi, profesor sebagai penjaga kewarasan itu hanya akan terwujud jika mereka kembali menulis untuk publik dan mahasiswa, bukan hanya menulis untuk robot indeksasi (Scopus/Sinta). Kewarasan publik hanya bisa dirawat jika para pemikir terbaik bangsa ini mau turun gunung, menulis dengan jernih, dan menularkan keberanian berpikir itu kepada mahasiswa, khususnya dan publik pada umumnya.
Nah, berangkat dari realitas tersebut, penulis ingin mengajak para pembaca untuk membaca dan mencari korelasi antara minat menulis para profesor dengan minat mahasiswa. Hal ini perlu dan penting kita kaji, untuk mendapatkan gambaran jelas, ketika profesor memiliki minat menulis tulisan populer di media dengan minat menulis para mahasiswa di kampus.
Biasanya selalu ada hubungan kausalitas budaya menulis para profesor dengan mahasiswa yang mereka didik di kampus. Sebab, budaya akademik di tingkat atas (profesor) secara otomatis membentuk habitus akademik di tingkat bawah (mahasiswa).
Anehnya, rendahnya kemampuan menulis ilmiah mahasiswa di Indonesia sering kali dilihat sebagai masalah hulu, akibat kurikulum sekolah menengah yang minim praktik menulis atau kedangkalan minat baca. Namun, jika ditarik ke hilir, ada benang merah yang kuat antara aktivitas dan budaya menulis di kalangan profesor dengan kualitas literasi akademis para mahasiswa yang mereka bimbing.
Hubungan ini bukan sekadar soal “dosen tidak mengajar dengan baik,” melainkan cerminan dari sistem ekosistem akademis kita.
Sebagaimana kita ketahui bahwa menulis adalah keterampilan yang ditularkan (acquired skill). Mahasiswa membutuhkan contoh nyata bagaimana seorang pemikir menstrukturkan idenya. Ketika dosen atau profesor jarang menulis, atau hanya menulis untuk lingkaran jurnal tertutup, mahasiswa tidak pernah melihat proses balik layar dari sebuah tulisan yang baik.
Profesor yang aktif menulis secara jernih biasanya akan mengajar dengan jernih pula, serta mampu mendemonstrasikan cara membedah teks, menyusun argumen, dan menghindari plagiarisme.
Harus diakui bahwa rendahnya kualitas skripsi, tesis, atau tesis mahasiswa juga sering berakar dari proses bimbingan (advising). Bisa jadi, koreksi bimbingan sering kali hanya berkutat pada format, salah ketik (typo), margin, atau daftar pustaka.
Bahkan jarang sekali ada dialog mendalam mengenai logical fallacy (kesesatan berpikir), ketajaman sintesis literatur, atau kebaruan (novelty) argumen. Mahasiswa akhirnya memandang menulis tugas akhir sekadar sebagai ritual birokrasi untuk lulus.
Selain itu, bila kita melihat di negara dengan tradisi akademik yang kuat, profesor melibatkan mahasiswa dalam proyek riset mereka. Mahasiswa diajari menulis sejak draf pertama, dikritik habis-habisan, hingga artikel itu terbit.
Sementara kita di Indonesia, kolaborasi ini sering kali timpang. Mahasiswa sering dijadikan “pengumpul data” lapangan, sementara proses analisis dan penulisan intensifnya tidak diajarkan secara transparan. Akibatnya, ketika mahasiswa harus menulis mandiri, mereka gagap karena tidak pernah diajari craftmanship (seni dan teknik) menulis ilmiah.
Kita juga memahami bagaimana sibuknya para profesor di kampus hingga tidak punya waktu dan semangat menulis di media masa, walau masyarakat sangat membutuhkan aksi pencerahan dari profesor dalam tulisan-tulisan populer di media online yang jumlahnya semakin menjamur itu.
Alasan yang lazim terdengar mengapa para profesor tidak menulis di media online karena profesor kehabisan waktu untuk menulis dengan waras dan berkualitas, mereka tidak memiliki energi tersisa untuk menularkan energi literasi itu kepada mahasiswanya. Hasil akhirnya adalah mahasiswa yang menulis dengan metode copy-paste, gagap menyusun kalimat efektif, dan asing terhadap pemikiran kritis.
Agaknya, apa pun alasannya para profesor di kampus harus bisa memutus rantai ini, harus ada upaya pembenahan budaya menulis di kalangan profesor di kampus. Bahkan institusi pendidikan tinggi di Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan. Misalnya dengan mengembalikan peran profesor sebagai Mentor Mutu.
Di sini, Insentif dan penilaian profesor harus digeser dari sekadar “jumlah artikel terbit” di jurnal, menjadi “seberapa besar keterlibatan mereka dalam membangun kemampuan akademik mahasiswa menulis untuk memanfaatkan banyaknya media yang menyediakan ruang menulis.
Tanpa adanya pembenahan budaya menulis di tingkat guru besar, upaya meningkatkan literasi mahasiswa di tingkat bawah hanya akan menjadi kosmetik kurikulum tanpa dampak nyata.
Akhirnya, harus disadari bahwa sebutan profesor sebagai “penjaga kewarasan, khususnya kewarasan publik dan akademik, bukanlah sekadar gelar pelengkap. Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi politik, dan fenomena post-truth (pascakebenaran), peran ini menjadi krusial. Karena seorang Guru Besar atau Profesor telah mencapai puncak kematangan intelektual. Mereka dianggap memiliki otoritas moral dan ilmiah untuk menjadi kompas di tengah disinformasi. Ya, ketika publik dibingungkan oleh hoaks, bias algoritma, atau klaim sepihak penguasa, profesor bertugas menjernihkan keadaan menggunakan data, metodologi yang sahih, dan logika yang runtut.
Tentu saja pada tataran yang lebih radikal, profesor di sini dituntut mampu menyuarakan kebenaran tanpa takut (Speak Truth to Power).
Semua tahu bahwa profesor memiliki modal simbolis yang besar. Kebebasan mimbar akademik melekat pada mereka agar mereka bisa mengkritik kebijakan publik yang keliru tanpa motif politik praktis.
Yang paling kita takutkan adalah ketika figur profesor gagal menjadi penjaga kewarasan yang aktif menulis dan bersuara, mahasiswa mengalami disorientasi akademik. Mahasiswa tidak lagi melihat kampus sebagai laboratorium pemikiran, melainkan sekadar pabrik ijazah.
Efek dominonya jelas, kemampuan menulis mahasiswa rendah karena mereka tidak pernah diajak untuk gelisah terhadap realitas. Menulis yang baik selalu dimulai dari kegelisahan intelektual. Jika profesornya pragmatis, mahasiswanya akan menjadi oportunis. Menulis tugas akhir sekadar copas atau menggunakan AI secara ugal-ugalan tanpa kedalaman berpikir. Sangat berbahaya bukan?












