Omah Sinau dan Beribu Warna yang Menyelamatkan Masa Depan Generasi

Oleh Fileski Walidha Tanjung
Di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Madiun, Plaza Madiun pada Minggu siang yang riuh oleh suara anak-anak, saya menyaksikan sesuatu yang diam-diam lebih penting daripada sekadar perlombaan mewarnai. Di antara meja-meja kecil, kotak krayon, tangan-tangan mungil yang belepotan warna, dan orang tua yang sibuk memotret anaknya, saya merasa sedang melihat sebuah peristiwa kebudayaan yang sering diremehkan: lahirnya cara manusia memandang dunia.
Acara Lomba Mewarnai yang diselenggarakan atas kerjasama Omah Sinau, Plaza Madiun, dan OOTB itu tampak sederhana di permukaan. Namun justru di tempat-tempat sederhana semacam itulah masa depan sering disemai secara diam-diam. Saya hadir sebagai juri bersama Bu Wiwik, seorang perupa dari Forum TBM Kota Madiun.
Kegiatan itu juga menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas: UKM PK UIN Ponorogo, Madiun Raya Read Aloud, Fatayat NU Kota Madiun, Forum TBM Kota Madiun, Game Fantasia, hingga Kiddie Crabs. Sebuah jejaring sosial-kultural yang menunjukkan bahwa pendidikan seni sejatinya tidak pernah berdiri sendirian. Ia tumbuh dari gotong royong imajinasi.
Kita hidup di zaman yang aneh. Anak-anak dipaksa tumbuh terlalu cepat di bawah algoritma, target akademik, dan obsesi menjadi “berhasil”. Dunia dewasa semakin gemar mengukur manusia dari produktivitas ekonominya. Bahkan masa kecil pun mulai diperlakukan seperti proyek investasi. Di tengah situasi itu, lomba mewarnai bisa menjadi tindakan yang bersifat humanis: memberi ruang bagi anak untuk bebas bermain dengan imajinasinya.
Filsuf Jerman, Friedrich Schiller, pernah menulis, “Manusia hanya benar-benar menjadi manusia ketika ia bermain.” Kalimat itu terasa relevan hari ini. Bermain bukan aktivitas remeh. Bermain adalah cara manusia belajar mencipta makna sebelum dunia mengajarinya ketakutan. Anak-anak yang sedang mewarnai sesungguhnya sedang belajar menyusun hubungan antara rasa, warna, keberanian, dan kebebasan.
Di antara sekian banyak karya yang saya lihat hari itu, ada satu karya gambar yang diam-diam tinggal dalam ingatan saya: karya milik Azka Nur Hanifah. Saya memiliki firasat: jika terus konsisten berkarya, Azka bisa menjadi pelukis besar dari Kota Madiun di masa depan. Tentu firasat bukan ramalan. Tetapi ada sesuatu dalam karya Azka yang membuat saya percaya bahwa bakat artistik tidak hanya lahir dari kemampuan teknis, melainkan dari cara seseorang memberi jiwa pada warna.
Azka tidak sekadar mewarnai gambar. Ia memberi tafsir. Ada keberanian memilih komposisi warna yang tidak lazim namun tetap harmonis. Ada ketelitian menjaga bidang-bidang gambar tetap hidup tanpa kehilangan spontanitas anak-anak. Ada keberanian memberi sentuhan kreatif tambahan yang membuat karyanya terasa memiliki “napas”. Sebab karya yang layak menjadi juara terbaik bukan hanya karya yang rapi, tetapi karya yang memiliki karakter visual, keberanian imajinatif, dan kemampuan menghadirkan emosi.
Sering kali kita terlalu sibuk mengajarkan anak tentang jawaban benar, tetapi lupa mengajarkan bahwa dunia juga membutuhkan kemungkinan-kemungkinan baru. Padahal seni tumbuh dari keberanian menyimpang secara kreatif. Pablo Picasso pernah berkata, “Setiap anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seniman ketika ia dewasa.” Kutipan itu seperti tamparan bagi dunia pendidikan modern yang kadang lebih sibuk menyeragamkan daripada merawat keunikan.
Pada saat evaluasi juri, saya sempat menceritakan pengalaman pribadi yang bagi saya sangat penting. Hari itu sebenarnya anak saya ingin mengikuti lomba. Tetapi karena saya menjadi juri, saya tidak memperbolehkannya ikut demi menjaga netralitas. Saya percaya integritas adalah bagian dari pendidikan moral yang juga harus diajarkan kepada anak-anak.
Namun saya juga menceritakan sebuah pengalaman lain yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Anak saya, Huiga Tanjung Ramadan, pernah membuat sebuah lukisan yang membuat saya terdiam cukup lama. Ada sesuatu yang polos sekaligus liar di dalamnya. Saya kemudian menjadikan lukisan Huiga sebagai sampul buku puisi saya yang berjudul Epistemologi Moksa Para Naga. Dan tanpa disangka, lukisan itu menarik perhatian Ananda Sukarlan hingga akhirnya dibeli dengan nilai yang bagi saya luar biasa.
Banyak orang mungkin akan terkesan pada nominalnya. Tetapi bagi saya, nilai terpentingnya bukan uang itu. Yang paling penting adalah: seorang anak merasa bahwa imajinasinya dihargai.
Momen semacam itu sangat besar bagi perkembangan jiwa anak. Ketika karya anak dihargai, anak belajar bahwa pikirannya penting, perasaannya berharga, dan kreativitasnya memiliki tempat di dunia. Namun di sinilah kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai bakat anak berubah menjadi ambisi orang dewasa. Jangan sampai seni berubah menjadi tekanan. Jangan sampai anak kehilangan masa kecilnya karena terlalu cepat dibebani pasar, prestasi, dan popularitas.
Anak bukan alat investasi.
Kalau suatu hari karya mereka bernilai ekonomi, itu hanyalah bonus dari proses panjang mencintai seni. Sebab seni yang lahir dari tekanan sering kehilangan jiwa, sedangkan seni yang tumbuh dari kegembiraan akan menemukan jalannya sendiri.
Saya kira persoalan terbesar kita hari ini bukan kekurangan anak pintar, melainkan kekurangan ruang yang sehat bagi anak untuk bertumbuh secara manusiawi. Kita terlalu sering mempersiapkan anak untuk pasar kerja, tetapi lupa mempersiapkan mereka menghadapi kesepian, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Padahal seni sejak dahulu bukan sekadar hiburan, melainkan cara manusia mempertahankan kewarasannya.
Pemikir asal Korea Selatan, Byung-Chul Han, pernah mengkritik masyarakat modern sebagai “masyarakat kelelahan”, sebuah peradaban yang membuat manusia terus-menerus mengejar performa hingga kehilangan kemampuan menikmati hidup. Dalam konteks itulah, anak-anak yang mewarnai dengan gembira sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu kepada orang dewasa: bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kompetisi, tetapi juga dari keberanian bermain tanpa takut gagal.
Saya membayangkan, mungkin beberapa puluh tahun lagi, sebagian anak-anak yang hari itu duduk di lantai Plaza Madiun akan tumbuh menjadi pelukis, penulis, desainer, arsitek, guru, atau bahkan manusia biasa yang tetap memiliki kepekaan rasa di tengah dunia yang makin bising. Dan bukankah dunia memang lebih membutuhkan manusia yang peka daripada sekadar manusia yang sukses?
Karena itu, tugas orang tua bukan mencetak “anak ajaib”. Tugas kita adalah menyediakan ruang agar anak berani mencoba, berani salah, berani berimajinasi, dan merasa aman menjadi dirinya sendiri. Dunia sudah terlalu penuh oleh manusia yang takut berbeda.
Kadang masa depan besar memang berawal dari satu crayon kecil yang dibiarkan bergerak bebas di tangan anak-anak.
Dan mungkin pertanyaan terpentingnya bukanlah: “Anak ini nanti akan jadi apa?” Melainkan: apakah kita sudah cukup menjaga nyala imajinasinya agar tidak padam sebelum ia dewasa. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah seorang seniman dan guru seni budaya di SMA Negeri 2 Madiun yang lahir di Madiun tahun 1988. Aktif menulis esai, prosa, puisi, dan kuratorial seni rupa di berbagai media nasional. Novel terbarunya berjudul “Tanah Terbelah 1948”.












