Artikel · Potret Online

Menolak Lupa “Hasta laku”: Ketika Akar Peradaban Kalah oleh Egoisme Pribadi

Penulis Rina Cahyati
Mei 8, 2026
3 menit baca 9
IMG_1099
Foto / IlustrasiMenolak Lupa “Hasta laku”: Ketika Akar Peradaban Kalah oleh Egoisme Pribadi
Disunting Oleh

Oleh: Rina Cahyati*

Penduduk negara Indonesia sering dikatakan ramah, salah satu faktornya norma budaya yang kuat, yang telah terpatri dalam kehidupan sehari-hari. 

Manifestasi keramahan ini terlihat jelas di Provinsi Jawa, yang mewarisi tiga nilai lokal dalam falsafah budayanya, yang merupakan bagian dari konsep Hasthalaku atau Delapan Perilaku. 

Tiga nilai adiluhung tersebut, yaitu tepa selira yang artinya tenggang rasa atau empati, andhap asor yang artinya rendah hati, guyub rukun yang berarti hidup rukun.

Semua berakar dari kearifan lokal masyarakat Jawa yang telah ada sejak zaman Kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, semakin diperkuat pada masa Kesultanan Islam (Mataram Islam). Falsafah ini berkembang secara turun-temurun sebagai bagian dari tata krama untuk menjaga keselarasan dalam masyarakat yang bersifat kekeluargaan.

Namun seiring waktu berputar, apakah nilai-nilai itu masih tertanam dalam jiwa

masyarakat Indonesia khususnya pulau Jawa? Atau justru tererosi karena arus

modernitas dan egoisme individu serta kelompok masyarakat yang gemar membeda- bedakan?

Ironisnya, realitas menunjukkan munculnya paradoks antara nilai dan sikap beberapa oknum di masyarakat, baik secara individu maupun kelompok. Salah satunya adalah kecenderungan memandang rendah sesama hanya karena beragam sekat sosial, mulai

dari aspek fisik hingga status ekonomi. 

Sikap diskriminatif ini perlahan mengikis nilai tepa selira yang seharusnya menjadi tameng untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Padahal, luka dari perundungan tidak pernah sederhana; setiap kata tajam, tatapan sinis,

bahkan sikap merendahkan dari para oknum tersebut akan terus terbenam dalam pikiran korban, sulit untuk dilupakan karena terus berputar layaknya sebuah film dokumenter yang menyakitkan. 

Dampak jangka panjang dari pengikisan nilai ini adalah lahirnya generasi yang apatis, di mana kebencian dianggap biasa dan empati dianggap sebagai kelemahan.

Krisis empati ini amat menyedihkan. Saya mengalami sendiri sebagai salah satu

korban, bagaimana para korban kehilangan kepercayaan diri, dan saya juga melihat bagaimana para pelaku sebenarnya telah kehilangan nilai diri mereka. Keduanya sangat merugikan kedua belah pihak, karena luka batin dan hilangnya rasa hormat pada sesama

adalah kerugian besar bagi moralitas bangsa dan kemanusiaan. 

Bukan hanya kehilangan satu nilai, tapi semua falsafah Jawa itu semakin redup. Lunturnya semangat hidup rukun

yang tertanam, sopan santun yang hilang juga menjadi masalah yang sangat berbahaya.

Rasa sakit itu membuat saya banyak berubah, termasuk dalam memandang diri sendiri dan orang lain. Saya melihat orang lain terlalu sempurna, berbanding terbalik dengan diri saya sendiri. Bekas luka ini tidak hilang dalam sehari; ia membuat saya selalu merasa was-was dan sulit untuk benar-benar percaya pada keramahan yang ditunjukkan orang lain. 

Jadi saya sering mengisolasi diri, tidak peduli jika tidak mempunyai relasi.

Kesendirian yang dipaksakan ini sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri dari dunia luar yang semakin tidak ramah, sebuah ruang sunyi untuk melindungi sisa-sisa harga diri.

Namun, kearifan yang telah berabad-abad hidup ini belum sepenuhnya padam, dan saya percaya masih ada ruang untuk mengubah hal yang bisa kita ubah. Perubahannya tidak harus revolusioner, cukup mulai dari hal kecil seperti berhenti menghakimi seseorang dari penampilannya, serta tidak ikut menertawakan mereka yang terlihat

berbeda dengan diri sendiri. 

Sebab, leluhur kita mewariskan tepa selira, andhap asor, dan guyub rukun bukan sekadar untuk menjadi pajangan sejarah, melainkan untuk diterapkan dalam peradaban agar tercipta tatanan masyarakat yang harmonis tanpa ada

yang harus merasa terasing. Mari kita buktikan bahwa keramahan Indonesia bukan hanya basa-basi di permukaan. 

Saya berharap melalui tulisan ini, kita semua tersadar untuk kembali memupuk nilai-nilai lokal di Indonesia, termasuk di daerah Jawa ini. Jangan biarkan waktu dan egoisme menelannya sampai tak tersisa, karena kesempurnaan tanpa sikap menghargai, itu hanya membuat diri semakin menjauh dari sikap memanusiakan manusia.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Rina Cahyati
*Penulis adalah Peserta tantangan menulis Sigupai Mambaco edisi Mei, Saat ini berkegiatan di UPTD SPNF SKB Kota. Relawan melalui Indorelawan
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...